
"Kenapa kakak jadi panik seperti itu, biasanya kakak paling senang kalau melihat Syifa menderita" sindir adiknya.
"Siapa yang panik, Aku hanya ingin mengetahui kondisinya saja" ujar Bani mengelak.
"Itu sama saja, kalau kakak itu diam - diam peduli sama Asyifa".
"Terserah kamu saja" ujar Bani dan langsung masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintunya kembali.
Aku harus segera bilang ke Abah, bisa - bisa aku di tukung kakak ku sendiri. Gumamnya dalam hati.
Di dalam Kamar Bani begitu mengkhawatirkan kondisi Asyifa, Bani terus mondar - mandir di kamarnya. Bani kenapa kamu begitu cemas, harusnya kamus senang, jika dia sakit pasti akan di jemput keluarganya, dan otomatis kamu tenang dan bisa melupakan santri rese itu. ujar batin Bani.
Sementara di ruangan klinik pesantren, Asyifa masih terbaring namun rasa sakitnya sudah mulai berkurang.
"Sus Apa saya boleh kembali ke asrama ?" tanya Asyifa yang mulai bosan.
"Boleh, tapi Sebentar saya akan mengambilkan salep buat olesan di kaki kamu dulu" jawab perawat bernama Bella.
Perawat itu memberikan satu botol kecil untuk membantu menyembuhkan kaki Asyifa.
dengan bantuan perawat Asyifa berjalan menuju Kamarnya.
"Biar saya bantu" ujar usataz Aisyah saat melihat Asyifa yang kesusahan berjalan karena kakinya masih sakit.
"Terimakasih" sahut Asyifa dan perawat Bella bersamaan.
"Ada yang pincang nih" sindir ustazah Salwa.
"Salwa" bentak ustazah Aisyah yang tidak menyukai sikap Salwa.
"Maaf ustazah" ucap ustazah Salwa sambil senyum mengejek ke arah Asyifa. lalu pergi meninggalkan Asyifa dan yang lainnya.
"Jangan di masukin ke hati ya" ujar ustazah Aisyah. Asyifa hanya tersenyum tanda mengerti apa yang di ucapkan ustazah Aisyah.
Setelah mengikuti Shalat dzuhur berjamaah ustaz Bani ikut berkumpul di gedung utama membahas berbagai kegiatan. Semua pengurus pesantren ikut berkumpul termasuk Kyai Hasan juga ada.
Ustazah Salwa terus memperhatikan Ustaz Bani sambil senyum - senyum sendiri, Bani sadar bahwa dirinya sedang di perhatikan Salwa, hanya menggelengkan kepalanya dan merapalkan kata istighfar.
...*******...
Dua hari telah berlalu, kaki Asyifa sudah membaik, dan bisa mengikuti kegiatan seperti biasanya.
"Alhamduliah kaki aku sudah baikkan" ucap Asyifa.
"Alhamdulillah" sahut Mila dan Nayla berbarengan.
"Eh tau gak, gara - gara kamu kecelakaan kita di omelin loh" ujar Nayla.
__ADS_1
"Iya tau" sahut Mila.
"Siapa yang ngomelin kalian, Kyai Hasan?".
"Bukan tapi anaknya" ujar Mila yang masih kesal saat mengingat Fariz ngomelin dirinya.
"Anaknya ?" tanya Asyifa bingung.
"Iya kak Fariz". jawab Nayla.
"Kak Fariz juga yang yang menggendong kamu ke klinik, masa kamu gak inget" ujar Mila.
"Aku lupa, aku panik karena waktu itu kaki aku sakit banget" ujar Asyifa saat mengingat - ngingat kejadian tempo hari. "kak Fariz baik, tapi kenapa kakaknya macam beruang kutub" Gumam Asyifa pelan namun masih terdengar oleh Mila dan Nayla.
"Pasti berharap ustaz Bani yang nolongin" goda Nayla.
"Kalau dia yang nolongin bukan di gendong tapi di seret" ujar Asyifa ketus dan membuat kedua temennya tertawa terbahak - bahak.
"Eh kamu udah tau blom gosip terhot untuk hari ini .?" tanya Mila pada kedua temennya.
Karena tidak tau Asyifa dan Nayla kompak menggelengkan kepalanya. " Padahal ini gosip terhot dan ter ter pokoknya" ujar Mila lagi.
"Sejak kapan kamu jadi tukang gosip ?" ledek Nayla.
"Tau tuh gak boleh gibah dosa" timal Asyifa.
"Emangnya gosip apa ?" tanya Nayla yang mulai penasaran.
"Jangan gibah dosa" canda Mila membuat Nayla memonyongkan bibirnya. "Gosipnya ustaz Bani akan melamar ustazah Salwa" ujar Mila memberi tahu apa yang ia denger tadi.
"Apa ?" tanya Asyifa dan Mila kompak.
"Gak usah sok budek deh" ketus Mila.
"Bukan budek tapi gue kaget secepat ini mereka lamaran" ucap Nayla.
"Baguslah macan betina dan macan jantan bertemu ha ha ha " Asyifa tertawa sendiri.
Malam hari setelah Shalat Isya. Bani di ajak Abahnya ke ruang kerja yang ada di rumahnya dan di susul uminya.
"Bani gimana keputusan kamu ?" tanya Abahnya.
"Hasilnya sama seperti kemaren, tapi jika Abah dan Umi menginginkan pernikahan ini terjadi, maka Bani akan belajar mencintai dan menyayangi Salwa". ujar Bani dengan wajah yang sangat terpaksa.
"Umi dan Abah tidak memaksa kamu harus menikah dengan Salwa, hanya Umi dam Abah menginginkan melihat kamu cepat menikah" sahut Umi.
"Semuanya Bani serahkan pada Abah dan Umi, karena Bani tau, Pilihan Umi pasti yang terbaik" Ujar Bani lagi.
__ADS_1
"Abah mau menceritakan sesuatu sama kalian." ujar Abah. " Abah awalnya punya niatan untuk menjodohkan kalian, Kemudian tiba - tiba Ayahnya Salwa mengajak Abah untuk makan siang bersama, tadinya di situ Abah ingin menceritakan perjodohan kalian namum di luar dugaan ternyata Ayahnya Salwa juga punya pikiran sama seperti Abah ingin menjodohkan kalian. Abah sudah bilang pada Ayahnya Salwa bahwa semua keputusan ada di kamu, dan siap menerima apapun itu ke putusan di kamu" Tutur Abah menjelaskan.
"Bagaimana nak ?" tanya Umi pada anaknya.
"Bani terserah Abah dan Umi" ujar Bani pasrah.
"Bani keputusan ada di tangan kamu ?" ujar Abah dengan tegas.
"Bani gak mau mengecewakan kalian, Bani akan meneriman perjodohan ini" ujar Bani dengan raut wajah yang terpaksa.
"Nak jika ini berat buat kamu jangan lakukan,itu hanya akan membuat kamu tersiksa" ujar Umi.
"Bani lakukanlah sesuai hati kamu, karena yang menjalankan ini semua kamu bukan Abah tau Umi". Timpal Abah.
"Akan Bani pikirkan lagi, besok pagi Bani akan memberikan keputusannya" ujar Bani lalu keluar dari ruang kerja Abahnya.
Di ruang tv, Fariz sudah duduk santai di sana.
"Kak duduk sini, ada yang mau Fariz sampaikan pada kakak, Abah dan Umi" ujar Fariz sambil menarik tangan Kakaknya.
Tanpa banyak tanya, Bani mengikuti ke inginan adiknya, begitupun dengan Abah dan Umi yang langsung duduk di sofa.
"Apa yang mau kamu bicarakan ?" tanya Bani dengan wajah datarnya.
"Fariz mau, Abah dan Umi mengkhitbah seseorang buat Fariz" ujar Fariz dengan rasa bangganya.
"Serius ?" tanya Abah.
"Siapa wanita itu ?" tanya Umi.
Bani Hanya menatap lekat ke arah adiknya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Abah dan Umi mau kan ?" tanya Fariz lagi.
"Abah mau, tapi nanti yah setelah urusan kakak kamu selesai" ujar Abah dengan senyumannya.
"Oke Abah, terimakasih" ujar fariz Bahagia.
"Siapa wanita itu, nak ?" tanya Umi yang bener - bener penasaran dengan sosok wanita tersebut.
"Nanti akan Fariz kasih tau kalau urusan kak Bani sudah selesai" ujar Bani.
"Umi pemasaran nak ! seru Umi.
"Tapi masih Fariz rahasiakan" ujar Fariz sambil tertawa.
"Jangan bilang wanita dari dunia khayalan" celetuk Bani yang langsung mendapat cubitan dari adiknya. " Aww sakit " rintih Bani.
__ADS_1