
Hari terus berlalu, kehidupan Salwa dan Robby semakin membaik, Salwa tak lagi mendapat tekanan atau pun ancaman, karena semenjak kajadian tersebut Mamah Erni tak lagi bisa menghubungi Salwa. bahkan mamah Erni pun tak bisa menemukan alamat rumah baru Robby, Hal itu tentunya membuat mamah Erni semakin benci dengan Salwa, karena menurutnya Salwal lah yang mempengaruhi sikap Robby terhadap mamah Erni. Salwa lebih tenang dalam menjalani ke sehariannya
"Sayang besok pagi aku harus berangat ke kota A ada urusan bisnis di sana, mungkin tiga hari aku di sana, kamu gak apa - apa kan aku tinggal ?".
"Gak apa - apa ko mas, kan ada bi Tinah yang akan menemani aku" sahut Salwa.
Malam itu Salwa membantu Robby mempersiapkan segala keperluan Robby untuk di bawa besok. setelah itu melepaskan hasrat mereka sebagai pasangan suami istri.
Keesokan paginya, Robby telah siap untuk berangkat ke kota A, namun Salwa masih meringkuk di atas tempat tidurnya.
"Sayang bangun, aku harus segera berangkat, nanti aku ke tinggalan pesawat". ujar Robby.
Salwa pun mencoba membuka matanya yang terasa lengket di pagi itu. "Ya sudah berangkat saja, Aku masih ngantuk mas" sahut Salwa dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ya sudah aku berangkat, takut telat soalnya, kalau kamu mau keluar minta di anter sopir saja, nanti aku hubungi jika sudah sampai" ujar Robby lalu mengecup kening sang istri.
Setelah kepergian Robby Salwa kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. pagi itu rasanya ia sangat malas sekali untuk bangun.Hal itu membuat khawatir bi Tinah karena sudah waktunya sarapan pagi namun majikannya tersebut belum menampakan batang hidungnya.
Bi Tinah pun mengetuk kamar Salwa.
"Bu ini saya bi Tinah, mau sarapan di kamar apa di bawah ?" tanya Bi Tinah dari liar kamar.
"Di bawah saja, tapi bentar ya bi kepala aku pusing banget" jawab Salwa.
"Ibu baik - baik saja kan ? Bibi boleh masuk gak bu ?".
"Masuk saja bi, gak di kunci ko" sahut Salwa.
Bi Tinah melihat majikannya terkulai lemas di tempat tidur, langsung di buat panik. " Ibu gak apa - apa kan ?".
"Bi sepertinya saya masuk angin deh" sahut Salwa.
"Ya sudah saya buatkan bubur dulu dan juga teh anget. nanti setelah itu ibu minum obat dan istirahat" ujar Bi Tinah. "Bapak tau kalau ibu sakit ?".
"Jangan kasih tau Mas Robby ya, kasian dia sedang ada kerjaan di luar kota" ujar Salwa menohon. "Bi boleh minta tolong kerokin saya" sambung Salwa.
__ADS_1
"Boleh bu".
"Minyak nya ada di meja rias bi" ujar Salwa.
Selesai kerokan Bi Tinah kembali ke dapur untuk membuatkan bubur sedangkan Salwa memilih kembali untuk berbaring, hingga ada tenaga untuk turun dari tempat tidurnya.
Tiga puluh menit kemuadian bi Tinah kembali dengan membawa semangkuk bubur, sop iga, dan segelas teh hangat.
"Makasih ya bi".
Namun saat baru beberapa suap makan, Salwa malah mengeluarkan kembali makanannya. Salwa berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan seisi perutnya.
"Bu, Ibu baik - baik saja kan ?" tanya Bi Tinah panik.
"Saya baik - baik saja, mungkin asam lambung saya sedang naik bi". jawab Salwa.
"Minum teh dulu ya, biar gak mual pagi" bi Tinah menyodorkan segelas minuman ke Salwa.
"Bu, lebih baik kita ke dokter saja ya atau saya beri tahu bapak saja ?".
"Ya sudah kalau gitu, Ibu harus ke dokter ya".
Salwa takut Bi Tinah akan memberi tahu suaminya hingga Salwa pun setuju untuk pergi ke dokter dari pada ia harus mengganggu suaminya bekerja.
"Iya nanti kita ke dokter, Salwa siap - siap dulu ya" ujar Salwa.
...*******...
Setiap Hari Fariz dan Rara selalu berangkat dan pulang bareng karena tempat kerja mereka berdekatan. Setelah mereka sah menjadi Suami istri, mereka tinggal di kediaman Rara.
"Sayang, semenjak menikah kita tinggal di rumah kamu terus, gimana kalau gantian kita nginep di rumah aku" ujar Fariz yang masih fokus dengan kemudinya.
"Hmm, aku malu jika harus tinggal di rumah kamu" sahut Rara.
"Kenapa malu ?".
__ADS_1
"Malu, aku belum bisa menutup aurat ku, sedangkan kamu tinggal di lingkungan pesantren" ujar Rara.
"Coba dulu belajar menutupnya, nanti lama kelamaan juga terbiasa" ujar Fariz. Sebenarnya Fariz tak mempermasalahkan jika istrinya belum menutup aurat, namun dari hati kecilnya, Fariz juga ingin melihat sang istri menutup auratnya, namun bukan karena dirinya, melainkan ke inginannya sendiri.
"Iya". sahut Rara singkat. "Oh iya, kontrak kerja ku tinggal tiga bulan lagi, aku akan coba kembali mengajukan resign, mudah - mudahan kali ini bisa, tanpa harus ganti rugi atau apa pun" ujar Rara.
"Amin".
Mereka pun sudah sampai di depan kantor Rara, kemudian Rara turun dan pamit untuk bekerja, tak lupa Rara juga mencium tangan sang suami.
Rara memasuki ruang kerja nya. ia juga tak lupa menyapa para rekan - rekan kerja nya.
"Pak bos sudah sampai apa belum ?" tanya Rara pada teman kerjanya.
"Belum".
Rara mengerjakan beberapa berkasnya, sehingga ia tak menyadari jika bosnya sudah datang. " itu bos sudah datang" sahut temen Rara.
Rara pun segera membawa setumpuk berkas untuk di bawa ke ruangan bosnya. dengan perasaan tak menentu Rara mengetuk ruangan bosnya.
"Masuk !".
"Pagi bos " Rara menyapa bosnya ramah.
"Ada perlu apa kamu sepagi ini mendatangi ruangan kerjaan saya ?".
"Saya cuma mau memberikan laporan untuk dua bulan ke depan" Jawab Rara dengan menyerahkan setumpuk berkas yang ada di tangannya.
Bosnya pun memeriksa berkas - berkas yang di serahkan Rara. " ini kan kerjaan untuk bulan depan, kenapa kamu kerjakan dari sekarang ?".
"Saya sengaja mengerjakannya dari sekarang, karena saya ingin resign".
"Kenapa kamu ngotot ingin mengundurkan diri ?".
"Saya kan sekarang saya sudah menikah, jadi saya ingin fokus mengurus rumah tangga".
__ADS_1
"Karir kamu sedang bagus ra, sayang jika kamu harus meninggalkan kerjaan ini" ucapan bosnya membuat Rara seketika menjadi diam. "Dengan susah payah kamu membangun karir kamu, sekarang sudah kamu dapatkan malah kamu tinggalkan hanya demi menjadi ibu rumah tangga, Rara sekarang ini jaman sudah semakin maju, banyak di luaran sana, pasangan suami istri yang sama - sama mengejar karir dan mempercayakan urusan rumah pada Asisten rumah tangga dan hasilnya keluarga mereka tetap harmonis". jelas Bosnya Rara yang memang tak menginginkan Rara mengundurkan diri dari kerjaannya. " Kamu sekolah jauh - jauh tapi ujung - ujungnya jadi ibu rumah tangga, sayang ijazah kamu jadi tidak berguna. sekarang lebih baik kamu bekerja kembali dan pikirkan matang - matang ke kembali keputusan mu itu" ujar bosnya Rara.