
Syifa kembali merasa beruntung memiliki suami seperti Bani. Syifa terus memperhatikan sang suami yang sedang menimang putra mereka. lantunan merdu sang suami mampu membuat sang putra dengan cepatnya terlelap tidur.
"Abang, kalau sudah tidur letakan saja di tempat tidurnya" ujar Syifa dengan mengecilkan volume suaranya.
Bani pun mengikuti perintah Syifa dengan meletakan Ghana di tempat tidurnya, berdampingan dengan Ghina yang telah terlelap terlebih dahulu.
Tiga bulan membuat Bani sudah pandai dalam merawat sang buah hatinya dari memandikan hingga mengganti popoknya. Syifa terus memperhatikan sang suami seraya tersungging sebuah senyum kebahagiaan.
"Ummah mau di gendong juga seperti mereka ?".
Syifa langsung mengalihkan pandangannya. "Apaan sih". ujar Syifa malu - malu.
"Ya Kali saja Ummah mau Abi gendong seperti Ghana dan Ghina. insya allah Abi kiat ko" ujar Bani mencoba mendekati sang istri dan menggodanya.
"Abang, apaan sih, sana cepetan mandi ini sudah sore" titah Syifa, ia mengalihkan membicaraan mereka.
"Kalau mau gak usah malu - malu dong" Bani terus saja menggoda sang istri.
"Abang !!".
"Iya Abang mau mandi ini juga" Bani mengecup pipi sang istri secara spontan dan langsung berlalu menuju kamar, Aksi Bani membuat Syifa terkejut dan juga tersipu malu. ia pun menyunggingkan senyuman karena suaminya selalu menjadi obat ketika dirinya merasa lelah dengan aktivitasnya.
Terjaga di malam hari sudah menjadi kebiasaan baru Bani dan juga Syifa, mereka akan selalu bergantian untuk terjaga di malam hari, karena ke dua buah hatinya akan sering bangun ketika malam.
Hampir dua tahun mereka menikah, ujian rumah tangga datang silih berganti, membuat Syifa dan Bani lebih dewasa dalam menghadapai setiap masalah datang menghampiri mereka, dari masalah ekonomi hingga hadirnya orang ketiga membuat cinta Syifa dan Bani semakin erat.
Selain Syifa, Bani juga merasa beruntung memiliki istri seperti Syifa, walau di lihat dari usia sang istri memang masih muda namun mempunyai pemikiran - pemikiran yang dewasa di luar dugaan Bani. entah apa yang akan terjadi dalam rumah tangganya jika ia menikah bukan dengan Syifa.
Bani menatap lekat kedua buah hatinya yang sedang tertidur dalam box bayi di samping tempat tidur mereka, lalu pandangannya beralih pada sang istri yang sedang tertidur di samping dirinya.
Syifa yang belum tertidur pulas pun langsung membuka matanya saat merasa ada yang memperhatikannya.
"Abang kok belum tidur ?" tanya Syifa.
"Abang jagain si kembar sayang".
__ADS_1
"Emang si kembar belum tidur juga ?" tanya Syifa lagi, kini pandangannya mengarah ke box tempat buah hatinya tertidur.
"Sudah tidur kok, cuma takut bangun lagi" sahut Bani.
"Abang tidur saja, si kembar biar Syifa yang jaga, besok abang harus kerja nanti ngantuk lagi pas kerja" ujar Syifa.
"Iya sayang" sahut Bani.
Malam yang gelap telah berganti dengan sinar mentari pagi, pagi ini Syifa telah terbangun, setelah shalat subuh berjamaah, Syifa langsung berlalu menuju dapur untuk membuatkan sarapan sang suami. Walaupun ada Bi Tuti tapi jika tentang urusan suami Syifa memilih mengerjakannya sendiri.
"Neng biar bibi yang sama saja" ujar bi Tuti.
"Enggak apa - apa mumpung si kembar masih tertidur" sahut Syifa.
Pagi ini Syifa masak sarapan nasi goreng special lengkap dengan telur mata sapi. dengan sangat cekatan Syifa pun menyelesaikan masakannya tepat waktu. semua sudah siap dan tertata rapih di meja makan.
Syifa berlalu menuju kamar mereka, terlihat sang suami sedang becanda dengan kedua buah hatinya.
"Abang sana siap - siap nanti berangkatnya kesiangan" ujar Syifa.
"Baik Ummah sayang" jawab Bani seraya tersenyum menggoda ke arah Syifa.
"Abang berangkat kerja ya, sayang" ujar Bani setelah selesai sarapannya.
"Iya, hati - hati di jalan" ujar Syifa.
seperti biasa Syifa dan kedua buah hatinya akan mengantar Bani sampai ke teras depan rumah mereka.
"Abi berangkat kerja dulu ya nak, anak Abi hak boleh nakal ya" ujar Bani seraya mengecup sang buah hati secara bergantian. setelah itu baru mengecup kening sang istri.
Syifa melambaikan tangannya. "Dadah, Abi. hati - hati di jalannya, cepat pulang juga Ghana dan Ghina tunggu". ujar Syifa, mereka baru masuk ketika mobil yang di kendarai suaminya sudah tak terlihat lagi.
Sebagai manusia biasa kadang Syifa juga merasa lelah, tubuhnya letih, ketika setiap hari harus mengurusi ke dua buah hatinya seorang diri. namun rasa itu hilang dengan sendirinya ketika melihat sang buah hatinya tersenyum.
...***...
__ADS_1
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari dan bulan demi bulan terus silih berganti. tak terasa usia kedua buah hatinya sudah menginjak usia sebelas bulan. dan Kini kedua buah hatinya sudah dapat berjalan dan berbicara sedikit - sedikit namun tak jarang Syifa mau pun Bani mengerti tentang ucapan sang buah hati. ke dua anaknya sudah dapat memanggil Abi dan Ummah walaupun mengucapannya belum begitu jelas.
Seperti biasa, ketika sore hari selesai mandi, kedua buah hatinya akan langsung makan, sore ini menunya bubur dan di campur sayuran dan juga daging ayam. kedua buah hatinya di letakan di kursi khusus bayi.
"Aaaaammmmmm" ujar Syifa agar anaknya mau membuka mulutnya.
"Anak Ummah pinter banget kalau makan" uajr Syifa memuji ke pintaran sang buah hati.
Tak lama, Bani pun pulang dari kantornya, melihat kedua buah hatinya dan juga istrinya, lelah dan letih pun langsung hilang, Bani bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum bertemu dengan kedua buah hatinya dan juga istrinya.
"Anak Abi lagi makan apa nih" ujar Bani seraya mendekat ke arah buah hati dan istrinya.
"Makan bubur doang Abi" sahut Syifa.
kedua buah hatinya kegirangan melihat Abinya datang, Ghana dan Ghani merentangkan tangan mengisyaratkan ingin di gendong.
"Makannya habiskan dulu, nanti Abi gendong deh" ujar Bani yang kini telah mengambil alih untuk menyuapi makan kedua buah hatinya.
Sudah menjadi kebiasaan, ke dua buah hatinya akan berebut di gendong oleh sang Abi ketika Bani berada di rumah, hal itu terkadang memancing Ghana dan Ghani rebutan tanpa ada yang mau mengalah, dan ujung - ujungnya keduanya menangis bersamaan.
Selesai makan, mereka pun bermain bersama Bani dan Syifa hanya memperhatikan kedekatan seorang bapak dengan anaknya.
di usia sepuluh bulan, Bani sudah membiasakan kedua buah hatinya tertidur di kamar yang terpisah, namun tetap bisa terpantau lewat sebuah alat yang langsung terhubung ke kamar Bani dan Syifa.
Malam semakin larut, rintik - rintik hujan membuat malam semakin sunyi, Syifa dan Bani baru memasuki kamar mereka setelah menemani kedua buah hatinya tidur.
Bani menatap sang istri seperti sedang meminta sesuatu.
"Apa harus malam ini ?" tanya Syifa.
"Ini malam sunnah sayang" bisik Bani.
Syifa pun tak memberontak saat tiba - tiba sang suami menggendongnya dan membawanya menuju ke tempat tidur.
"Ana uhibbuki fillah" bisik Bani di telinga sang istri.
__ADS_1
"Ana uhibbuka fillah".
...Tamat...