
Kaluarga Kecil Robby sudah banyak yang berubah, kini Salwa sudah mau melayani suaminya bahkan mereka juga kini sudah tdur satu kasur, Setiap pagi Salwa menyiapkan sarapan dan sore hari ia akan menyambut ke datangan suaminya, perubahan tersebut di sambut bahagia oleh Robby, setiap malam mereka selalu melakukan makan malam romantis, mereka seakan - akan pasangan baru jatuh cinta dan sedang kasmaran, bahkan minggu ini Robby dan Salwa berencana akan berbulan madu ke daerah sumba. semua persiapan pun di lakukan, hal itu pun di sambut baik oleh keluarga Salwa mau pun keluarga Robby, namun sebelum berangkat Robby berniat untuk mengunjungi rumah pak Umar.
...******...
Keluarga Kyai Hasan sudah berangkat sebelum adzan Ashar, karena perjalanan yang akan memakan waktu, mereka menggunakan satu mobil saja, karena yang ikut hanya keluarga saja, tidak mengajak dari pesantren. kepergian keluarga Kyai Hasan menjadi gosip hangat di lingkungan pesantren, ustazah Aisyah dan ustaz Ali mendapat banyak pertanyaan dari rekan - rekannya, namun mereka juga tidak tahu. mereka hanya menjawab "Mungkin urusan keluarga".
Tak ada persiapan yang special, bahkan Syifa berdandan ala kadarnya hanya di bantu oleh sang kakak ipar yang juga pandai dalam bersolek. tak ada keluarga besar hanya ada keluarga inti dan tak ada pakaian khusus. semua makanan di tata rapih oleh bi Ida di ruang tamu dan juga ruang makan. bahkan Abi dan Abian menambahkan sofa di ruang tamu karena takut tidak cukup.
Adzan Ashar berkumandang, keluarga Kyai Hasan menepikan mobil mereka di sebuah mesjid untuk melakukan shalat Ashar. begitupun dengan keluarga pak Umar mereka shalat berjamaah di rumah dan berdoa agar semuanya berjalan lancar tanpa halangan.
Keluarga Kyai Hasan sudah tiba, mereka di sambut oleh Pak Umar, Ummah dan Abian, sedangkan Shela menemani Syifa di kamarnya.
"Asalamualaikum" ucap kyai Hasan.
"Waalaikumsalam" jawab pak Umar, Ummah dan Abian Kompak.
mereka pun saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri mereka masing masing.
"Silahkan masuk" ucap Ummah pada keluarga Kyai Hasan.
Fariz dan Bani kompak mencari sosok seorang Asyifa, mata mereka memonitor seluruh ruangan namun tak ada sosok Asyifa. mereka yakin kalau Asyifa masih di kamar.
"Nak panggilkan Asyifanya " pinta Abi Umar pada Abian.
__ADS_1
Abian melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamar Syifa, mata Fariz dan Bani terus tertuju pada Abian ia ingin tahu dimana letak kamar pujaan hati mereka.
Syifa menuruni anak tangga di gandeng oleh Shela. gamis berukat warna pink muda menambah kesan cantik pada Asyifa, polesan make up yang sederhana membuat Syifa semakin mempesona. mata Fariz dan Bani langsung melotot saat melihat bidadari mereka menuruni anak tangga.
"Cantik banget" gumam Fariz tanpa mengedipkan matanya.
"Masya allah cantik sekali ciptaan mu" gumam Bani dalam hatinya.
Syifa duduk di apit ke dua orang tuanya. rasa gugup menyelimuti Asyifa. apalagi pandangan Fariz yang selalu tertuju padanya, membuat Syifa sedikit risih, berbeda dengan Bani saat ia duduk dekat orang taunya Bani tak lagi berani menatapnya, Bani menundukan kepalanya pasrah akan keputusan yang di ambil oleh Asyifa.
"Bismillah, kedatangan keluarga kami ke sini sebagai bentuk tali silaturahmi itu yang pertama, dan yang kedua kedatangan keluarga kami ingin mengkitbah Asyifa untuk putra kami, namun di sini kami punya dua putra, jadi kami serahkan pada Asyifa siapa diantara mereka yang akan kamu jadiakan pendamping hidup kamu" ucap Kyai Hasan langsung to the point.
"kami sekeluarga mengucapkan terima kasih karena Kyai dan keluarga sudah sudi datang di rumah kami, mohon maaf jika dalam penyambutannya tidak terlalu meriah. untuk memilih di antara dua putra pak kyai kami semua serahkan sepenuhnya pada Asyifa" ucap pak Umar.
Seketika keadaan menjadi hening, suasana pun menjadi tegang, keringat dingin membasahi tubuh Bani dan Fariz mereka sedang menunggu jawaban dari Asyifa. sedangkan Asyifa masih terdiam dalam hatinya ia sedang menyusun sebuah kata - kata.
"Nak ayo ngomong, nanti ke buru sore kasian mereka pulang jauh" bisik pak Umar di telinga Asyifa dan Asyifa hanya mengangguk setuju.
"Bismillah yang saya pilih adalah. ." ucapan Asyifa terhenti saat anak dari Zahwa memecahkan sebuah gelas.
"Aduh nak kamu apa - apaan si bikin malu saja" gerutu Zahwa pada anaknya.
"Nak sini duduk deket nenek" panggil Umi, sang cucu pun segera duduk dekat neneknya mencari perlindungan agar tak di omeli sang bunda.
__ADS_1
"Nah Zahwa biarkan Bi Ida saja yang membereskannya" ucap Ummah.
"Maafkan kelakuan anak kami ya" ucap Zahwa tak enak hati.
"Gak papa, namanya juga anak - anak" ucap Ummah.
Zahwa tetap membantu Bi Ida membereskan pecahan gelas tersebut, bahkan membantu mengelap minuman yang tumbah juga.
"Nak Syifa silahkan lanjutkan lagi" titah Kyai Hasan.
"Pertama Asyifa mau ngucapin terima kasih buat kak Fariz dan Ustaz Bani yang telah memilih Syifa, namun di sini Syifa harus memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidup Syifa, menurut Syifa ini bukan pilihan yang mudah namun Syifa harus tetap memilih, Syifa minta maaf jika pilihan syifa tidak sesuai ke inginan kak Fariz dan ustaz Bani. di sini Syifa memilih ustaz Bani sebagai pendamping hidup Syifa, dan untuk kak Fariz Syifa minta maaf karena jujur Syifa tidak punya perasaan apapun, Syifa telah menganggap kak Fariz sebagai kakak Syifa sendiri" ujar Syifa seraya tertunduk, ia takut kalau terjadi sesuatu antara kakak beradik tersebut.
Ketegangan pun terjadi Syifa bener - bener takut keputusannya akan membuat membuat keributan.
"Buat Syifa aku terima semua ke putusan mu, mungkin ini jawaban yang terbaik, walau ada rasa kecewa namun hati ini puas bisa mengungkapkan perasaan yang selama ini aku pendam sendiri, Selamat buat kak Bani dan Syifa semoga niat baik kalian di lancarkan" ucap Fariz berkaca - kaca. ingin rasanya ia pergi dari situ namun ia selalu ingat pesan yang di katakan Abah dan Uminya sebelum berangkat.
Fariz memeluk kakaknya yang duduk di sampingnya, Bani menyambut pelukan tersebut dengan ragu, ia masih belum percaya kalau Syifa memilih dirinya. "Selamat kakak yang di pilih Syifa, pesan ku jaga dia jangan buat dia menangis atau pun bersedih karena kakak akan berhadapan dengan aku" bisik Fariz pada Bani.
Umi menyematkan sebuah cincin di jari manis Asyifa, di situasi tersebut entah apa yang dirasakan Umi ada rasa sedih bahagia semuanya menyatu di dalam hatinya, bahkan ketika memakaikan cincin di jari Syifa, Umi tak sanggup membendung air matanya. karena merasa tak tega Syifa pun langsung memeluk Umi. " Terima kasih telah memilih Bani" bisik Umi yang hanya bisa di dengar oleh Asyifa saja.
🍃🍃🍃🍃🍃
Jangan lupa terus dukung karya ini dengan cara like, vote dan juga komen yang positif.
__ADS_1