Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 27


__ADS_3

Robby memberikan amplop tersebut pada pak Herman. namun ternyata Robby telah menyediakan beberapa amplop di dalam paper bag yang ia bawa, ada lima Amplop, yang pertama telah di berikan pada pak Herman. lalu ia juga memberikan pada Salwa, pak Wisnu, Bani dan juga Kyai Hasan.


Setelah mendapat perintah dari Robby, semua orang yang memegang amplop tersebut di perintahkan Robby untuk membuka amplop tersebut.


Dengan secepat kilat pak Wisnu, merobek amplop dan mencari isi amplop tersebut, di raihnya beberapa lembar foto dalam amplop itu. Pak Wisnu langsung membelalakan matanya setelah melihat foto tersebut, tubuhnya lemas tak berdaya dan tak mampu untuk berkata - kata.


Bani dan Kyai Hasan membuka amplop secara perlahan dan mengambil isi amplop tersebut, Bani dan Kyai Hasan juga terkejut dengan isi amplop dengan spontan Bani dan Juga Kyai Hasan melempar amplop beserta isinya.Umi melihat foto yang di lempar Bani dan Kyai Hasan berserakan di lantai pun ikut terkejut, dan langsung memandang Bani dan juga suaminya secara bergantian.


"Apa - apaan ini, ini tidak mungkin" teriak pak Herman dan seketika langsung pisan setelah melihat isi amplop yang di berikan Robby.


Salwa tak berani membuka isi amplop tersebut, apalagi melihat Ayahnya pingsan langsung menangis sejadi - jadinya, Ibu Yuli langsung menghampiri suami yang pingsan. dan meraih isi Amplop. dan seketika Ibu Yuli juga pingsan di samping suaminya, membuat Salwa semakin histeris. Robby hanya tersenyum penuh kemenangan dengan apa yang ia lakukan.


Keluarga Salwa mencoba menyadarkan Pak Herman dan juga Ibu Yuli. Umi dan juga ustazah Aisyah mencoba ikut menenangkan Salwa yang histeris.


Sepuluh menit berlalu pak Herman mulai sadar, dan di tenangkan oleh kerabatnya dan juga Kyai Hasan, sedangkan Robby hanya duduk manis menyaksikan kekacawan tersebut.


"Jelaskan pada kami semua apa maksud semua ini ?" tanya Bani tegas.


"Akan aku jelaskan nanti setelah ibu calon mertua ku sudah sadar" jawan Robby santai.


Salwa akan di bawa ke kamar oleh saudaranya namun dia menolak, ia ingin di situ menemani Ibunya yang masih pingsan.


pak Herman yang sudah sadar namun masih syok membuat dirinya ke hilangan kekuatan dan kata - kata.


Ibu Yuli sadar kemudian menangis histeris, Salwa memeluk ibunya namun langsung mendapat penolakan dari ibunya.


"Ibu maafkan Salwa" ujar Salwa terisak.


"Pergi sana, Kamu bukan anak kami lagi" usir Ibu Yuli.

__ADS_1


"Ibu hiks hiks hiks" ujar Salwa menangis dalam pelukkan istrinya pak Wisnu.


"Udah ya drama menangisnya, saja akan menjelaskan semuanya" ucap Robby membuat semua orang menoleh ke arahnya.


Dengan kekuatan yang tersisa Salwa berdiri melangkah ke arah tempat dimana Robby duduk.


"Sekarang kamu puas sudah merusak semuanya, apa lagi yang kamu inginkan hah ?" tanya Salwa.


"Sayang, duduklah, biar mereka tau apa yang kita perbuat" jawab Robby lembut. " tenang semua karena saya berbaik hati kama saya akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan, masa saya yang berbuat dan lelaki itu yang bertanggung jawab" ujar Robby menunjuk ke arah Bani.


"Saya tidak pernah melalukan apapun jadi kamu tidak perlu repot - repot untuk bertanggung jawab" ujar Salwa tegas.


"Kita tidak bisa mengelak semua bukti ada di foto".


"Bisa saja foto itu editan" teriak Salwa.


"Maaf sebelumnya, ini sudah malam lebih baik nak Robby jelaskan pada kami tentang foto tadi, biar kami bisa mengambil jalan tengahnya, tidak enak dengan tetangga kalau ribut malam - malam" ujar Kyai Hasan dengan tenang.


"Baiklah saya akan menjelaskan, benar kata bapak itu, ini sudah malam" ujar Robby menunjuk ke arah Kyai Hasan.


"Jadi empat bulan yang lalu saya bertemu dia di bangku taman sedang menangis, saya mencoba menengkan, menurutnya dia sedang sakit hati karena cintanya di respon dan terlebih lagi dia akan di jodohkan dengan seseorang yang dia belum ketahui, awalnya saya mau mengantar dia pulang, namun di gak mau pulang" Robby menjelaskan awal mula ke jadian tersebut.


"Akhirnya dengan terpaksa saya bawa dia ke apartemen milik saya, saya dudukan dia di ruang tamu, dan ternyata di meja ruang tamu saya ada minuman beralkohol, tanpa saya sangka ternyata Salwa meneguk minuman tersebut sampai dia mabuk berat". tutur Robby menjelaskan.


"Lanjutkan jangan berhenti" teriak pak Wisnu.


"Setelah Salwa mabuk berat, Salwa. terus menggoda saya, sebagai lelaki yang normal mana tahan saya di goda seperti itu, dan terjadilah di malam itu" ujar Robby.


"Bohong, semua itu bohong, dia yang mengancam saya" teriak Salwa.

__ADS_1


"Saya mengatakan apa yang terjadi, saya juga menahan dia untuk tidak terlalu banyak minum namun dia yang memaksa ko, kalau tidak percaya saya punya bukti rekaman cctv di ruang tamu, namun untuk di kamar saya tidak ada bukti" ujar Robby dengan penuh percaya diri.


"Bohong kamu bohong" teriak Salwa seraya masih menangis.


"Sejak kejadian tersebut, saya selalu berbicara pada Salwa, kalau saya akan tanggung jawab namun dia menolak karena dia hanya ingin menikah dengan lelaki pujaan hatinya" ujar Robby.


"Sawla apa semua ini benar ?" tanya pak Herman yang sudah mendapat kekuatan lagi.


"Ayah itu bohong itu hanya akal - akalan busuk lelaki bejat itu saja" ujar Salwa seraya menunjuk Robby.


"Maaf izinkan saya untuk berbicara" Bani kini mulai membuka suaranya.


"Silahkan" jawab Robby cepat dan singkat.


"Saya membatalkan Khitbah saya untuk Salwa, dan menurut saya ada yang lebih berhak dari saya untuk memiliki Salwa, jadi kami sekeluarga izin pamit pulang, karena kami tidak ingin ikut campur dengan masalah ini, kami tidak berhak" ujar Bani tegas,


Setelah berbicara seperti itu Bani berjalan ke arah orang tua Salwa, menyalami satu persatu orang tua Salwa seraya meminta maaf karena Bani telah membatalkan khitbahnya. Ibu Yuli memeluk Bani seraya meminta maaf tentang anaknya, tak lupa juga Bani meminta maaf juga.


Keluarga Bani menyalami semua keluarga Salwa dan pamit pulang, Kyai Hasan dan Bani paling terakhir keluar, langkah Bani terhenti karena tanga Bani di tarik oleh Robby.


"Terimakasih Bro, semoga kamu bertemu jodoh yang terbaik untuk mu" ujar Robby langsung memeluk memeluk Bani.


Tak lupa Robby juga meminta maaf pada Kyai Hasan karena ulahnya Bani jadi gagal untuk memiliki Salwa.


"Tak usah merasa bersalah, ini sudah suratan takdir sang maha kuasa kalau anak saya tidak berjodoh dengan Salwa" ujar Kyai Hasan sambil menepuk - nepuk pundak Robby.


Keluarga Kyai Hasan sudah pergi meninggalkan kediaman Salwa, di sana hanya ada keluarga Salwa dan Robby. Salwa menatap Robby dengan penuh kebencian.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2