Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 145


__ADS_3

Sementara Robby sedang menjalani meeting bersama beberapa rekan bisnisnya, entah kenapa perasaannya sangat merindukan sang istri. bayang - bayang wajah sang istri menghiasi pikiran Robby.


"Pak meetingnya kita tunda dulu, kita lanjut setelah jam istirahat" ujar Robby menutup acara meeting.


Meeting di adakan di sebuah hotel dimana Robby menginap. Robby pun kembali ke kamar hotelnya di ikuti oleh sekertarisnya.


"Tolong pesankan aku kopi dong, kepala ku pusing sekali" titah Robby pada sekertarisnya.


Lima belas menit sekertarisnya Robby kembali dengan membawa secangkir kopi, Skertarisnya pun meletakan kopi tersebut di meja.


"Itu kopi apa ?" tanya Robby.


"Kopi yang biasa bapak minum".


"Saya tidak suka baunya bikin kepala saya tambah pusing, saya ingin kopi hitam saja" ujar Robby. mencium aroma kopi susu membuat kepalanya semakin pusing tak karuan.


Sambil menunggu sekertarisnya. Robby pun menghubungi sang istri lewat video call.


"Sayang kamu mau ke mana ?" tanya Robby karena terlihat Salwa sedang di dalam mobil.


"Aku lagi di jalan, mau ke belanja buat keperluan dapur" jawab Salwa bohong.


"Kan ada Bi Tinah".


"Iya, tapi kalau bi Tinah pergi aku di rumah sendirian, jadi aku ikut saja" Salwa kembali berbohong.


"Kan katanya tadi pagi kamu pusing kepalanya, apa sekarang masih puisng ?".


"Itu tadi pagi sayang, ini kan sudah siang".


"Apa pusingnya pindah ke aku ya".


"Kamu sakit ?".


"Sakit, gak bisa jauh dari kamu".


"Jangan gombal mas, malu ada bibi dan juga supir" protes Salwa sambil tersenyum malu - malu saat di gombalin Robby. "Mas udah dulu ya, ini aku sudah mau sampai" ujar Salwa kembali berbohong, itu di lakukan agar Robby tak curiga padanya.


Robby menyeruput kopi hitam tersebut dengan penuh penghayatan, entah kenapa aroma kopi hitam tersebut membuat pikiranya tenang bahkan pusing di kepalanya pun seketika menjadi hilang.


Melihat adegan tersebut sekertarisnya Robby hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh dari bosnya tersebut.


Selama aku kerja bareng pak Robby baru kali ini liat pak Robby seperti itu, dan sejak kapan pak Robby menyukai kopi hitam, bukannya dia paling anti dengan kopi hitam. Gumam sekertarinya itu dalam hati.

__ADS_1


Salwa belum memberikan kabar baik itu pada suaminya, ia berencana akan memberi tahunya ketika pulang nanti. senyum merekah terus tersungging dari bibi Salwa. rasa syukur terus di panjatkannya atas semua anugrah yang ia terima.


"Bi jangan kasih tahu dulu mas Robby, nanti kita akan bikin kejutan buat Mas Robby" ujar Salwa.


"Bibi terserah ibu saja" sahut Bi Tinah.


Salwa duduk di ruang televisi sambil senyum - senyum sendiri, tangannya terus mengusap perut yang masih terlihat rata tersebut. Salwa belum memberitahukan kabar bahagia ini kepada orang tuanya, ia akan memeriksakan dirnya terlebih dahulu ke dokter, ia tak ingin keluarganya menerima kabar yang belum pasti takut kecewa di kemudian hari.


Bi Tinah melihat majikannya terlihat bahagia pun ikut bahagia. karena selama tinggal di sana bi Tinah selalu menjadi teman Salwa dalam mencurahkan segala keluh kesahnya.


"Bi Tolong buat kan jus jeruk ya" ujar Salwa pada bi Tinah.


"Iya Bu".


Ya Allah, terimakasih atas semua ke bahagiaan ini, penantian ku berakhir dengan kebahagiaan, hamba janji akan menjaga titipan mu dengan baik. doa Salwa dalam hatinya.


Salwa pun teringat dengan mertuanya yang selalu menginginkan kehadiran sang cucu. Aku harus segera memberi tahu mamah, pasti mamah seneng sekali dengan kabar ini. gumam Salwa.


...********...


Bagi Bani, tidak ada yang nikmat yang lebih indah dari pada bisa duduk berdua, tafakur dalam lantunan zikir serta doa bersama kekasih halalnya. Bani dan Syifa memasrahkan semua takdirnya pada yang maha kuasa. Bani dan Syifa sedang menikmati masa - masa berdua, keduanya tak mempermasalahkan kenapa Syifa tak kunjung hamil. yang terpenting mereka sudah ikhtiar dan sisanya mereka pasrahkan pada yang kuasa.


"Abang, pagi ini mau sarapan apa ?".


"Huhh gombal".


Syifa pergi ke dapur, menyiapkan menu sarapan sederhana untuk keluarga kecilnya. tak ada kemewahan dalam rumah tangganya, yang terpenting kebersamaan mereka dalam suka mau pun duka. tak perlu mencari sebuah kebahagiaan, mereka hanya menciptakan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri.


Selesai sarapan pagi, Bani mah terlihat duduk santai di ruang kerjanya, tak seperti biasanya setelah sarapan ia akan langsung berangkat ke tempat kerja nya.


"Abang kenapa belum berangkat ?" tanya Syifa heran.


"Nanti agak siangan" jawab Bani singkat.


"Tumben".


"Kamu lupa ya, hari ini Abi dan Ummah mau ke sini, dan nanti Abang sama Abi mau ketemu klien yang mengajak kerja sama dengan konveksi Abi" jelas Bani.


"Astagfirullah Syifa lupa bang" ujar Syifa seraya menepuk jidatnya.


"Masih muda udah pelupa" gerutu Bani.


"Kaya sendirinya saja gak pelupa !".

__ADS_1


Satu jam menunggu, akhirnya Abi dan Ummah pun tiba di rumah Bani dan Syifa.


"Asalamualaikum" ucap Ummah dan Abi.


"Walaikumsalam" jawab pemilik rumah. "Ummah Syifa kangen" ujar Syifa yang langsung memeluk Ummah.


"Sama Abi gak kangen ?".


"Kangen dong Abi" Syifa kini beralih memeluk Abi Umar.


"Sepertinya kita tidak bisa lama - lama harus segera pergi karena klien sudah nunggu" ujar Abi Umar melepaskan pelukan anaknya.


"Gak minum dulu gitu ?" tanya Syifa.


"Nanti saja na, titip Ummah nanti Abi jemput lagi".


Abi Umar dan Bani pergi meninggalkan rumah mereka. setelah mobil tak terlihat lagi, Syifa dan Ummah pun memasuki rumah mereka, namun langkah mereka terhenti karena ada orang rame - rame di jalan.


"Ada apa ya ko rame - rame ?" tanya Ummah.


"Syifa gak tau, kita lihat saja yuk".


Syifa dan Ummah pun menuju ke dekat pintu gerbang, mencari tau penyebab keramaian yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.


"Pak ada apa ini ?"tanya Syifa pada security yang menjaga rumahnya.


"Katanya ada maling yang ke tangkap" jawab security tersebut.


Syifa dan Ummah mendekat ke arah kerumunan warga.


"Ada apa ini bu ?" tanya Syifa pada tetangga rumahnya.


"Ini orang yang waktu itu ibu ceritain neng, ketangkap lagi beraksi di rumah ibu Hana, rumahnya kosong di tinggal liburan dan kepergok warga. ternyata pelakunya tinggal di sekitar sini, pantas saja kalau di kejar suka ngilang" jelas tetangga rumah Syifa.


"Astagfirullah" ucap Syifa dan Ummah yang terkejut dengan penjelasan orang tersebut.


"Lalu bagaimana pelakunya ?" tanya Ummah.


"Pelakunya babak belur di hakimi oleh warga yang kesal dengan ulahnya, dan sekarang pelakunya sudah di amankan oleh pihak keamanan kompleks dan sedang menunggu pihak yang berwajib" jelas tetangga Syifa.


"Alhamdulilah jadi tak perlu was - was lagi kalau mau pergi" ujar Syifa.


"Bener banget neng, tiap malam ibu suka was - was, apalagi kalau suami ada kerjaan di luar kota di rumah cuma ada saya dan anak - anak doang" ujar tetangga Syifa.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu, kita permisi" ujar Syifa.


__ADS_2