
Syifa kembali terbangun saat perutnya kembali merasa lapar, ia mencoba mencari suaminya namun tak ada di kamar, lalu Syifa turun ke lantai bawah dan ternyata suaminya sedang menikmati secangkir kopi sambil menonton acara televisi.
"Kamu sudah bangun" ujar Bani saat melihat istrinya sedang menuruni anak tangga.
"Aku lapar sayang" ujar Syifa.
"Ya sudah kamu mau makan apa biar Abang masakin ?" tawar Bani.
"Aku lihat dulu di kulkas ada bahan apa saja" ujar Syifa seraya berlalu menuju dapur.
"Eh neng Syifa, ada yang bisa bibi bantu ?" tanya Bi Ida yang sedang mencuci piring.
"Hmm Syifa lapar bi, di kulkas ada makanan apa saja ?" tanya Syifa.
"Masih lengkap neng, Ummah baru kemaren belanja" jawab Bi Ida.
"Bikin udang mentega enak kali bi" ujar Syifa.
"Neng mau udang mentega, ya sudah sebentar biar bibi buatkan" ujar Bi Ida.
"Makasih ya bi".
"Sama - sama neng".
Syifa kembali keruang televisi dan kini duduk di samping sang suami dan bergelayut manja di tangan sang suami.
"Katanya lapar mau makan apa ?" tanya Bani.
"Udang mentega".
"Ya sudah lepasin tangannya, biar abang buatkan dulu".
"Sudah di buatkan sama bi Ida, sayang".
Sementara di rumah Mamah Erni, Robby dan Salwa sudah bersiap - siap untuk kembali ke rumah sakit. mereka tak tega jika harus berlama - lama meninggalkan mamah Erni.
"Mas, kenapa mamah gak pernah mau di suapin sama aku, apa mamah masih membenci aku ?". tanya Salwa.
"Mungkin mamah gak mau kamu kecapean atau kerepotan harus mengurus mamah, kan kamu tau sendiri jika kamu lagi hamil besar, mamah juga gak mau kamu dan calon cucunya kenapa - kenapa" ujar Robby.
"Apa ia bener seperti itu ?" tanya Salwa yang kurang yakin.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat, gak usah mikir yang aneh - aneh" ujar Robby.
"Iya sayang" sahut Salwa.
Ia berharap jika mertuanya mau bersikap baik padanya bahkan mau menerima anak - anak yang ada di kandungan Salwa. tanpa bertanya kenapa ia bisa hamil kembar tiga karena itu semua kuasa sang ilahi.
ketika jadwal minum obat, Salwa menawarkan dirinya untuk menyuapi sang mertua, tak ada respon mau pun penolakan, hal itu membuat
Salwa sedikit lega. melihat Sang istri begitu telaten mengurusi mamahnya membuat Robby terharu, Salwa begitu semangat merawat mertuanya walaupun dirinya sedang hamil besar.
"Ini udah sore, Ummah dan Abi pamit pulang ya" ujar Ummah.
"Terima kasih, Abi, Ummah sudah mau ngejagain mamah" ujar Robby.
Sebelum pulang Ummah berpesan agar Salwa tak ikut menginap di rumah sakit, Ummah khawatir itu akan berakibat buruk pada kandungannya. namun Salwa bertekad akan tetap di rumah sakit untuk merawat mertuanya.
Ada rasa malu di dalam hati terkecil mamah Erni, Menantu yang ia dzolimi masih saja berbuat baik padanya, padahal dirinya telah banyak membuat sakit hati sang menantu, ingin rasanya meminta maaf namun karena gengsi yang tinggi membuat mamah Erni hanya diam saat Salwa sedang merawatnya dengan penuh kasih sayang.
...*****...
Rara sangat gelisah menunggu kabar dari kakaknya. karena sampai sore hari kakaknya belum juga memberi kabar tentang perempuan yang bersama suaminya dan juga tentang nomor yang selalu mengirim pesan nada ancaman.
"Kenapa kamu seperti gelisah sekali ?" tanya Fariz.
"Hmm lancar seperti biasa, oh iya tadi ada orang yang datang ke resto, beliau mengajak kerjasama gitu" jelas Fariz.
"Siapa, temen kamu ?" tanya Rara penasaran.
"Bukan, aku baru kenal tadi, namanya Leni" ujar Fariz menjelaskan.
Apa Leni itu sama dengan perempuan yang di foto itu. Batin Rara.
"Kerja sama dalam bentuk apa ?".
"Ia bersedia jadi supplier bahan - bahan untuk Resto, bahkan ia menawarkan harga yang lebih murah" ujar Fariz.
"Bagus dong keuntungan kita bisa semakin besar".
"Tapi aku berencana untuk menolaknya"
"Kenapa ?".
__ADS_1
"Aku merintis usaha tersebut dari nol, selama itu aku tidak pernah gunta - ganti supplier bahan - bahan makanan, karena aku percaya ada harga dan kualitas dan selama ini juga gak pernah tuh ada yang mengecewakan setiap pengiriman bahan - bahan makanan. lagian apa kata supplier langganan kalau aku tiba - tiba pindah. dan lagian aku tidak mengenal orang tersebut". ujar Fariz menerangkan.
"Hmm lalu apa katanya pas kamu menolaknya ?".
"Dia kekeh mengajak kerja sama, makanya besok dia akan datang lagi dengan membawa contoh kualitas bahan makanannya" jelas Fariz.
"Hmm boleh gak besok aku ikut ke resto ?".
"Untuk apa ?".
"Hmm bosen di rumah terus".
"Tapi kan kamu baru saja pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu" Fariz tak ingin istrinya kenapa - kenapa.
"Iya aku tau, aku di sana akan duduk saja, gak bakal ngapa - ngapain". Rara terus membujuk sang suami agar mengizinkan nya besok untuk ikut ke resto, ia sangat penasaran dengan perempuan bernama Leni tersebut.
"Kamu cemburu, tenang saja besok aku akan menemui nya bersama kak Bani".
"Ih siapa juga yang cemburu, geer deh". ah, siapa sih perempuan yang tak cemburu dengan perempuan yang dekat dengan suaminya. pasti semua perempuan juga akan merasakan cemburu, tinggal bagaimana cara mengatasi rasa cemburu tersebut.
"Cemburu juga Enggak apa - apa, itu artinya kamu bener sayang sama aku".
"Ah jadi ngelantur segala sih" protes Rara.
Fariz pergi ke kamar mandi, dan Rara langsung segera memberi info tentang wanita yang bernama Leni yang mengajak kerja sama degan Fariz, kepada kakaknya lewat chat. Rara juga di minta untuk diam - diam datang ke resto Fariz esok hari.
...*******...
Pagi hari Bani sudah persiap - siap untuk pergi. karena semalam Fariz menghubunginya untuk meminta bantuan karena ada orang yang mengajak kerja sama, Fariz tak ingin salah langkah dalam mengambil keputusan hingga ia melibatkan kakaknya dalam hal ini.
"Sayang, Abang berangkat dulu, nanti sore Abang jemput lagi" ujar Bani saat usai sarapan pagi bersama kedua mertuanya.
"Ya sudah hati - hati ya" ucap Syifa. ia mengantar suaminya hingga teras depan. setelah mobilnya tak terlihat lagi baru Syifa kembali masuk ke dalam rumah.
"Nak, Ummah dan Abi sepertinya akan kembali ke rumah sakit jagain tante kamu, kalau kamu bosan di rumah sendirian, kamu main saja ke rumah Shela" ujar Ummah.
"Syifa ikut saja ke rumah sakit".
"Jangan Nak, nanti Ummah dan Abah pasti sampai sore jadi kamu di rumah saja, kalau ikut nanti pas mau pulang tidak ada yang mengantar kamu" ujar Ummah
"Ya sudah, Syifa maen ke rumah kak Shela saja".
__ADS_1
Sementara Rara sudah bersiap untuk ikut Fariz ke resto, ia juga telah mengabari mamanya agar tidak datang ke rumahnya, karena ia akan ikut suaminya ke resto.