
Pukul sebelas siang, jalanan padat merayap, apalagi sebentar lagi jam istirahat pekerja kantor, sudah pasti akan macet. Syifa terlihat beberapa kali menutup mulutnya, kepalanya kembali terasa pening. tetapi kali ini rasa mual lebih mendominasi, perutnya serasa di jungkir balikan, mual dan ingin memuntahkan seluruh isinya.
Bani memperhatikan sang istri. mimik serta raut wajah Syifa memang berbeda dari biasanya. meski sempat memoles wajah dengan make up sederhana, tapi masih terlihat sedikit pucat. lelaki itu jadi sibuk memikirkan Syifa, ada apa dengan istrinya ? aneh dan tidak seperti biasanya. "Kamu beneran gak apa - apa ?" pertanyaan kembali bergulir untuk Syifa. belum yakin jika istrinya baik - baik saja, lelaki itu hanya khawatir, Bani takut Syifa kenapa - kenapa.
"Iya, Abang. Syifa baik - baik saja" sahut Syifa tersenyum tipis, namun Bani menatapnya dengan pandangan menyelidik, seolah tak percaya dengan jawabannya. "Kenapa sih, Abang lihatnya begitu banget ? Syifa baik - baik aja, Abang sayang" sambung Syifa.
Tiga puluh menit lebih setelah membelah jalanan yang lumayan padat, mobil yang di kendarai Bani sampai di depan sebuah butik, dan terlihat di sana Fariz dan keluarga Rara sudah menunggu kedatangan mereka.
"Maaf jika kami telat" ujar Umi pada semuanya.
"Iya gak apa - apa, Ayo masuk" sahut mamanya Rara.
Satu persatu keluarga yang ikut mencoba seragam mereka, mereka sibuk mencoba baju satu persatu, namun tidak dengan Syifa, ia memilih duduk di kursi, karena kepalanya kembali pusing.
"Kamu baik - baik saja ?" tanya Bani lagi melihat istrinya yang terdiam dari tadi.
"Syifa baik - baik saja" sahut Syifa seraya tersenyum.
Hampir satu jam mereka berada di sana, namun ketika mau pulang Bani membisikan sesuatu pada Umi dan Umi pun hanya terlihat mengangguk ketika Bani membisikan sesuatu di telinganya.
"Ayo kita pulang" ajak Bani.
"Umi mana ?" tanya Syifa.
"Umi mau pulang bareng Fariz, kita pulang duluan saja". Bani dan Syifa pun pamit pulang duluan pada Umi dan keluarga Rara.
Rara melihat raut wajah calon kakak iparnya berbeda dari biasa membuat ia bertanya pada calon mertuanya tentang keadaan calon kakak iparnya.
__ADS_1
"Umi, kak Syifa sepertinya sedang sakit ya, ko wajahnya pucat sekali ?".
"Umi juga gak tau, dari tadi pagi Syifa mengeluh sakit kepala, tadi di mobil saja dia seperti orang mual". jelas Umi .
"Kenapa gak di ajak ke dokter saja ?".
"Bani sudah membujuknya, namun Syifa menolaknya, makanya sekarang mau langsung ke dokter tanpa sepengetahuan Syifa, semoga ini pertanda baik". entah sejak kapan umi menaruh harapan besar tentang keadaan Syifa yang sekarang.
"Pertanda apa Umi ?" tanya Rara bingung.
"Semoga ini tanda untuk kebahagiaan" ujar Umi penuh harapan.
Rara mengerutkan dahinya, mencerna setia kata yang keluar dari mulut calon mertuanya. Sakit sebagai tanda kebahagiaan ? mana ada sakit sebagai tanda kebahagiaan. bantin Rara bertanya - tanya, bahkan ia tidak mengerti arti dari kebahagiaan yang di maksud Umi. Semoga kak Syifa baik - baik saja. doa Rara dalam hatinya.
Sementara Syifa merasa bingung, karena jalan yang di lalui suaminya dengan jalur yang berbeda. " Sayang, kita mau ke mana, ini bukan jalan menuju rumah kita atau pun rumah Umi ?" tanya Syifa sampai terheran - heran.
Mual dan mau muntah ? sakit kepala serta lemas dan malas ? apa mungkin itu tandanya ? dulu juga tandanya pusing. Batin Ali menebak - nebak. lelaki itu mengingat kejadian ketika Syifa pusing hingga mual muntah dan di tambah ia pernah membaca sebuah artikel tentang tanda - tanda perempuan yang positif hamil. sekian detik berikutnya sunggingan senyum tipis merekah dari bibir Bani. Dalam hatinya ia merapalkan harapan yang besar, jika saja apa yang dia pikirkan saat ini menjadi kenyataan.
Setelah perjalanan selama dua puluh menit, mobil yang di kendarai Bani memasuki sebuah klinik, membuat Syifa mengerutkan dahinya. kenapa suaminya membawanya ke sini. ucap batin Syifa.
"Abang, kenapa ke sini, apa ada temen abang yang sakit ?" tanya Syifa penasaran.
"Kita periksa ke dokter ya" bujuk Bani dengan senyuman manis tersungging di bibirnya.
"Tapi, Bang. . ".
"Abang tidak menerima bantahan, Sayang".
__ADS_1
"Iya kita ke dokter, Abang" Syifa pasrah. jika sudah mengeluarkan nada tegas begitu artinya Bani tidak ingin menerima penolakan. dan lagian mereka juga sudah sampai di klinik.
Masuk ke dalam Klinik, Bani segera mendaftarkan Syifa kebagian poli kandungan. Syifa sempat mengerutkan keningnya, bingung. kenapa malah ke poli kandungan ? kan dia hanya pusing saja.
"Bagaimana, dok ? istri saya kenapa ?" tanya Bani.
Dokter Yesi, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, sedang memeriksa Syifa. setelah tadi seorang suster memeriksa tekanan darah, sekarang dokter itu terlihat menekan perut bagian bawah Syifa. "Tidak apa - apa, pak. Asam lambungnya tinggi, jadi itu yang menyebabkan istri anda mual dan pusing".
Penjelasan dokter membuat Bani sedikit kecewa, berbeda dengan Syifa yang terlihat lebih santai. "Saya kasih resep obat, nanti tebus di apotek, ya pak. banyak istirahat ya, mbak. jangan telat makan dan kurangi aktivitas yang berlebihan" saran dokter itu pada Syifa.
Tak ada satu patah kata yang keluar dari mulut Bani ketika perjalannan pulang. Syifa paham jika suaminya sedang di landa kekecewaan. Syifa pun selalu merapalkan harapan yang sama. namun, apa daya jika yang menjadi dambaan belum allah berikan pada mereka.manusia hanya bisa merapalkan harapan, merenda keinginan, namun tidak boleh melupakan yang menjadi penentu utama adalah Allah Ta'ala.
Syifa masih tetap pada gemingnya. dia terlalu takut untuk sekedar membuka suara. guratan sendu di dua kelopak Bani masih tampak jelas. jadi Syifa lebih memilih diam dari pada salah bicara.
Sampai di rumah Umi sudah sore hari, Bani langsung membersihka badannya sedangkan Syifa memilih merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Abang ke pesantren dulu, sekalian salat asar berjamaah, kamu gak apa - apa abang tinggal" ujar Bani.
"Syifa gak apa - apa".
Saat Bani akan keluar dari dalam rumah, ia pun berpapasan dengan Umi yang baru saja datang.
"Gimana hasilnya ?" tanya Umi yang sudah tak sabar menunggu jawaban Bani.
"Syifa sakit Asam lambungnya naik, jadi itu yang nyebabkan Syifa mual dan pusing" jawab Bani lirih, sangat terlihat jelas gurat kecewa di wajah Bani. "mungkin Bani yang terlalu berlebihan dalam menanggapinya".
"Sabar ya nak, mungkin ini bukan rezeki kamu nak" sahut Umi memberikan semangat pada anaknya. bukan saja Bani yang merasa kecewa, namun Umi juga yang sudah menaruh harapan besar itu harus ikut menelan kekecewaan untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Ya allah betapa banyaknya cobaan yang menimpa rumah tangga anak kami, ujian silih berganti datang menerpa, semoga kau menaikan derajat mereka. doa Umi dalam hatinya.