
Kini Bani dan Syifa ikut gabung dengan teman - teman mereka. "Syifa kamu cantik banget" ucap Rani.
"Makasih" ucap Syifa seraya tersenyum.
"Mana suami kamu ?" tanya Melati.
"Itu dia sedang menemui temennya" jawab Asyifa, tak lama kemudian Bani datang menghampiri Asyifa, "Semuanya pinjem Syifanya dulu bentar ya" ucap Bani pada temen - temennya Syifa.
"Bawa saja, itu kan milik Kak Bani" ucap temen - temen Syifa kompak seraya menahan tawa mereka, Syifa hanya menunduk malu pipi tambah merona dengan tambahan blus on.
Bani memperkenalkan Syifa pada teman masa kuliahnya dulu, di situ ada Tio dan istrinya, ada Indra dan juga istrinya, dan ada juga Tama yang datang dengan pacarnya mungkin karena wanita yang ada di samping Tama belum di perkenalkan pada yang lainnya.
"Tama kapan di ajak ke pelaminan ?" goda Tio.
"Siapa ?" tanya Tama Bingung.
"Jangan pura - pura gak ngerti deh, itu yang di samping lo kapan di ajak kepelaminan" tegas Indra seraya menatap ke arah wanita yang duduk di samping Tama.
"Maksud kalian dia ?" tanya Tama seraya menunjuk ke arah wanita yang ada di sampingnya. yang lainnya langsung menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Ini adik gue, sembarangan kalian kalau ngomong" jawab Tama.
"Adik ketemu gede yah" goda Bani.
"Ehh buset, kalian gak percaya ya, ini adik gue Tiara, adik gue baru selesai kuliah di singapur beberpa hari yang lalu, sengaja gue ajak dia biar gak di kira jomblo sama kalian" jelas Tama menjelaskan siapa wanita yang ada di sampungnya.
"Ah masa " ucap Indra dengan suara menggodanya.
"Hmm iya kak, Aku tiara adik kandungnya kak Tama" ucap Tiara malu - malu.
"Haaa pinter juga si Tama biar gak di ledek ajak adik datang ke pernikahan temen" ucap Tio seraya menahan tawanya.
"Ahh yang penting gak datang sendirikan" ucap Tama bangga dengan idenya mengajak Tiara datang ke tempat resepsi Bani.
Acara berakhir pukul setengah sebelas malam, semua tamu undangan sudah pulang, Anggota keluarga sebagian sudah pulang hanya tinggal keluarga inti dari kedua belah pihak.
"Usta. . eh abang mandi duluan saja, Syifa mau membersihkan dulu sisa make up" ucap Syifa pada Suaminya. Bani pun menurut saja, setelah Bani selesai mandi kini giliran Syifa yang membersihkan tubuhnya, tak lupa juga Syifa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Bani duduk di tempat yang sudah di penuhi kelopak bunga mawar, Syifa keluar dari kamar mandi dan menuju meja riasnya.
"Kamu tidur suka pake krudung ?" tanya Bani.
"Hmmm" Syifa bingung mau jawab apa, sebenarnya kalau tidur Syifa akan membuka kerudungnya namun Syifa malu karena sekarang di dalam kamar itu ada Suaminya. Bani mendekat ke arah Syifa, jantung hati Syifa sudah dag dig dug tak karuan, apalagi saat Bani menempelkan kepalanya, Syifa dapat melihat dari pantulan kaca kalau mulut Bani sedang kumat - kamit, entah apa yang di baca namun mampu membuat Syifa merinding sendiri.
"Buka saja, gak usah malu, kita sudah sah ko" ucap Bani lembut, membuat tubuh Syifa bener - bener bergetar hebat. Ketika tangan Bani mulai memeluk Syifa dari belakang, Syifa langsung menutup mulutnya yang sebenarnya ingin teriak. Syifa kamu sudah menikah, jangan menolak ajakkan suami dosa itu. Gumam batin Asyifa. kemudian Bani menggendong tubuh Asyifa ke atas ranjang, dan membaringkannya di sana.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu ?" tanya Syifa dengan ragu.
"Ia silahkan" jawab Bani yang kini ikut berbaring di samping Asyifa.
"Apa seorang istri akan dosa, jika tidak melakukan malam pertama ?" tanya Syifa dengan sedikit ragu - ragu.
"Apa kamu belum siap ?" tanya Bani balik.
"Bukan itu" jawab Syifa cepat.
"Lalu ?".
"Saya , saya , saya ada tamu " jawab Asyifa dengan gugup.
"Bukan itu, tapi saya sedang datang bulan, Ini hari pertama , ketika tadi mandi siang saya lihat ada bercak darah" ucap Syifa dengan rasa takut kalau Suaminya akan marah karena mereka tidak akan melakukan malam pertamanya.
Ada rasa kecewa di hati kecil Bani, namun iya harus mengerti tentang kondisi istrinya, Bani menyembunyikan rasa kecewanya di dalam senyumannya. "Gak papa ko, lagian hari ini cape banget, kaki juga pegel banget kita berdiri terus tadi" ucap Bani agar istrinya tak merasa bersalah.
"A a abang gak marah ?" tanya Syifa heran.
"Untuk apa abang marah ? Nih kalau abang marah sama kamu, apa tamu kamu akan pulang, enggak kan ?" ucapan Bani membuat hati Syifa sedikit lega.
"Maafkan Syifa ya" ucap Syifa seraya menatap Suaminya.
"Gak papa, sekarang tidur udah malam, hmm tapi boleh dong kerudungnya di buka saja, biar nyaman tidurnya" titah Bani pada Asyifa, sebenarnya ia ingin melihat istrinya tanpa kerudung.
Dengan ragu Syifa membuka kerudungnya dan meletakan kerudungnya ke Sofa, Syifa kembali ke atas kasur, karena malu Syifa terus menunduk dan sesekali menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya.
"Jelek ya" ucap Syifa saat melihat Bani tak mengedipkan matanya saat melihat rambut Syifa di urai sebahu.
__ADS_1
"Abang" ucap Syifa seraya memegang bahu Suaminya.
"Ehh maaf, kamu cantik banget" ucapan Bani membuat Syifa bener - bener jadi salah tingkah.
Sebelum mereka tidur Bani mengecup kening istrinya, darah Asyifa langsung mengalir dengan deras saat kecupan itu mendarat di keningnya, Bani tak ingin melakukan yang lainnya ia takut jika tongkat saktinya akan beraksi.
Tidur berdua merupakan hal aneh bagi Syifa dan Bani, Syifa mengingat pesan orang tuanya kalau tidur jangan membelakangi suami. namun saat Syifa harus ngehadap ke suaminya detak jantung Syifa berdetak lebih kencang dari biasanya membuat Syifa susah tidur.
Syifa menatap Suaminya yang sudah terlelap tidur karena cape. Kalau lagi tidur tambah ganteng saja. Gumam Syifa.
Tangan Bani mulai memeluk Syifa dan menarik tubuh Syifa ke dalam dekapannya. Apa lagi ini. Gumam Syifa.
Syifa mencoba mengatur nafasnya, muka Syifa dan Bani hanya berjarak beberapa senti saja, bahkan Syifa dapat merasakan hembusan nafas Bani, namun lama - lama posisi tersebut membuat Syifa nyaman dan tertidur pulang di dalam dekapan sang suaminya.
Syifa dan Bani mereka sudah berada di alam mimpi, ponsel Bani terus berdering, namun belum dapat membangunkan kedua insan tersebut. Syifa kaget ketika terdengar ada suara ponsel berbunyi, pikirnya mungkin itu alarm, melihat jam dinding sudah pukul setengah empat pagi, Syifa ingin mematikan alarm tersebut, namun itu bukan alarm melainkan sebuah telepon dari Tio.
"Bang bangun, mas Tio hubungi abang tuh, takut penting" ucap Syifa membangunkan Bani dengan cara menggoyangkan tubuh Bani.
"Kenapa ?" tanya Bani yang masih setengah sadar.
"Mas Tio telepon" jawab Syifa.
"Mungkin dia iseng" tebak Bani yang matanya masih merem.
"Tapi iseng ko panggilanya sampai dua puluh kali lebih" ujar Syifa seraya menunjukan ponsel tersebut.
Dengan setengah ngantuk Bani mengangkat telepon dari Tio.
"Tio ini masih pagi, kenapa kamu mengganggu orang lagi tidur" gerutu Bani karena kesal waktu tidurnya di ganggu.
"Iya sory kalau ganggu, tapi ini ada yang penting yang harus aku sampaikan" ucap Tio di sebrang telepon.
"Katakan lah cepat aku masih ngantuk ini !" seru Bani.
"Bani kantor kebakaran, cepetan kamu ke tkp, aku dan beberapa karyawan sudah berada du tkp" ucap Tio panik.
"Jangan becanda kamu" teriak Bani, ia merasa becandaan Tio sudah keterlaluan.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Tio becanda apa serius nih ??