
Detik berganti menit, berganti jam dan berganti hari, kehidupan terus berjalan. Di antara rasa manis akan terselip rasa pahit, di antara tawa juga teriring segurat tangis dan di antara bahagia tersirat sebersit duka. melangkah bersama bukan selalu tanpa masalah. berjalan beriringan bukan berarti tak ada hambatan. waktu memang cepat sekali berlalu, seperti melesat dan tak terasa. Tujuh bulan mereka jalani bahtera rumah tangga, bahagia sudah pasti, tetapi duka juga kerap menyambangi, layaknya tanah datar, terdapat bebatuan serta kerikil yang menjadi sandungan jika tidak berhati - hati saat menapaki, maka akan terjatuh, tetapi bila bersabar melewati setiap rintangan, niscaya keberhasilan yang akan di dapat.
Syifa dan Bani menjalani rumah tangga dengan penuh kebahagiaan setelah serangkaian badai datang menerpa di saat usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Syifa sedang menikmati kehidupannya sebagai istri. kadang ada segelintir omongan yang kadang membuatnya merasa sangat down namun ia masih beruntung mempunyai seorang suami yang akan selalu memberikannya sebuah semangat dalam menjalani hidupnya.
"Sayang nanti kita liburan yuk" sahut Bani yang sedang berbaring dengan bantal paha sang istri.
"Tapi untuk apa ?" tanya Syifa.
"Namanya juga liburan ya buat bersenang - senang, terserah kamu mau liburan ke mana dan berapa lama" ujar Bani.
"Syifa tak perlu liburan, Syifa cuma mau kita bersama - sama selamanya dalam suka maupun duka".
"Tapi gak ada salahnya kita berlibur sayang, dari semenjak menikah, kita belum pernah bulan madu loh" sahut Bani dengan genitnya.
"Bulan madu itu buat pasangan yang baru menikah sayang"
"Tapi kita kan liburan sambil bulan madu yang tertunda".
"Tapi liburannya ke mana ?" tanya Syifa.
"Terserah kamu mau ke mana, ke bali juga boleh sayang". jawab Bani.
"Gak kejauhan sayang ?".
"Kita kan perginya bareng - bareng jadi gak bakalan berjauhan" sahut Bani genit.
"Abang mulai genit, pasti ada maunya" ujar Syifa.
"Gak papa genit sama istri, kan udah halal".
"Halal capnya dari mana ?".
__ADS_1
"Dari kua dong, kalau dari mui itu mah buat makanam atau minuman" jawab Bani.
"Oh iya bang, besok Umi menyuruh kita kerumahnya, katanya ada sesuatu yang akan di bicarakan".
"Soal apa ?".
"Umi gak bilang soal apa, cuma minta kita datang kerumahnya ba'da Asar" jawab Syifa.
Bani dan Syifa memulai pertarungan mereka di atas tempat tidur, suara erangan demi erangan membuat permainan mereka semakin panas, untung saja di rumah mereka hanya berdua jadi tidak ada yang bisa mendengarkan suara indah mereka. pertarungan itu berakhir tatkala mereka sama - sama merasa kelelahan, beribu - ribu benih Bani semprotkan pada istrinya berharap bisa tumbuh sesuai dengan harapan mereka.
...*******...
Sore hari Syifa sudah bersiap untuk pergi kerumah Umi dan Abah, hanya Syifa sedang menunggu suaminya pulang dari kantor. suara mesin dari mobil Bani seperti obat rindu bagi Syifa, saat mendengar Suara mobil berhenti di depan rumahnya, Syifa akan segera berlari dan menyambut sang suami dengan senyuman terbaik yang ia miliki.
"Wah istri abang sudah cantik" puji Bani pada sang istri.
"Trus tadi pagi gak cantik gitu" protes Syifa seraya memonyongkan bibirnya.
"Istri abang itu selalu cantik, gak mungkin kan kalau istri abang ganteng" seketika Syifa langsung mencubit perut suaminya.
"Biar tau rasa" ketus Syifa.
"Abang langsung mandi yah takut kesorean kerumah Uminya".
Saat Suaminya mandi Syifa dengan Sigap akan menyiapkan pakaian yang akan di kenakan sang suami. apapun ke butuhan Bani Siapa akan menyiapkannya, hal itu membuat Syifa merasakan menjadi seorang istri yang seutuhnya, melayani suami tidak hanya di kasur saja.
"Asalamulaikum" ucap Syifa dan Bani berbarengan saat mereka memasuki rumah Umi dan Abah.
"Waalaikumsalam" jawab Umi yang membukakan pintu untuk mereka. "Kalian sudah datang, ayo masuk" Umi mengajak Anak dan menantunya untuk masuk ke dalam rumah.
"Abah mana ?" tanya Bani.
__ADS_1
"Abah lagi di pesantren, tadi ada santri baru dan juga ada beberpa juga santri yang mau keluar" jawab Umi.
"Ya sudah Bani nyusul Abah ke pesantren" Bani pun pamit pada sang istri dan juga Umi untuk menyusul Abah.
Syifa pun duduk di ruang keluarga, keadaan rumah memang sepi tak ada orang, hanya ada Umi dan juga Bi Tuti yang berada di dapur.
"Fariz belum pulang ?" tanya Syifa.
"Fariz selalu pulang malam" jawab Umi.
"Kak Zahwa ke sini juga ?".
"Nanti habis magrib mereka nyampe" jawab Umi lagi. "Oh ya nak, gimana kamu sudah ada tanda - tanda hamil lagi ?" tanya Umi.
"Belum Umi" sahut Syifa lirih.
"Hmm sabar ya nak, yang penting kita ihtiar dan juga berdoa semoga di segerakan" ucap Umi merasa tak enak karena secara tidak langsung telah melukai hati sang menantu.
"Iya Umi" sahut Syifa pelan.
Entah kenapa pertanyaan sederhana itu benar - benar membuat Syifa merasakan sakit hati yang mendalam. Mungkin dulu Salwa juga sesakit ini, malah dia mungkin bisa lebih sakit dari ini. Gumam Syifa saat mengingat Salwa yang di katakan mandul karena belum kunjung hamil juga.
Setelah shalat isya semua keluarga berkumpul di meja makan, mereka melakukan acara makan bersama. keceriaan keluarga itu semakin lengkap saat terdengar celotehan - celotehan lucu dan juga polos yang keluar dari mulut Zayn.
"Abah dan Umi sengaja mengupulkan kalian semua karena ada sesuatu hal yang harus kami sampaikan pada kalian" ucap Abah Hasan yang memulai pembicaraannya.
"Jadi gini, buat Bani Abah hanya mau minta kamu kembali aktif untuk mengajar santri" pinta Abah Hasan pada Bani.
"Jujur Bani juga ingin kembali mengajar di pesantren ini. tapi mungkin tidak bisa setiap hari seperti dulu, Bani akan mengajar setiap malam Sabtu hingga malam minggu saja, jadi setiap minggu nanti Syifa dan Bani akan menginap di sini" jelas Bani. Bukan dirinya tak mau mengajar seperti dulu, namun sekarang kondisinya berbeda, dulu pagi dan malam Bani bisa mengajar dan siangnya Bani akan kerja. tetapi untuk sekarang Bani tak lagi bisa mengajar setiap pagi dan malam, karena Bani tidak tinggal di lingkungan pesantren lagi, dan kini Bani juga sedang di sibukan dalam hal kerjaannya, usaha yang Bani rintis kini telah semakin berkembang pesat, bahkan Bani juga harus siap memenuhi permintaan dari liar negeri. selain itu Bani juga harus siap membantu konveksi sang mertua yang kini di kelola oleh Abian. membuat Bani semakin sibuk dengan urusan perbisnisan, namun ia juga tak ingin tetap membantu keluarganya dalam mengelola sebuah pesantren.
"Abah setuju dengan ide kamu" Sahut Abah Hasan, ia mengerti tentang kesibukan sang anak.
__ADS_1
"Abah hanya ingin membahas soal pesantren ?" tanya Zahwa.
"Tidak nak, inti dari Abah dan Umi mengumpulkan kalian adalah ini semua tentang Fariz" ujar Abah seraya melirik anak bungsunya yang duduk di sampingnya.