
Pulang dari taman Salwa langsung memandikan mamah Erni karena mereka akan pergi ke sebuah mall untuk berbelanja perlengkapan bayi. setelah selesai mengurus mamahnya kini giliran Salwa yang mempersiapkan dirinya.hanya tiga puluh menit Salwa pun sudah siap untuk berangkat.
Salwa mengajak sang adik ipar untuk ikut, namun Tasya menolak karena ia sedang belajar untuk persiapan ujian. akhirnya Salwa mengajak asisten rumah tangga untuk ikut pergi ke Mall.
Mereka menuju sebuah mall terbesar yang ada di kota tersebut, Karena Robby tak ingin sang istri kelelahan ia pun berinisiatif membawa kursi roda untuk sang istri. Salwa duduk di kursi roda di dorong oleh Robby sedangkan mamah Erni di dorong oleh asisten rumah tangga.
Mereka berjalan beriringan menuju sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi. jujur Salwa sangat senang sekali karena bisa berbelanja keperluan bayi hal ini sudah ia tunggu - tunggu sejak awal ke hamilannya.
"Aduh mantu dan mertua kompakan yah duduk di kursi roda, hahaha kasian sekali" suara seseorang membuat mereka kompak menghentikan langkahnya.
"Orang ke mall itu jalan kaki biar biasa lari sana sini bukan pakai kursi roda, kalau pakai ginian mah gak usah banyak gaya" sambung seseroang tersebut.
Salwa menggenggam erat tangan mertuanya agar tidak perpancing emosinya. Robby memberi isyarat pada asisten rumah tangganya agar jalan saja dan tak usah menanggapi seseorang tersebut.
"Inget ya jeng sekarang kamu sudah di keluarkan dari gank arisan. masa iya kita punya anggota yang lumpuh, aduh apa kata orang nanti". ujar seseorang tersebut. Robby dan yang lainnya memilih untuk melanjutkan perjalanan mereka.
"Huh keluarga sombong semua, udah duduk di kursi roda eh ternyata bisu juga" ujar seseroang tersebut kesal karena omongannya tak di gubris sama sekali.
"Udahlah mah biarkan saja" ujar anak dari seseorang tersebut.
"Untung kamu gak jadi nikah sama anaknya, nanti bisa - bisa kamu di jadikan babu buat ngurusin wanita lumpuh itu" ujar seseorang tersebut kepada anaknya.
"Iya mah betul, kalau aku jadi si Salwa sudah aku tinggalin itu nenek tua yang gak tau diri itu".
ingin rasanya mamah Erni menghajar seseorang tersebut, namun Salwa mengisyaratkan agar diam saja jangan di tanggapi. seseorang tadi adalah jeng Mirna teman arisannya mamah Erni dan juga merupakan ibu dari shinta, perempuan yang pernah ia jodoh - jodohkan dengan Robby.
Jeng Mirna merupakan orang pertama yang menghasut mamah Erni agar membenci Salwa, tujuannya adalah agar anaknya Shinta bisa menikah dengan Robby. kini mamah Erni sadar ternyata jeng Mirna bukanlah teman yang baik. mereka hanya mengincar harta sang anak.
"Mamah sabar ya, omongan yang tadi jangan di masukin ke hati, orang seperti itu jangan di ladenin nanti juga kalau sudah cape pasti akan diam" ujar Salwa.
__ADS_1
"Iya nak" ujar mamah Erni.
Mereka sudah sampai di toko perlengkapan bayi, Salwa turun dari kursi rodanya agar mudah mencari perlengkapan bayinya.
Salwa memilih satu persatu baju untuk sang buah hati, dengan setia Robby mengikuti setiap langkah sang istri. mamah Erni yang yang awalnya hanya menunggu di tempat tunggu pada akhirnya ikut memilih mencarikan pakaian untuk calon cucu - cucunya.
"Salwa lihat yang ini bagus gak ?" tanya mamah Erni.
"Masya Allah mah ini imut sekali, mamah pinter deh milihnya, tuhkan kata Salwa juga apa mamah harus ikut". Mamah Erni hanya tersenyum melihat kebahagiaan di wajah sang menantu.
Satu jam berkeliling toko tak membuat Salwa merasa lelah. Robby sudah berkali - kali menyuruh sang istri agar menggunakan kursi roda lagi, namun berkali - kali juga Salwa menolaknya.
Semua kebutuhan sudah di beli, Robby pun mengantre untuk membayar semuanya sedangkan yang lainnya menunggu di ruang tunggu. sebelum pulang mereka memilih untuk makan siang terlebih dahulu, karena perut Salwa sudah minta di isi.
...*****...
Satu minggu setelah sidang pembacaan vonis, kini sidang itu kembali di gelar karena tim tuan Rico mengajukan banding, itu di lakukan demi mendapat hukuman lebih ringan dari sebelumnya.
"Bodoh !! kerja begini saja kalian tidak becus, percuma saya bayar kalian mahal - mahal" tuan Rico menuding tim pengacaranya.
"Saya sudah melalukan yang terbaik Tuan, tapi bukti yang mereka berikan ke pengadilan sangat banyak dan di situ tuan bersalah" ujar pengacara tuan Rico.
"Diam kamu !! bodoh kalian semua" ujar Tuan Rico emosi.
Bayu yang menghadiri sidang tersebut merasa lega karena akhirnya semua kebusukan tuan Rico terbongkar.
"Tuan sejak awal saya sudah peringatkan anda untuk tidak menganggu kehidupan Aisha. tapi tuan mengabaikannya, maka tuan harus siap menanggung resiko yang ada di perbuat". ujar Bayu saat berpapasan dengan tuan Rico.
"Diam kamu !! tunggu saja aku akan membalas semuanya" ujar tuan Rico menuding Bayu.
__ADS_1
"Saya tunggu tuan, tapi asal nanti siap saja untuk masuk ke dalam jeruji besi kembali" ujar Bayu seperti sedang mengejek tuan Rico.
"Kamu !!" pekik tuan Rico yang geram pada tingkah Bayu.
Bayu berlalu meninggalkan Rico, ia segera memberitahu hasil persidangan hari ini pada Aisha.
Tuan Rico berusaha menghubungi istri - istrinya namun tak ada jawaban, ia pun memutuskan untuk menghubungi nomor rumahnya.
"Di mana istri - istri saya ?" tanya Tuan Rico.
"Nyonya sedang liburan ke luar negri, mereka sudah seminggu dan belum pulang tuan" jawab asisten rumah tangga yang menjawab panggilan telepon. tiba - tiba tuan Rico menutup panggilannya secara sepihak.
Dasar perempuan gak tau diri, suami mendapat musibah malah enak - enak berlibur ke luar negri. gerutu tuan Rico kesal.
...*****...
Malam yang semakin larut, semua orang tengah menikmati waktu tidur malam yang di temani bunga tidur. namun hal ini berbeda dengan Syifa, ia tak bisa memejamkan matanya karena ia menahan rasa sakit di perutnya. Bani kembali terbangun dan terkejut saat melihat istrinya tengah meringis menahan sakit.
"Kamu kenapa sayang ?" tanya Bani.
"Perut aku sakit banget" ujar Syifa.
"Apa kamu sudah mau melahirkan ?" tanya Bani lagi.
"Enggak tahu" sahut Syifa. "Aduh sayang sakit banget, aku gak kuat lagi" ujar Syifa yang meringis kesakitan.
"Kamu tenang dulu ya, kita langsung ke rumah sakit sekarang". ujar Bani.
Tanpa mencuci muka terlebih dahulu, Bani langsung memakaikan kerudung yang simpel, lalu menggendongnya ke bawa untuk di bawa ke mobil.
__ADS_1
Bani dengan cepat langsung membawa sang istri menuju sebuah rumah sakit. sepanjang perjalanan Syifa terus merintih merasakan sakit hal itu membuat Bani semakin panik.