
Mata hari mulai bersinar terang, menghangatkan muka bumi. Syifa dan Bani sedang melakukan sarapan pagi. walau kadang ketika sarapan pagi Syifa selalu mual dan muntah. tetapi Bani merasa tidak terganggu jija tiba - tiba istrinya mengalami mual.
"Sayang nanti siang jadi ke kantor polisinya ?" tanya Syifa ketika mereka selesai sarapan pagi.
"Insya Allah jadi sayang, Abang mau masalah ini cepet selesai" jawab Bani.
"Abang, Syifa boleh ikut ?".
"Kamu di rumah saja sayang".
"Tapi, Syifa mau ikut sayang". Syifa terus merengek agar suaminya mengizinkannya ikut ke kantor polisi.
"Iya boleh" jawab Bani pasrah.
"Terima kasih sayang" ucap Syifa senang kemudian mengecup pipi suaminya tanpa ada rasa malu walau di meja makan ada bi Tuti sedang membereskan piring bekas sarapan Syifa dan Bani.
"Tumben nyosor ada bi Tuti loh yang ngeliatin" goda Bani. seketika pipi Syifa menjadi merah merona saat melirik ke arah Bi Tuti.
"Saking bahagianya" sahut Syifa malu - malu.
"Ya sudah, Abang berangkat kerja dulu, nanti kalau mau ke kantor polisi Abang jemput kamu" ujar Bani dan Syifa hanya mengangguk tanda mengerti.
Syifa mengantar suaminya berangkat bekerja hingga teras depan. "Semangat ya sayang kerjanya" ucap Syifa seraya mencium tangan suaminya.
Sampai di kantor Bani langsung menemui Tio, ia ingin Tio menghandle dulu kerjaannya hari ini karena dirinya ingin siap - siap untuk ke kantor polisi.
"Tolong handle kerjaan hari ini ya" pinta Bani.
"Mau ke mana lo ?".
"Kantor polisi".
"Mau jenguk mantan lo ?".
"Apaan sih lo, gue mau menyelesaikan masalah gue, kemaren suaminya Aisha datang kerumah gue" ujar Bani.
"Ngapain dia datang kerumah lo, bukannya gak ada urusan ya ?".
"Dia minta gue cabut laporan Aisha". terang Bani.
__ADS_1
"Wah enak saja dia minta main cabut saja, dia gak tau apa kelakuan istrinya seperti apa" gerutu Tio kesal saat tau Bani harus berdamai dengan Aisha. "Eh tapi bentar deh, bukannya suaminya Aisha gak peduli ya sama Aisha kenapa dia sekarang datang seolah - olah seperti pahlawan, tapi lebih tepatnya pahlawan kesiangan" ujar Tio jadi kesal sendiri.
"Mana aku tau, dia datang saja sudah membuat aku terkejut".
"Ehh orangnya gimana ?" tanya Bani dengan sosok suami Aisha.
"Ya begitulah, namanya Rico, ia sering di panggil tuan Rico. yang membuat ku kesal dia menyuruh ku mencabut laporan Aisha dan dia akan membayar berapa pun yang aku minta" jelas Bani.
"Orang kaya gitu loh, mereka pikir apa - apa bisa di beli dengan uang" gerutu Tio.
Sementara di kantor tempat Tama bekerja, ia sedang berusaha sedang menghubungi seseorang. setelah lama menunggu akhirnya panggilanya pun di jawab.
"Hallo, Apa bener ini tuan Rico Prakasa pratama ?" tanya Tama sopan.
"Iya benar saya tuan Rico, maaf ada siapa ?".
"Perkenalkan nama saya Tama, pengacara bapak Bani sekaligus orang yang menangani kasus Aisha" jelas Tama.
"Oh iya Pak Tama, bagaimana dengan penawaran saya ?" tanya tuan Rico.
"Karena kasus Aisah sudah masuk ke persidangan maka untuk mencabut laporan tersebut harus ada persetujuan dari terdakwa, maka dari itu saya minta tuan Rico yang terhormat untuk datang kekantor polisi untuk menanyakan hal ini pada Aisha langsung, apakah dia setuju jika kasus ini di hentikan dan Tuan Ricolah yang sebagai jaminannya" Tama menjelaskan dengan sangat hati - hati.
"Karena kita mengikuti prosedur yang ada. jadi gimana apa tuan setuju ?".
"Saya lebih setuju jika anda langsung mencabutnya, kalian bisa membayar orang dalam untuk mengurus ini semua, berapa pun yang mereka minta saya akan bayar".
"Maaf kami tidak bisa melakukan hal itu" tolak Tama. "Silahkan anda pilih mau datang ke kantor polisi atau kami akan melanjutkan kasus ini" ujar Tama tegas.
"Kamu mengancam saya !" seru Tuan Rico kesal.
"Saya tidak mengancam, saya hanya memberikan pilihan pada anda" ujar Tama. "Saya tidak banyak waktu untuk mengurusi hal seperti ini, jadi saya harap tuan Rico yang terhormat untuk segera mengambil keputusan" ujar Tama dengan menekan intonasi di bagian tuan Rico yang terhormat.
"Ya saya akan datang ke kantor polis" ujar tuan Rico dengan sangat terpaksa.
"Saya tunggu nanti pukul sebelas siang di kantor polisi xx dan jangan lupa kabari Bayu juga karena beliau sebagai keluarga Aisha" ujar Tama.
"Saya sudah malas berhubungan dengan dia" gerutunya kesal saat mendengar nama Bayu.
"Kenapa tuan ?".
__ADS_1
"Itu bukan urusan anda". ucap Tuan Rico lalu mematikan ponselnya secara sepihak.
"Uang uang dan uang" gerutu Tama kesal.
kemudian Tama pun bermaksud untuk menghubungi Bayu namun hal itu di urungkannya karena ada ketukan pintu dari luar.
"Masuk".
"Pak ada Tamu yang ingin bertemu dengan bapak" ujar Asistennya Tama.
"Siapa ?".
"Ia bernama pak Bayu, katanya beliau ada urusan yang penting, makanya beliau maksa ingin bertemu bapak" jelas Asistennya Tama.
"Suruh masuk sekarang, karena saya tidak punya banyak waktu" titah Tama pada Asistennya.
Tak berapa lama Bayu pun datang ke ruangan Tama dan duduk di hadapan Tama.
"Ada apa kamu datang ke sini, padahal baru saja saya akan menghubungi kamu ?".
"Saya mohon jangan cabut laporan Aisha" jelas Bayu.
"Kenapa ?" tanya Tama penasaran.
"Saya kasian dengan Aisha jika harus ikut dengan tuan Rico ke bali, dia pasti akan di sewakan lagi pada pria hidung belang di sana" ujar Bayu.
"Lah sudah tau Tuan Rico kejam, kenapa kamu malah memberi tahu keberadaan Aisha ?" tanya Tama heran.
"Awalnya mama ku hanya meminta kejelasan untuk setatus Aisha, Tapi ternyata tuan Rico malah berjanji akan memperbaiki rumah tangganya dengan Aisha dan berjanji akan memperlakukan Asiha dengan baik sepertu istri - istri yang lainnya" jelas Bayu.
"Kamu yakin dengan janji dia ?"
"Kalau saya sih kurang yakin" jawab Bayu jujur.
Tama kemudian menceritakan bahwa mereka akan datang ke kantor polisi bersama Tuan Rico.
"Jadi Bani menyetujui penawaran tuan Rico ?"
"Bukan menyetujui, tapi jika Aisha ingin ikut suaminya maka Bani akan mencabutnya namun jika tidak maka akan terus berjalan dan jika Bani mencabut laporannya ia pun tidak akan meminta bayaran sepeserpun dari tuan Rico" jelas Tama.
__ADS_1
Setelah mendapat penjelasan Bayu pun pamit ia akan bersiap - siap untuk mengunjungi Aisha di kantor polisi. begitupun dengan Tama ia segera membereskan berkas - berkas yang berantakan di meja kerjanya dan memasukan beberapa berkas penting untuk di bawa ke kantor polisi, Tama berangkat lebih dulu untuk membicarakan masalah ini ke pihak ke polisian. Tama juga menghubungi Bani memberi tahu waktu kapan ia harus ke kantor polisi. Tama sengaja tidak menjemput Bani karena tau Bani akan datang bersama istrinya.