Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 126


__ADS_3

Semua orang sangat terkejut dengan ucapan Aisha yang tidak sesuai yang di inginkan jaksa, Aisha langsung berlari keluar ruang sidang sambil tertawa sendiri dan untungnya masih bisa di tahan oleh pihak kepolisian. membuat persidangan pun di hentikan.


Aisha akan kembali di bawa ke tahanan, namun kini Aisha meronta - ronta menolak untuk di bawa.


"Jangan ganggu, aku tidak salah" ucap Aisha sambil teriak - teriak.


Karena Aisha yang sudah tak bisa di kendalikan hingga Akhirnya tim kesehatan dari bagian ke polisian pun memberikan suntik bius pada Aisha.


"Bang Aisha kenapa ?" tanya Syifa.


"Gak tau abang juga, Aisha masih di tangani oleh tim medis". jawab Bani.


"Aisha sepertinya depresi di tinggal adiknya" sahut Tama.


"Ah kamu kalau ngomong sembarangan saja" ujar Bani.


"Itu sih prediksi gue aja, lihat saja tampilan Aisha sangat kusut, bahkan tak ada gairah sama sekali. tadi pas kalian berpapasan saja Aisha tak mengeluarkan kata - katanya, dan tadi di tanya apa di jawab apa, tertawa tiba - tiba menangis" jelas Tama.


Tama,Bani dan juga Syifa di panggil oleh kepala kepolisan untuk segera mendatangi ruangannya, begitupun dengan Bayu yang juga ikut di panggil oleh kepala kepolisan. didalam sana kepala kepolisan menjelaskan kondisi Aisha.


"Jadi begini, Sepertinya terdawka Aisha mengalami gangguan mental, sebenarnya ini sudah terjadi sejak lama, namun gejalanya masih ringan hingga ia masih bisa mengontrol emosinya, namun keadaannya sekarang makin parah, kami akan merujuk terdakwa ke rumah sakit jiwa untuk pemeriksaan lebih lanjut dan agar mendapat penanganan yang benar. dan untuk kasusnya sementara akan di hentikan terlebih dahulu sampai kondisinya benar - benar pulih kembali. nah untuk itu saya meminta persetujuan dari anggota keluarga karena terdakwa tidak di dampingi oleh pihak pengacara" Kepala kepolisan pun menjelaskan semua yang di dapat dari pemeriksaan dokter ahli.


"Saya yang akan bertanggung jawab, karena bagaimana pun ia masih keluarga saya" ujar Bayu, ia bener - bener tak tega melihat kondisi Aisha yang sekarang.


Setelah semua urusan selesai, Aisha yang masih dalam pengaruh obat bius pun di bawa kerumah sakit jiwa sesuai rujukan dari pihak kepolisan. Bani, Syifa dan juga Tama ikut mengantar Aisha ke rumah sakit tersebut.


Aisha mulai sadar, namun kembali histeris ketika mengetahui tangan dan kakinya di ikat di sebuah ranjang, saat perawat melepaskan semua ikatan tersebut mulailah keadaan Aisha tentang.


"Adik ku sudah tidak ada, jadi tak ada yang menghalangi niat ku untuk menuju jalan bahagia ku" ujar Aisha seraya melompat - lompat ke girangan.


"Aku gak salah, aku bukan penyebab Adikku meninggal" ujar Aisha yang tiba - tiba menangis.


Syifa yang melihat Aisha dari dari balik kaca kamar pun ikut menangis ia bener merasa kasihan dengan kehidupan Aisha. Syifa yakin ia pernah mengalami hal yang mengerikan hingga membuat kesehatannya terganggu.


"Abang kasian Aisha" ujar Syifa seraya bersandar di bahu sang suami.


"Kita doakan saja semoga Aisha cepat sembuh" Sahut Bani seraya mengelus kepala sang istri yang di balut kerudung.

__ADS_1


Tekanan demi tekanan yang di alami Aisha membuat jiwanya terganggu, di saat harus kehilangan orang tua, berjuang hidup bersama sang adik, harus masuk penjara saat adiknya koma, dan Adiknya meninggal saat dirinya dalam penjara, itu semua bagaikan pukulan keras bagi dirinya.


Bani dan Syifa tidak langsung pulang kerumahnya, mereka terlebih dahulu mampir ke resto Fariz untuk makan siang, dan setelah itu mereka akan berkunjung ke rumah Abah dan Umi.


Di saat Bani dan Syifa masuk ke resto mereka di kejutkan saat melihat Fariz sedang menemani makan seorang wanita.


"Fariz sama siapa bang ?" tanya Syifa.


"Wanitanya seperti tak asing, tapi siapa ya" Bani mencoba mengingat - ngingat siapa wanita yang sedang bersama Fariz. "kita samperin saja ke sama " usul Bani.


"Jangan Bang, gimana kalau mereka sedang membicarakan hal penting" cegah Syifa. "Lebih baik kita duduk di samping meja mereka saja, kebetulan samping meja mereka kosong" sambung Syifa seraya menunjuk meja yang kosong di samping meja Fariz.


Bani dan Syifa bersikap seperti biasa saja, mereka pun memanggil pelayanan untuk memesan makanan.


"Pak Bani dan Ibu Syifa selamat datang di resto" sapa pelayan resto yang mengenali Bani dan juga Syifa sebagai kakak dari Fariz. Bani dan Syifa langsung memesan makanan dan minuman.


Sementara Fariz langsung keringat dingin saat mengetahui sang kakak berada di restonya. semua rahasianya pasti akan kebongkar.


"Kak Bani" Rara menyapa Bani.


"Tiara, Adiknya Tama". sahut Bani yang ingat bahwa wanita yang bersama dengan adiknya adalah adik dari temennya.


"Sering makan di sini ?" tanya Bani.


"Sering kak, kebetulan kantor tempat Rara bekerja ada di sebrang resto ini" jawab Rara.


"Fariz punya temen ko gak di kenalin ke kita sih" goda Bani.


"Aku Rara adiknya kak Tama" Rara mengenalkan dirinya pada Syifa.


"Syifa" sahut Syifa ikut memperkenalkan dirinya.


"Maaf kak, Rara gak bisa lama - lama, bentar lagi jam istirahat kantor akan segera berakhir" ujar Rara pamit kembali ke kantornya.


"Kapan - kapan maen ya kerumah" sahut Bani.


Rara pun sudah hilang dari padangan mereka, kini Bani mendekati adiknya yang dari tadi hanya terdiam, sedangkan Syifa lebih memilih untuk makan karena sudah lapar.

__ADS_1


"Punya cewek ko ngumpet - ngumpet" goda Bani pada sang adik.


"Kak kita hanya . . ".


"Hanya teman tapi mesra" Bani memotong pembicaraan Fariz. "Oh iya kakak baru ingat ketika kamu tiba - tiba datang kerumah Tama, itu berarti buat ketemu adiknya kan ?".


"Kak, Jangan bilang dulu ke Umi dan Abah ya, Ini masih proses kak" Fariz memohon.


Bani terus mendesak sang adiknya untuk bercerita dari awal kedekatannya dengan adik sahabatnya itu, karena terus di desak sang kakak akhirnya Fariz pun menceritakan dari awal pertemuanya hingga kedekatannya sampai sekarang ini.


"Jadi selama ini kamu merahasiakannya !". seru Bani.


"Bukan begitu kak, Fariz hanya menunggu waktu yang tepat buat cerita" sahut Fariz.


"Kapan kita akan melamarnya.?" tanya Bani.


"Nanti kak, jangan buru - buru, Rara kan masih punya kakak yang belum nikah, walaupun kak Tama mengizinkan Rara melangkahinya namun Raranya masih bingung" jelas Fariz.


"Nanti kakak akan bicara masalah ini dengan Tama" sahut Bani.


"Jangan kak, Biarkan Fariz dan Rara saja yang menyelesaikan semua ini, kakak fokus saja sama Syifa" Fariz menolak jika kakaknya ikut campur urusannya bersama Rara.


"Ya sudah, awas anak orang kelamaan di gantung nanti di ambil orang" sahut Bani dan berlalu meninggalkan Resto Fariz dan langsung menuju kediaman Abah dan Umi.


"Gak nyangka si Fariz sudah punya gebetan". ujar Bani.


"Alhamdulilah dong, berarti bentar lagi Fariz akan menikah juga" sahut Syifa.


"Tapi ko bisa ya sama adiknya Tama".


"Namanya juga jodoh" sahut Syifa. "Abang juga kenapa memilih Syifa jadi istri ?" tanya Syifa.


"Itu sudah takdir".


"Nah begitu pun Fariz sama Rara, mereka juga sudah takdir dan juga jodohnya".


"Wah istri abang sudah pintar ya sekarang mah". sahut Bani.

__ADS_1


"Siapa dulu dong suaminya".


__ADS_2