Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 167


__ADS_3

Tidak ada hari yang lebih baik dari pada memulai hari tersebut saat subuh menyapa, lalu meraih citranya bersama. tafakur serta mensyukuri nikmat tuhan yang tak terbatas.


Sementara heing, embus semilir angin subuh menelisik, menggugah jiwa akan kewajiban bertemu dengan Rabb_nya, mana kala suara - suara lembut dan syahdu dari panggilan sang muazin terdengar, menyeru dan kadang mendayu serta nadanya merayu. segenap para hamba bersiap, mengadu takwa dalam setiap balutan jiwa.


Jika kau tahu, alangkah dahsyatnya citra subuh. saat matahari bersiap menggantikan tugas sang bintang, menerangi jagat. Allah pun berfirman dalam surah At-Takwir ayat kedelapan belas, "Dan demi subuh Apabila fajarnya mulai menyingsing". juga surah Al-Falaq Ayat pertama, "Katakanlah aku berlindung pada tuhan yang menguasai subuh".


Mengapa subuh sering di ungkapkan dalam berbagai ayat ? karena banyak sekali keutamaan dalam waktu subuh, dan bahwa shalat subuh itu di saksikan oleh para malaikat.


Dan pada shalat subuh ini malaikat bergantian menjaga atau terjadi pertukaran shif antara malaikat malam dan malaikat siang. lalu malaikat malam ini menghadap dan melaporkan langsung kepada Allah hal terakhir apa yang sedang di kerjakan hambanya di waktu subuh sebelum akhirnya di gantiakan oleh malaikat siang.


pekat malam akan berangsur sirna, berganti secercah cahaya. mata yang tadi tergadai dalam pejam. lamat - lamat terbuka, wajahnya sedikit kusut, namun jelas pancaran rona bahagia di lengkungan matanyanya, serta tangannya terulur menutup mulut yang sesekali masih memperlihatkan kantuknya.


"Asholatu khairum minannaum. . .".


Indra pendengaran Bani lamat - kamat mendengar suara azdan yang menggema dari masjid di kompleks rumahnya.


"Abang, bangun. subuh dulu". Syifa mengguncang halus lengan sang suami. wajar saja jika Bani masih pulas, pasalnya semalam mereka baru beranjak tidur saat pukul tiga dini hari, usai lelaki itu menyenandungkan bait - bait Alfiyah dan mengajari sang istri.


Masing sangat jelas dalam otak Syifa saat semalam Bani melantunkan bait - bait Alfiyah. apalagi di sertai makna dan sedikit rayuan. Ahh Syifa jadi ingin terus - terusan di rayu menggunakan rumus Nadhom Alfiyah.


*Faqod yakunaani munakkaroaini kama yakunaanimu arrofaini. Lantunan tartil nan merdu Bani semalam.


"Maknanya apa, bang ?".


"Maknanya, terkadang pasangan suami istri di pertemukan secara tidak terduga, tidak saling mengenal tapi sama - sama jatuh cinta".


"Kaya Abang dan Syifa dong. ya ?".

__ADS_1


"Enggak, kata siapa ? Abang enggak jatuh cinta sama Syifa".


" ih, Abang ini. . "


"Abang gak jatuh cinta, tapi jatuh cinta sekali sama Syifa*".


Dan senyum tersungging dari wajah Syifa saat teringat sepertiga malam tadi. saat sadar, tangannya kembali menepuk lembut bahu Bani.


Si pemilik tubuh menggeliat, merasakan guncangan halus. bukanya cepat menegakan tubuh dan bangun, tapi malah menarik sang istri ke dalam dekapannya. Syifa sampai yergagap, kaget.


"Abang, ih, bangun. nanti kelewatan shalat subuh, loh". gerutu Syifa atas ulah sang suami.


"Nanti dulu, lima menit lagi, sayang". sahut Bani serak dan malah mempererat dekapannya di tubuh sang istri.


"Abang, nanti ke tinggalan berjamaah di mesjid, loh". Peringatan Syifa. kedua telapak tangannya menepuk - nepuk pelan pipi sang suami. "Abang paham kan, kalau laki - laki itu wajib hukumnya memakmurkan mesjid". sambung Syifa lagi. kali ini matanya di buat melotot, tanda bahwa ia sedang tidak bercanda.


"Ih, apaan sih Abang ini. Kan yang peluk Abang, kenapa malah Syifa yang di suruh lepasin". Syifa memberengut.


protes Syifa di sambar tawa oleh sang suami, kemudian lelaki itu melepaskan pelukannya, Bangkit, bergegas siap - siap dan ke mesjid melaksanakan shalat subuh berjamaah.


Sebagian orang mungkin masih berasyik masyuk dalam lelap. mereka tidak sadar akan makna luar biasa saat subuh, saat di mana malaikat memulai mencatat amal perbuatan dari mulai membuka mata hingga tiba waktu ashar nanti.


Syifa melipat sajadah usai melaksanakan shalat subuh. pintu kamarnya terbuka dan Bani memasuki kamar mereka usai kembali dari mesjid.


"Asalamualaikum".


"Waalaikumsalam. Abang sudah datang".

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk pelan. langkahnya terdengar saat menuju laci dan mengambil sesuatu, yaitu Alquran.


"Sini, sayang, Abang mau bertilawah buat si kembar".Bani mengisyaratkan agar Syifa mendekat dan duduk di sebelahnya.


Syifa menurut. matanya mengamati sang suami yang sedang melantunkan Ayat - ayat Allah dengan suara yang tartil dan juga merdu. Syahdu merekah, memenuhi setiap sudut kamar. merasuk ke hati siapa saja yang mendengarnya.


indera pendengarannya pun di manjakan. terbuai dan tak ingin terhenti. Bani sangat khusyuk melantunkan surat Ali Imran bakda subuh ini. nadanya enak di dengar, kadang suaranya meninggi, kadang halus dan lembut, seolah sedang merayu sang penguasa jagat raya.


Pagi hadir menggantikan gulita malam. Syifa membuka jendela di setiap sisi rumahnya agar udara segar dari lelehan embun dapat masuk.


Setelah mendengar lantunan tilawah, Syifa turun ke dapur, untuk membuat segelas susu hamil dan juga secangkir kopi untuk suami. sedangkan untuk urusan masak sejak dirinya di nyatakan hamil, menjadi urusan Bi Tuti. Syifa hanya kadang membantu ala kadarnya karena suaminya terlalu posesif jika melihat istrinya bekerja yang berlebihan.


Syifa membawa secangkir kopi dan susu tersebut ke ruang televisi, dimana Bani sedang memeriksa kerjaannya. Syifa meletakan kopi dan susu di meja, lalu ia ikut duduk di sebelah suaminya.


"Abang, kopinya di minum dulu". ucap Syifa seraya memperhatikan suaminya.


"Iya, Makasih sayang". sahut Bani tanpa menoleh. kedua mata Bani masih fokus memeriksa kerjaannya.


Selesai sarapan Bani pamit untuk berangkat bekerja. "Nanti mungkin Abang akan pulang agak telat, ya sayang. ada beberapa urusan di luar kantor, salah satunya bertemu pihak investor yang akan menanam saham di perushaan garmen milik Abi, Kak Abian sibuk jadi kak abian meminta Abang buat nemuin pihak investor tersebut". Bani menjelaskan secara detail alasan kenapa akan pulang telat. ia tak ingin istrinya berpikir macam - macam tentangnya.


"Iya Abang enggak apa - apa. berarti abang enggak makan malam di rumah, ya ?".


"Sepertinya enggak sayang".


Jawaban Bani sedikit mengusik hati Syifa. Ah entahlah akhir - akhir ini Syifa menjadi lebih sensitif, gampang sekali merasa sedih. bahkan tiba - tiba bisa menangis tanpa sebab atau yang lebih parah, jika ada seseorang yang tanpa sengaja menyinggung hatinya dengan hal kecil, maka Syifa akan berpikir jika seseorang tersebut sedang marah padanya.


Tadinya dia hendak mengajak sang suami unti makan di luar, karena sudah lama mereka tak pergi berdua sejak Syifa hamil. Namun, angannya harus di tunda untuk saat ini. pekerjaan serta tanggung jawab Bani jauh lebih penting dari pada keinginannya.

__ADS_1


"Ingat Syifa, Enggak boleh marah, Enggak boleh emosi, Enggak boleh stres dan jangan merusak mood_mu sendiri. kamu sudah bangun subuh dengan rasa syukur dan senyuman ceria, jadi bertahanlah sampai tiba saatnya suamimu pulang jihadnya mencari nafkah, lalu berikan senyuman terbaikmu, hapus peluhnya, usah penatnya dengan kasih sayang serta cinta yang tulus" Batin Syifa.


__ADS_2