
kedatangan Fariz membuat Zidan merasa aneh, karena tak seperti biasanya Fariz akan berangkat sepagi itu.
"Tumben berangkat pagi ?" tanya Zidan.
"Perasaan gue lagi gak tentu, kak Bani lagi ngadain pertemuan dengan kak Tama, kamu tau sendiri Kak Tama adalah kakaknya Rara, gue takut kak Tama akan menceritakan kedekatan ku dengan Rara" ujar Fariz menjelaskan kecemasannya.
"Ya bagus dong, berarti ini sudah ada kedekatan satu sama lain jadi lo akan mudah mendapatkan lampu hijau dari keluarganya Rara karena mereka sudah mengetahui latar belakang keluarga kamu" ujar Zidan.
"Buka itu masalahnya, gimana kalau Kak Tama melarang aku untuk mendekati adiknya lewat kak Bani" tebak Fariz.
"Pikiran lo kejauhan, Kan lo tau sendiri kak Tama dengan kak Bani berteman, dan sekrang kak Tama membantu kasusnya kebakaran kantor kak Bani, ya jadi wajar - wajar saja jika mereka mengadakan pertemuan" jelas Zidan.
"Tapi kenapa gue gak di ajak membahas soal itu, kan aneh banget" sahut Fariz.
"Aduh Fariz, kan dari awal kak Bani tidak melibatkan kamu dalam perkara ini, dengan alasan keamanan resto dan juga biar kamu fokus ke pembukaan cabang. ya jadi wajarlah kamu tidak di ajak bermusyawarah, dasar orang yang lagi jatuh cinta, makanya secepatnya di resmiin hubungannya kalian, anak orang di gantung mulu" ujar Zidan.
"Kamu ini, suruh kasih solusi ke bukannya malah ngomel - ngomel" protes Fariz.
"Ah terserah lo saja, susah memang bicara dengan jomblo akut terus merasakan jatuh cinta" ledek Zidan.
Tiba - tiba ponsel Fariz berdering, dan tertera nama Rara di layar ponselnya.
"Rara hubungin gue, gimana kalau yang tadi gue katakan bener" tebak Fariz.
"Sekarang angkat telepon itu, jika tidak di angkat maka kamu akan mati penasaran" ujar Zidan.
"Gue takut" ujar Fariz.
"Sini biar gue yang angkat saja" Zidan merebut ponsel yang ada di tangan Fariz lalu menjawab panggilan Fariz.
"Fariz kamu di mana ?" tanya Rara dari sebrang telepon.
"Fariz ada di kantor" jawab Zidan, membuat Rara kaget karena yang menjawab panggilan teleponnya orang lain.
"Fariznya ke mana, kenapa jadi kamu yang menjawab panggilan ku, apa Fariz baik - baik saja ?" tanya Rara yang berubah menjadi panik.
"Dia baik - baik saja" jawab Zidan singkat.
__ADS_1
"Katakan padanya hubungi aku segera, karena ada sesuatu yang ingin aku biacarakan padanya" ujar Rara lalu menutup sambungan telepon tersebut.
"Tuhkan Rara ingin membicarakan sesuatu pasti ini ada kaitannya dengan pertemuan Kak Bani dan Kak Tama" ujar Fariz dengan wajah yang pucat pasi.
"Menurut ku tidak begitu, sepertinya Rara ingin minta penjelasan tentang hubungan kalian" ujar Zidan.
"Kenapa kamu mempunyai pikiran seperti itu ?" tanya Fariz penuh selidik.
"Hey Heyy Fariz kamu ini gak kenal seorang Zidan si petualang cinta, Mana ada wanita yang mau di gantung hubungannya gak jelas, pasti cewek juga minta kepastian lah" jelas Zidan, memang benar Zidan adalah seroang petualang cinta, di mana kuliahnya ia bisa dengan mudahnya berganti - ganti pasangan, namun sejak bertemu dengan kekasihnya sekarang Zidan berubah menajdi lelaki yang setia pada satu wanita saja.
"Jika pikiran mu salah bagaimana?" tanya Fariz lagi.
"Ya kalau gak benar ya salah, dan kalau gak salah ya benar, gitu saja simpel ko" seru Zidan tentunya membuat Fariz makin pusing di buatnya.
...*******...
Saat mendengar nama Aisha di sebut, Tama langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aisha cinta pertama lo, yang ninggalin lo dengan alasan kerja terus tiba - tiba ngilang tanpa kabar" ujar Tama dengan perasaan tang kaget.
"Iya dia" jawab Tio singkat.
"Dia tau, namun masih kekeh pengen balik sama Bani " ujar Tio menjelaskan, Bani masih sibuk berpikir untuk menghindari Aisha, karena takut hal itu akan menimbulkan Fitnah.
"Dasar wanita, bukannya dia juga sudah menikah ?" tanya Tama lagi.
"Ia sudah, dia jadi istri ke tiga, namun sering di siksa bahkan tubuhnya di jajahkan untuk lelaki hidung belang" jelas Tio. tentu membuat Tama merasa iba namun Tama masih kesal dengan tingkahnya yang mengganggu rumah tangga temennya.
"Kamu mau aku antar pulang saja" tawar Tama.
"Tidak usah, biarkan aku menyelesaikannya, jangan sampai kejadian ini merembet ke mana - mana, apalagi sampai istriku tahu" ujar Bani.
Dengan segala keraguannya akhirnya Tama melajukan mobilnya menuju kantor Bani, benar saja, di luar gerbang kantor Aisha sedang berdiri di bawah pohon rindang menunggu Bani keluar dari kantornya.
"Kalian tunggu di sini, biarkan aku yang turun sendiri" jelas Bani pada Tama dan Tio.
Bani turun dari mobil Tama, hal itu membuat Aisha kaget dan juga senang bisa bertemu dengan pujaan hatinya.
__ADS_1
"Bani, aku sudah menunggu kamu dari tadi, satpam itu tak mengizinkan aku untuk masuk ke dalam kantor mu, Bani izinkan aku bicara, aku mohon Bani" ucap Aisha memohon kepada Bani, saat tangan Aisha ingin merah tangan Bani dengan cepat Bani menghindar.
"Bicaralah, tak usah pegang - pegang tangan, karena aku bukan lelaki sendiri, aku sudah mempunyai istri dan juga calon ayah" ketus Bani.
Calon ayah, berarti istrinya Bani sedang mengandung, semakin sulit aku mendapatkan cinta Bani lagi. Gumam Aisha dalam hatinya.
"Apa lagi yang akan kamu biacarakan, sejak awal aku sudah memaafkan kamu, jadi tak perlu meminta maaf lagi" ujar Bani dengan wajah dinginnya.
"Bani aku hanya minta satu kali saja kesempatan untuk aku memperbaiki semuanya" ujar Aisha seraya memohon pada Bani.
Di dalam Mobil Tama dan Tio sedang fokus mendengarkan percapakan antara Bani dan Aisha.
"Lihat seperti itulah Aisha sekarang" ujar Tio.
"Kalau aku jadi Bani, sudah ku penjarakan wanita itu" ujar Tama ikut geram.
"Emang bisa kalau di laporkan ?" tanya Tio penasaran.
"Bisa lah, pakai pasal berbuatan tidak menyenangkan, atau mengganggu kehidupan rumah tangga" jelas Tama.
"Bani harus tau ini, biar dia melaporkan Aisha ke polisi, agar tak mengganggu rumah tangganya lagi" Seru Tio .
"Kesempatan untuk apa lagi Aisha ?" tanya Bani dengan nada yang sedikit kesal.
"Aku ingin kita seperti dahulu lagi !" Seru Aisha.
"Satu yang tak bisa kembali dalam hidup ini yaitu waktu, maka dari itu aku tak ingin kembali ke masa lalu ku, aku ingin bahagia bersama masa depan ku" ujar Bani dengan tegas.
"Tapi Bani, aku dan adik ku butuh sosok pelindung seperti kamu" jelas Aisha.
"Oh kalian butuh sosok pelindung, tapi rupanya kamu salah tempat dalam mencari sosok pelindung itu, harusnya kamu datang kekantor polisi, bilang kalau kamu butuh perlindungan, jika datangnya ke saya itu salah tempat karena saya bukan polisi yang harus melindungi setiap warga negaranya" jelas Bani, tentunya penjelasan Bani membuat Aisha kesal dan merasa di permainkan oleh Bani.
"Bani aku rela jadi istri kedua kamu, aku gak akan menutut apapun dari kamu" jelas Aisha seraya terisak, Bani kaget dengan penuturan Aisha.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Hayo tebak kira - kira apa jawaban dari Bani tentang permintaan Aisha.
__ADS_1
Jangan pada bilang " jangan pada bilang kalau Bani poligami aku berhenti baca" suka sedih kalau ada yang komen seperti itu.
Yakinlah jika Bani itu lelaki yang kuat akan pendiriannya.