Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 172


__ADS_3

Suara lantunan ayat - ayat Alquran menggema di ruangan aula pesantren, tempat di mana di adakannya acara tasyakuran. doa pun di panjatkan dengan penuh khidmat. selama acara berlangsung semua keluarga menyunggingkan senyum kebahagiaan.


Kyai Hasan memberikan sedikit tausyah tentang keutamaan wanita hamil dan juga cara mendidik anak. karena sejatinya tugas perempuan bukan hanya mengandung dan melahirkan, ada tugas yang lebih berat lagi yaitu dalam mendidik tumbuh kembangnya anak. karena perempuan merupakan madrasah pertama untuk anaknya.


Syifa menyimak setiap kata yang terucap dari sang mertua, sesekali tangannya mengelus pelan perutnya dan acara tersebut di tutup dengan doa yang di pimpin oleh ustaz Ali.


Para tamu yang hadir di acara tersebut pun di persilahkan untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan.


"Alhmdulilah acaranya lancar" ucap Bani dengan senyum sumringah.


"Iya, Alhamdulilah sayang". sahut Syifa.


Bahagia ? itu yang kini Syifa, Bani mau pun keluarga besarny rasakan. Bani dan Syifa masih tak menyangka jika mereka bener - bener akan mempunyai anak kembar. masih jelas dalam ingatan Syifa saat mendengar dokter menjelaskan dirinya hamil kembar, hal itu membuatnya seakan - akan tak percaya, namun seiring waktu berjalan dan Syifa selalu rajin kontrol tiap bulannya dan ketika usg terakhir kemaren Syifa dan Bani dapat melihat dengan jelas jika ada dua janin yang tumbuh dalam rahimnya. bagaimana bisa hamil kembar tapi tidak ada keturunan kembar, itu semua menjadi kuasa Allah ta'ala.


"Bani, Syifa dan juga Fari, Rara. kalian menginap di sini ya, mumpung Zahwa juga akan menginap, umi ingin kita kumpul bersama" pinta Umi pada anak memantunya. Bani dan Fariz kompak melirik istri mereka masing - masing dan Syifa maupun Rara mereka menganggukan kepalanya setuju.


Umi pun sangat senang ketiga anak dan menantunya mau mengingap di rumahnya, semenjak Fariz menikah dan tidak tinggal lagi di sana, umi merasa kesepian, karena di rumah hanya berdua dengan sang suami Abah Hasan, walaupun anak dan mantunya sering datang namun untuk menginap itu sangat jarang sekali.


Orang tua Syifa dan juga kakaknya pamit pulang, walaupun Umi telah menawarkan untuk menginap saja, namun mereka memilih untuk pulang saja, apalagi anak Abian dan Shela dari tadi rewel terus.


Berkumpul bareng keluarga, bercanda gurau bersamanya adalah momen indah dalam sebuah keluarga dan tak ternilai harganya. celotehan - celotehan polos yang keluar dari mulut Zayn menambah suasana semakin terasa hangat.


Rara kini bersadar di bahu Umi, ada rasa malu karena dulu pernah berprasangka buruk, namun nyatanya Umi tak pernah membedakan kasih sayangnya terhadap anak menantunya. Umi mengusap pelan kepala Rara, dalam hati sambil merapalkan doa agar menantunya segera di beri keturunan, Umi memang sangat berharap bisa segera menimang cucu dari Fariz, namun Umi tak pernah mengutarakan ke inginannya, Umi sangat menjaga perasan Rara. Umi hanya bisa berdoa agar di permudah segalanya dalam mendapatkan keturunan.


Malam semakin larut, Syifa dan Bani telah memasuki kamar mereka begitu pun dengan Rara dan Fariz, mereka juga ikut masuk dalam kamar.

__ADS_1


"Kenapa kok diam terus ?" tanya Fariz.


"Nggak kok, cuma lagi bingung" jawab sang istri.


"Bingung kenapa ?" tanya Fariz penasaran.


"Enggak kok, lupakan saja" sahut Rara lalu menarik selimutnya dan memejamkan mata dengan berbagai pikiran di otaknya.


Sementara di dalam kamar Bani sedang mengelus perut sang istri dan melantunkan shalawat untuk calon buah hatinya dan terkadang Bani juga mengajak bicara sang calon buah hati yang berada di dalam rahim sang istri.


"Sayang, boleh ya menengok nya" pinta Bani seperti memohon.


Syifa pun terdiam, entah harus menjawab apa, yang ia tahu menolak ajakan suami hukumnya dosa. "Tapi pelan saja ya" ujar Syifa malu - malu.


Semilir angin dan juga cahaya bintang yang bersinar seakan menjadi saksi di mana sepasang suami istri tengah memadu kasih dan cinta di atas tempat tidur. setiap desahan yang keluar dari bibir mereka, menandakan betapa mereka menikmati moment tersebut.


Adzan subuh berkumandang dengan sangat jelas, membuat Syifa terbangun dari tidurnya. namun saat melirik ke sampingnya ternyata suaminya sudah tak ada, ia sangat yakin jika suaminya sudah berangkat ke mesjid pesantren. Syifa terbangun dari posisi tidurnya, namun kini fokusnya pada selembar kertas dan juga pulpen yang ada di nakes. di raihlah kertas tersebut dan di baca isi tulisannya.


Maaf Abang pergi ke mesjid pesantren dulu. Abang mau bangunin kamu tapi tak tega, kamu tertidur sangat pulas. terima kasih buat yang semalam.


Syifa pun tersenyum membaca isi kertas tersebut. Abang ada - ada saja. gumam Syifa pelan.


Syifa bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya lalu melaksanakan shalat subuh, ketika Syifa baru keluar kamar mandi terdengar Umi mengajaknya untuk shalat subuh berjamaah di mesjid pesantren.


"Maaf Umi sepertinya Syifa shalat di rumah saja" teriak Syifa dari dalam kamar.

__ADS_1


"Oh ya sudah, Umi, Zahwa dan Rara berangkat dulu" ujar Umi.


Syifa mengeringkan rambutnya dengan handuk karena tidak ada pengering rambut dan setelah itu baru ia menunaikan shalat subuhnya.


"Syifanya mana Umi ?" tanya Zahwa.


"Katanya mau shalat di kamar saja" jawab Umi.


"Syifa sakit ?" tanya Rara.


"Tidak, sepertinya dia hanya lelah saja" sahut umi.


"Lelah kenapa ?".


"Karena habis acara kemaren" jawab Umi.


Selesai shalat subuh Syifa langsung ke dapur, dan terlihat Bi Tuti sedang sibuk memprsiapkan bahan masakan untuk sarapan pagi. Syifa pun membuat satu gelas susu hamil untuk dirinya, dan setelah itu duduk di ruang makan. Syifa memperhatikan bi Tuti sepertinya sedang sibuk sekali.


"Sini Bi biar Syifa bantu ya" ujar Syifa.


Syifa mengambil alih memotong sosis dan juga bakso untuk campuran membuat nasi goreng. setelah itu Syifa juga membantu mengocok telor untuk di dadar sebagai teman nasi goreng.


Acara sarapan pagi pun di mulai dengan doa yang di pimpin oleh Abah Hasan, tak ada suara ketika mereka makan, hanya terdengar suara sendok dan juga garpu yang selalu beradu dengan piring.


Usai sarapan, mereka berkumpul di ruang televisi menikmati hari libur mereka.

__ADS_1


"Syifa, waktu kamu di nyatakan hamil itu telat berapa hari ?" tanya Rara pelan seperti sedang berbisik - bisik.


"Syifa kehamilan ke dua ku, aku bener - bener lupa kapan terakhir haid, yang ku inget beberpa minggu sebelum dinyatakan hamil aku pernah haid tapi hanya plek saja" jelas Syifa,lalu ia menatap Rara dengan penuh selidik.


__ADS_2