
Acara berlangsung lancara walau ada drama dan air mata, semua orang turut bahagia walaupun Fariz kecewa namun dari lubuk hatinya ada rasa bahagia melihat kakaknya dapat menemukan pilihan hatinya. Ia tahu jika kakaknya paling susah untuk menyukai seseorang. Fariz menerimanya dengan ikhlas, bukan cinta yang ia taruh di hatinya namun hanya mengagumi sosok seorang Asyifa.
"Untuk penentuan tanggal dan bulan kita akan nentukannya di lain hari" ucap Kyai Hasan.
"Kami sebagai pihak perempuan akan menyerahkan sepenuhnya pada keluarga laki laki" ucap pak Umar.
"Baik kalau gitu".
Acara mereka di lanjutkan dengan makan - makan, Ummah sudah menyediakan berbagai menu makanan dan sudah tertata rapih di meja makan, acara makan berlangsung secara hening tanpa banyak bicara hanya sendok, garpu dan piring yang saling beradu. Bani dan Syifa tak ada yang berani saling pandang, mereka lebih banyak diam apalagi ketika Abah dan Abinya menggoda mereka.
Setelah makan mereka mengobrol ringan sembari menunggu adzan magrib, keluarga kyai Hasan memutuskan untuk shalat magrib di rumah pak Umar.
"Nak Syifa kamu, mau kembali ke pesantren lagi ?" Tanya pak Umar.
"Kalau nikahnya masih lama, mungkin kembali ke pesantren lagi" jawab Syifa malu - malu.
"Kode keras itu" goda Abian membuat pipi Syifa menjadi merona.
"Kalau Bani berencana acaranya akan berlangsung dua bulan lagi, jadi acara tersebut sebelum bulan suci ramadhan" ucap Bani mulai buka suara.
"Kalau Abi sih terserah kalian saja, asal jangan besok saja karena harus ada persiapan seperti mengurus berkas - berkas" ucap Pak Umar menggoda calon menantunya.
"Kayanya udah ngebet yah" goda Fariz.
Semua tertawa hanya Bani dan Asyifa yang kompak menundukan kepalanya menahan malu karena terus di goda.
Setelah melakukan Shalat magrib berjamaah yang di pimpin oleh Kyai Hasan karena Bani waktu itu Bani tidak siap jika ia harus jadi imam. Keluarga Kyai Hasan pamit pulang, sebelum pulang Syifa dan Bani telah bertukaran nomor ponsel.
"Boleh Syifa minta sesuatu ?" Tanya Syifa ragu pada Kyai Hasan.
"katakan saja".
"Syifa mohon untuk merahasiakan hubungan kami terlebih dahulu" pinta Syifa.
"Emang kenapa ?" Tanya Umi penasaran.
"Gak kenapa - kenapa tapi kan kata ustaz Bani pernikahan kita masih dua bulan lagi, jadi Syifa mau tinggal di pesantren sebulan lagi, kalau mereka tau hubungan kami, Syifa takut nanti jadi bahan omongan orang - orang" jelas Asyifa.
"Jangan Ustaz, panggilnya Sayang atau abang atau aa ke" Goda Fariz membuat pipi Syifa semakin merona.
__ADS_1
"Chiee gak mau jauh dari ayang mbeb makanya mau tinggal di pesantren" ucap Abian.
"Insya Allah kami akan merahasiakannya dulu" ucap Umi membuat Syifa menjadi tenang.
Setelah keluarga Kyai Hasan pulang, Syifa membantu Ummah dan Bi Ida membereskan semua piring kotor, tak lama kemudian pintu rumah mereka kembali di ketut.
"Siapa lagi itu ?" tanya Ummah.
"Gak tau, Biar Bian saja yang buka".
Abian membuka pintu rumahnya dan ternyata yang datang adalah Robby dan Salwa.
"Ayo masuk bro" ucap Abian.
"Asalamualikum" ucap Robby saat masuk rumah.
"Waalaikumsalam" ucap Abi Umar dan Ummah barengan. Robby dan Salwa menyalami Ummah dan Abi Umar secara bergantian.
"Kayanya abis ada acara ya ?" tanya Robby yang masih melihat banyak makanan tersaji di ruang tamu.
Awalnya Abi Umar ingin bercerita jujur namun sebelum menjawab pertanyaan Robby, Abi Umah sudah mendapat tatapan tajam dari Asyifa yang mengisyaratkan jangan bilang kalau habis ada acara Khitbah.
"Iya habis acara makan - makan aja sekeluarga, mumpung ada Syifa di rumah" jawab pak Umar berbohong.
"Tiga hari lagi ke pesantrennya" jawab Syifa seraya membereskan meja makan.
"Bro tumben maen ke sini ?" tanya Abian.
"Sekalian ngenalin bini, kan belum pernah di ajak ke sini"jawab Robby.
"Iya bener juga yah, usah isi belum ?".
"Doain bro, besok lusa mau bulan madu doain ya semoga langsung isi".
"Nikah kapan bukan madu kapan. Makanya tiap hari dong di pompanya kaya gue langsung tokcer" ucap Abian.
"Nak Salwa jangan sungkan anggap saja rumah sendiri" ucap Ummah. Salwa hanya mengangguk tanda ia mengerti.
Pandangan Salwa mengarah ke arah Syifa yang sedang sibuk di dapur, pandangan selama ini tentang Syifa yang terlihat manja atau anak mami ternyata salah besar, nyatanya Syifa masih mau bekerja membantu di dapur walaupun sudah ada pembantu yang mengerjakannya. bahkan Syifa begitu mahir dalam setiap pekerjaannya seperti yang sudah terbiasa melakukannya. Setelah selesai pekerjaannya Syifa ikut bergabung dengan anggota keluarga yang lain yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
__ADS_1
"Kak Shela mana ?" tanya Syifa.
"Lagi tidur, biasa jam segini tidur nanti malam begadang main kuda - kudaan" ucap Abian tanpa ada rasa malu.
"Jangan nomong kuda - kudaan kasian ada anak kecil di sini" protes Robby.
"Anak kecil itu sebentar lagi akan menikah" bela Abian dan langsung mendapat sorotan mematikan dari Asyifa.
"Yang bener ?" tanya Robby
"Benerlah dia kan belum nikah berarti dia akan menikah" jawab Abian.
"Kirain aku sudah ada calonnya".
"Sudah - sudah lebih baik kalian makan dulu sana, Robby ajak istri kamu makan" ucap pak Umar mengalihkan pembicaraannya.
"Ayo sayang makan dulu, masakan Ummah paling mantap pokoknya" ucap Robby menarik tangan istrinya.
"Kamu ini paling pinter kalau soal puji menuji" ujar Ummah.
"Ayo atuh makan, masa cuma kita berdua doang" ajak Robby.
"Yang lain sudah makan tadi, jadi sekarang kalian saja yang makan berdua, jangan sungkan ya nak Salwa kalau masih lapar boleh nambah" ucap Ummah, Salwa tak banyak bicara hanya tersenyum atau mengangguk saja. Hal itu membuat Syifa terheran - heran. "kak Robby pinter juga ya naklukin macan betina" ucap Asyifa dalam hatinya.
Setelah hampir satu jam berada di rumah Asyifa akhirnya Robby dan Salwa pu pamit pulang, tak lupa mereka pun meminta doa agar bulan madu mereka berjalan dengan lancar.
Sepulangnya Robby dan Salwa, Asyifa langsung pergi ke kamarnya merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, pandangannya ke arah cincin yang kini tersemat di jari manisnya. "Syifa kamu bentar lagi akan menikah, apa aku siap, kata orang malam pertama itu sangat menyakitkan". gumam Asyifa seraya bergidik ngeri ketika ia harus mengahadapi malam pertamanya nanti. Syifa akhirnya tertidur lelap di kamarnya.
...*******...
"Gak ada Syifa sepi ya ?" tanya Mila.
"Iya, kapan ya ia balik lagi " ucap Nayla.
"Si Syifa emang belom balik lagi ? tanya Rima. Ternyata percakapan antara Mila dan Nayla terdengar oleh yang lain karena pagi ini Mila dan Nayla sedang membantu masak di dapur.
"Belum, kata ustazah Aisyah dia pulang kerumahnya dulu buat proses penyembuhan" jawab Nayla.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Alhamdulilah sudah sampai bab 50 tapi sayang Syifa dan Ustaz Bani belum menikah, doakan supaya rencana menikah mereka berjalan dengan lancar.
terus dukung cerita ini dengan cara Like, bote dan juga komen positif.