
Kedewasaan memang tak harus selalu di ukur dari segi usia, namun kedewasaan itu bisa terlihat dari segi pola pikirnya, Begitupun dengan Syifa walaupun usianya masih sembilan belas tahun namun Bani merasa bersyukur jika istrinya punya pola pikir yang luas dalam setiap menghadapi masalah, walaupun kadang sikap manja dan kanak - kanaknya sering muncul namun Syifa selalu menempatkan sikap tersebut dengan baik, Syifa tak akan menunjukan sikap manja dan ke kanak - kanakan di hadapan keluarganya, namun berbeda jika Syifa sedang berduaan dengan Bani, ia akan terlihat lebih manja dan juga kekanak - kanakan.
Pernikahan bukanlah hal yang main - main hingga gampang dalam pengucapan kata cerai, pernikahan bersifat sakral, Akad yang terdapat dalam pernikahan bukan hanya janji pada keluarga melainkan janji pada yang maha kuasa dengan di saksikan ribuan para tamu undangan, maka dari itu Bani selalu berusaha menjadi suami yang baik dan selalu menjaga sang istri. ia akan menerima setiap kekurangan pasangannya karena semua itu atas pilihannya.
Berdzikir bersama dan melantunkan ayat - ayat al-quran, seraya mengusap perut istrinya yang masih rata, itulah menjadi rutinitas di pagi hari setelah sahur yang di lakukan pasangan Bani dan Syifa.
Pak Umar akan menyerahkan konveskinya pada anak - anaknya, dirinya sudah benar - benar tak sanggup untuk mengelolanya, usianya yang sekain tua membuat daya tahan tubuhnya pun semakin berkurang. Mau tak mau Abian sebagai anak tertua harus mampu bertanggung jawab, dan siap mengambil alih posisi Abinya, Sedangkan Syifa tak ingin ikut campur, ia menyerahkan semuanya pada suaminya. Anak dan menantu tersebut berjanji akan menjalankan amanahnya untuk mengembangkan usaha keluarganya semampu merekam, dan tentunya dalam bimbingan sang pemilik pertama.
"Apa abang bisa menjalankan amanah Abi" ujar Bani, dirinya masih ragu.
"Syifa yakin abang pasti bisa, asal mau belajar" sahut Syifa memberi semangat. Tiba - Tiba Bani ingin memeluk Syifa, namun dengan segera Syifa menahannya agar pelukan itu tidak jadi.
"Stop" ujar Syifa.
"Maaf Abang khilap" ujar Bani.
"Ngeles terus".
"Habisnya kalau deket kamu itu bawaannya khilap terus" Sahut Bani membela dirinya.
"Mana ada Khilap berulang - ulang, itu mah namanya kebiasaan" ujar Syifa.
Tak ada kemewahan yang mereka tunjukan untuk mencapai kebahagiaan, mereka ounya cara tersendiri untuk membuat pasangan mereka bahagia walaupun hanya dengan sederhana.
"Abang nanti pulangnya habis Ashar saja ya" ujar Syifa.
"Jalanan macet sayang, nanti kita bisa - bisa buka puasa di jalan" ujar Bani.
__ADS_1
"Hmm berarti kita pulang habis dzuhur nih" ujar Syifa dengan raut wajah sedih.
"Iya, kamu gak mau pulang ?" tanya Bani.
"Kalau di tanya gak mau pulang, pasti jawabanya ia, ini rumah masa kecil ku, tapi sekarang aku sudah punya keluarga, jadi mau tak mau aku harus ikut kemana imam ku pergi" jelas Syifa.
"Hmm kamu memang istri paling the best" puji Bani pada istrinya.
"Ah kalau gombal aja paling jago" ledek Syifa.
"Di ranjang Abang juga jago" sahut Bani.
"Ujung - ujungnya ke sana lagi, kesana lagi, inget loh abang ini lagi puasa" ujar Syifa.
"Kan sudah di bilang kalau deket istri Abang yang paling cantik mah bawaanya khilap mulu" jelas Bani seraya tersenyum menggoda.
"Terserah Abang saja lah" ujar Syifa dan berlalu meninggalkan suaminya yang masih duduk di taman belakang rumahnya.
"Kakak perhatikan dari kemaren sore kenapa kamu terlihat murung ?" tanya Aisha pada adiknya.
"Aku baik - baik saja" sahut Ayla.
Ayla benar - benar bingung, bahkan ia gak tau cara menjelaskan ke kakaknya bahwa orang di cari - cari oleh kakaknya ternyata sudah memiliki pasangan.
"Jika ada masalah kakak harap kamu bisa menceritakannya dengan kakak, apa kakak sudah tak di tubuhkan lagi oleh Ayla" ujar Aisha. ia bisa merasakan bahwa adiknya sedang dalam masalah.
"Ayla akan cerita, tapi kakak janji jangan marah" ujar Ayla.
__ADS_1
"Kakak janji".
"Maaf Ayla sudah membohongi kakak, sebenarnya setiap hari Ayla pulang sore itu bukan karena Ayla kerja kelompok di rumah teman tapi Ayla mencari Kak Bani, Ayla gak mau kakak sedih, Ayla ingin melihat kakak bahagia, maka dari itu Ayla diam - diam ngambil satu foto kak Bani dari kamar kakak" jelas Ayla, mukanya tertunduk takut kakaknya akan marah.
Aisha kaget mendengar penjelasan dari Ayla, Air matanya mengalir begitu saja. di peluklah erat sang adik. mereka pun terhanyut dalam suasana yang begitu menyedihkan.
"Kak, Ayla sudah bertemu kak Bani tapi kakak Bani sudah mempunyai pasangan" ucap Ayla seraya menangis.
"Kami bertemu di mana dengan mereka ?" tanya Aisha.
Ayla pun menceritakan bagaimana dirinya bisa bertemu dengan Bani, awalnya dirinya begitu senang bertemu dengan Bani, harapan kebahagiaan itu sudah di depan matanya, namun hal itu berubah seketika saat ada seseorang yang mengaku dirinya sebagai istri dari Bani, Ayla berlari, perasaannya hancur tak menentu, Ayla memikirkan perasaan kakaknya saat mengetahui jika Bani sudah mempunyai istri.
"Tapi sepertinya kak Bani tidak mengenali aku kak, Apa kak Bani sudah lupa dengan kita" ujar Ayla.
"Mulai hari ini kakak minta kamu jangan pernah temuin Bani lagi, biarkan itu menjadi urusan kakak" Bentak Aisha, perasaannya campur aduk, sejujurnya untuk masalah ini Aisha tak ingin melibatkan adiknya. namun nasi sudah menjadi bubur.
"Aku harap kakak biasa segera mencari penggantinya kak Bani, karena gak mungkin kakak bisa menikah dengan kak Bani, ia sudah memiliki istri" pinta sang Adik, ia tak ingin kakaknya menjadi perusak atau pun pengganggu hubungan rumah tangga, biarkan yang lalu menjadi pelajaran bagi keluarganya.
"Kakak sudah bilang, biar itu jadi urusan kakak, sekarang kamu lebih baik fokus pelajaran saja" bentak Aisha dan berlalu meninggalkan adinya di kamar.
Aisha berjalan menuju kamarnya, hatinya begitu sakit jika ada yang mengatakan kalau Bani sudah menikah, karena dalam hati kecilnya ia masih berharap bisa memilikin.
"Bani, kau harus tau selain aku ada adik yang membutuhkan sosok mu untuk menjadi pelindung kami" gumam Aisha dalam hatinya.
"Ya allah kalaulah maha pembolak - balik hati manusia, Ya allah lembutkanlah hati Bani, bukakanlah pintu hatinya, bukakanlah mata hatinya. lihatlah pada kami yang membutuhkan sosoknya sebagai pelindung untuk keluarga kecil kami" doa Aisha.
Cinta pertama memanglah tak mudah untuk di lupakan, namun seberapa pun besar cintanya ketika allah tak berkehendak maka cinta itu bisa saja hilang begitu saja, menyisakan kenangan indah di ingatan. Mencintai seseorang harus dengan sewajarnya saja, karena ketika cinta itu tak berpihak kepadanya maka sakitlah dan pikiranya.
__ADS_1
Akimu harus datang menemui Bani, aku harus bicara dengannya. gumam Aisha.
kemudian ia pun menyusun rencana agar dirinya bisa bicara dengan Bani tanpa harus ada sang istri yang selalu berada di samping Bani.