
Sampai di rumah sudah magrib,. Syifa pun langsung menuju kamarnya, rasa perih di perutnya akibat kuretasi tak lagi di rasakan, perasaannya berkecambuk, pertemuanya dengan Aisha membuat Syifa merasa dilema, antara mempertahankan dan juga merelakan.
Syifa masih mampu mempertahankan rumah tangganya, namun di sisi lain dirinya pun tak ingin menjadi wanita egois yang mementingkan kebahagiaannya sendiri. Untuk apa mempertahankan sebuah rumah tangga jika di dalamnya sudah tak ada kenyamanan, kecuali sama - sama memperbaiki diri untuk menciptkan sebuah kenyamanan itu.
"Nak makan dulu ya" titah Ummah.
"Belum lapar".
"Nak kamu boleh kecewa, kamu boleh sedih tapi jangan pernah kamu sakiti diri kamu sendiri" nasehat Ummah.
Rasa lapar, dan sakit kuretasi hilang sirna begitu saja, bahkan ia tak mau mendengarkan nasehat - nasehat dari orang tuanya, yang Syifa pikirkan adalah antara merelakan atau mempertahankan.
Cinta Syifa pada suaminya sangatlah besar, begitupun dengan Aisha yang mencintai suaminya dengan tulus, bahkan cinta itu tubuh sebelum dirinya hadir di kehidupan Bani.
Secara diam - diam Abi Umar menghubungi Bani, masalah yang di hadapai anatra menatu dan anaknya harus segera di selesaikan, apalagi di dalam masalah ini ada tentang masa lalu Bani.
"Syifa di mana Abi ?" tanya Bani saat menjawab panggilan pak Umar.
"Nak, pertama Abi minta maaf karena telah membuat kamu panik, Syifa baik - baik saja, sekarang dia ada di rumah Abi" jelas Abi Umar.
"Kenapa Abi gak bawa pulang Syifa kerumah kami ?" tanya Bani lagi.
"Syifa yang menolak, lebih baik kamu segera ke sini, karena ada sesuatu hal yang harus di bicarakan" jelas Abi Umar. "Maaf Abi gak bisa jelaskan masalahnya di telepon, dari tadi Syifa melarang Abi untuk menghubungi kamu" sambung Abi umar kemudian menutup teleponnya, ia khawatir akan di ketahui Syifa hingga akan membuat buruk suasana.
Abi Umar kembali kekamar anaknya. "Abi hanis dari mana ?" tanya Syifa saat Abi Umar memasuki kamarnya.
"Hmm Abi, Abi di luar" jawab Abi Umar gugup.
"Jangan bilang kalau Abi habis menghubungi Abang" tebak Syifa.
"Nggak nak, Tadi kakak kamu menghubungi Abi katanya Shela sudah lahiran" ujar Abi Umar. memang benar adanya,sebelum menghubungi Bani pak umar terlebih dahulu menanyakan kondisi shela.
"Kak Shela sudah lahiran" seru Syifa bahagia. "Ayo kita lihat anak kak Shela" ajak Syifa.
"Nanti ya, sekarang sudah malam dan kamu juga harus istirahat". sahut Ummah.
__ADS_1
"Tapi Ummah" ujar Syifa sedih.
"Kali ini nurut ya" pinta Ummah seraya memohon. Syifa pun mengangguk pelan.
"Sekarang kamu makan biar cepet sehat dan bisa melihat anak kak shela" bujuk Ummah, Syifa pun mengangguk tanda setuju.
Rasa lelah, dan kenyang membuat Syifa cepat terlelap dengan pulas, membuat Abi dan ummah merasa lega. Ummah setia berada di samping anaknya, sementara Abi Umar sedang menunggu kedatangan Bani.
...*****...
Fariz kini sudah siap duduk di depan kemudi, di sampingnya duduk sang kakak, sedangkan orang tuanya duduk di belakang, Fariz di perintahkan Abah untuk mengantar mereka menuju kediaman keluarga Syifa. Abah sengaja mengajak Fariz karena ia merasa takut jika Bani yang harus mengendarai mobil dalam keadaan sedang kalut.
Rombongan keluarga Kyai Hasan tiba di rumah pak Umar pukul sembilan malam lewat, Kedatangan mereka di sambut oleh Abi Umar.
"Abi Syifa mana ?" tanya Bani.
"Syifa sudah istirahat di kamarnya" sahut pak Umar. saat Bani ingin berlari untuk menemui sang istri, tiba - tiba tangan Bani di tarik oleh Abi Umar.
"Sebelum kamu menemui istri mu,.ada sesuatu yang ingin Abi bicarakan" ujar Abi Umar.
"Tenang dulu nak" sahut Umi.
"Pertama saya ucapakan mohon maaf jika ini membuat kalian panik dan juga cemas, namun kami juga tidak berbuat apa - apa, karena jika kita tidak bawa Syifa ke sini, dia mengancam akan pergi sendiri" jelas pak Umar.
"Jadi gini awal mulanya, saya syok melihat Syifa sedang menangis di ruang perawatan dan dia merengek minta pulang, jika tidak di turuti dia mengancam akan pergi sendiri, awalnya saya kira Syifa berantem dengan nak Bani namun saat perjalanan pulang Syifa cerita kalau tadi ketika di rumah sakit ada seseorang yang mendatangi dia dan berkata kurang mengenakan" jelas pak Umar.
"Seseroang siapa ?" tanya Umi penasaran dan juga kaget.
"Menurut Syifa dia adalah Aisha" sahut pak Umar membuat Bani sangat terkejut.
"Aisha ??".
Pak umar pun menceritakan semua yang di katakan Aisha pada Syifa, hal itu membuat Bani geram dan emosi.
"Bani tadi setelah selesai mengurus administrasi kepulangan Syifa bertemu dengan Aisha di rumah sakit itu, Aisha menengur Bani, tapi Bani tak menanggapinya, jangan - jangan Tadi Aisha mengikuti Bani secara diam - diam sehingga ia tahu di mana letak Stifa di rawat" ucap Bani dengan wajah yang sudah memerah karena menahan emosinya.
__ADS_1
"Bani bukannya urusan kamu dan Aisha sudah selesai ?" tanya Umi.
"Aisha masih kerap datang ke kantor hanya untuk meminta Bani menikahinya dan menjadikan dia istri ke dua. tapi percayalah Bani tak ingin melakukan semua itu, cinta Bani hanya untuk Syifa" ujar Bani.
"Harusnya Syifa tau kalau cinta ku hanya untuk dirinya" gerutu Bani.
"Syifa terbawa suasana, perasaannya sedang berduka atas kehilangan calon anak kalian, jadi wajar jika Syifa langsung termakan sahutan Aisha" jelas Umi.
"Ini semua salah aku, harusnya tadi aku tidak meningglkannya sendirian di ruang perawatan, bodoh sekali aku ini" Bani merutuki dirinya yang telah lalai menjaga sang istri.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, temui Syifa di kamarnya dia sedang tidur bersama Ummah, bicaralah dengan baik - baik" ujar Abi Umar.
Bani segera berjalan menuju kamar Syifa yang berada di lantai dua, saat.melihat istrinya tertidur pulas, rasanya membuat ia bisa tenang.
"Ummah tinggal keluar ya".
Bani berbaring di samping istrinya. "Maafkan abang telah membuat kamu seperti ini, abang janji apapun yang terjadi Abang tak akan pernah perpaling dengan yang lain". ucap Bani lirih lalu mengecup istrinya, Bani membiarkan istrinya tertidur lelap. dan kini Bani kembali ke ruang tamu di mana anggota keluarganya sedang berkumpul.
"Syifanya mana ?" tanya Umi.
"Syifa sedang tidur, Bani tak tega jika harus membangunkan tidurnya" sahut Bani.
"Umi dan yang lainya nginep saja di sini, ini udah malam loh" sahut Ummah.
"Kita pulang saja, insya allah besok kita kesini lagi" ujar Kyai Hasan.
Umi, Kyai Hasan dan juga Fariz mereka pamit pulang, dan mereka berjanji akan kembali besok untuk menyelesaikan masalah Bani dan juga Syifa.
Bani kembali menuju kamar sang istri, sedangkan Ummah dan Abi mereka langsung istirhata di kamar mereka. di dalam kamar Bani menghubungi seseorang.
"Aku minta tolong, kamu kerumah sakit z, minta rekaman cctv dekat ruangan kemaren Syifa di rawat" ujar Bani.
"Untuk apa ?" tanya seseorang dari sebrang telepon.
"Lalukan saja, besok aku akan jelaskan jika kamu sudah mendapatkan rekaman tersebut" ujar Bani kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
__ADS_1