Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 166


__ADS_3

Bani Tergagap, Napasnya tersengal dan keringat dingin mengucur deras. Bayang - bayang kejadian yang menyesakkan hati itu membuatnya ketakutan setengah mati. Allah, ternyata hanya mimpi. gumam Bani. kemudian mengusap kasar peluh yang menetes di keningnya.


"Abang kenapa ?" tanya Syifa yang sedari tadi membangunkannya karena tiba - tiba suaminya mengeluarkan suara menangis tapi matanya terpejam dan tanpa air mata. hanya butiran keringet yang bercucuran.


Bani memandang istrinya sebentar, kemudian memeluknya dengan erat, ia bener - bener ketakutan dengan mimpi yang di alaminya.


"Sayang maafkan Abang ya, jika selama jadi suami, Abang belum bisa jadi yang terbaik, kadang abang suka bikin Syifa menangis, bersedih bahkan kecewa". ujar Bani seraya memeluk erat istrinya.


"Abang kenapa sihh ?" tanya Syifa kebingungan. "Abang mimpi buruk ? kan sudah Syifa bilang tadi tidur saja, pekerjaannya di lanjut besok pagi kan bisa" ujar Syifa. "Sana cuci muka dulu" Sambung Syifa.


Bani membasuh mukanya, dan setelah itu kembali duduk di depan laptop dan siap mengerjakan kerjaan yang tertunda karena ketiduran.


"Abang tadi mimpi apa sih ?" tanya Syifa penasaran.


"Abang mimpi Syifa membenci abang" Sahutnya seraya menatap Syifa dengan lekat.


"Kalau ngantuk tidur saja, jangan di paksakan" Saran Syifa.


"Sekarang Abang sudah gak ngantuk lagi" ujar Bani.


"Abang, mau Syifa buatkan kopi ?" lelaki itu langsung mengangguk saat di tawari kopi.


Syifa bergegas menuju dapur, membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. dan setelah itu kembali ke kamar dengan membawa secangkir kopi.


"Abang ini kopinya, di minum dulu".


"Makasih sayang, kalau Syifa ngantuk tidur saja sayang, jangan nungguin Abang, nanti kemalaman".


"Enggak apa - apa bang. Syifa belum ngantuk kok".


Menunggu sang suami menyelesaikan kerjaanya, Syifa memilih berbaring di Sofa sambil menonton televisi. Bani sengaja memasang televisi di dalam kamar agar Syifa tidak cape harus bolak - balik ke bawah untuk menonton acara siaran televisi.


Selubung gelap telah sempurna membungkus langit. semilir angin meliuk, menusuk - nusuk dalam pori. Bani beberapa kali menutup mulutnya dengan tangan, rasa ngantuk kembali menyerangnya walaupun ia telah menghabiskan satu cangkir kopi yang di buatkan istrinya tadi.


Ekor matanya melirik jam yang berada di dinding kamarnya. pukul setengah dua dini hari, pekerjaannya baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Bani merentangkan tangannya ke atas, seakan menyerahkan penat serta kantuk yang terus hinggap. Bani pikir akan tahajud dulu sebelum merebahkan ke peraduan.


Bani berdiri melangkah ke sofa, di mana televisi di depanya masih menyala, lalu di perhatikannya sang istri yang terpejam serta mendengkur halus. di elusnya pelan ujung rambut yang sudah tak tertutup lagi oleh jilbab, karena mereka berada di dalam kamar, biasanya Syifa akan melepaskan jilbabnya bila sedang berada di dalam kamar. Antara ingin membangunkan dan tidak. melihat sang istri yang tertidur sangat pulas, Bani jadi tidak tega, tapi nanti Syifa pasti akan protes jika tak diajak qiyamul lail.


"Abang sudah selesai kerjanya ?". Syifa terbangun. Tadinya Bani sudah hendak beranjak mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat shalat Tahajud. barulah setelah itu akan memindahkan Syifa ke tempat tidur. Namun sayangnya gerakan Bani membuat Syifa terbangun dari tidur pulasnya.


"Abang pasti mau Tahajud, ya ? pasti mau ninggalin Syifa lagi, ya kan ? kenapa Syifa Enggak di bangunin ?". Syifa langsung menodongkan beberapa pertanyaan pada suaminya sambil ia mencoba bangun dari posisi tidurnya.

__ADS_1


Sepertiga malam terjaga bersama yang tercinta dan memilih meninggalkan dekapan malam, lalu merajut tali - tali kerinduan dengan sang ilahi, berdua tafakur dalam hamparan sajadah.


Bani menggaruk tengkuknya walaupun tak merasa gatal sedikit pun, seperti sedang ketahuan berbuat salah, dan sejurus kemudian mengulum senyum.


"Abang pikir, Syifa pasti lelah, jadi Abang enggak tega buat bangunin kamu, sayang". jawab Bani. "Ya, sudah, Syifa ambil air wudhu kalau mau ikut berjamaah sama Abang".


Usai shalat Tahajud, Bani meraih kitab kecil yang sudah agak lusuh. sepertinya karena terlalu sering di buka dan di baca, buku tersebut sedikit tampak pudar pada bagaian sampulnya.


"Abang lagi baca apa ? tanya Syifa ketika usai membereskan mukenanya.


"Oh, ini cinta pertama abang, sayang" mata Syifa langsung membeliak mendengar jawaban Bani. sementara lelaki itu hanya menahan tawa saat melihat ekspresi sang istri.


"Abang kok . . ". pembicaraan Syifa langsung di potong oleh Bani.


"kenapa, sayang ? ini memang cinta pertama dulu waktu baru lulus sekolah dasar".


"Hah ? Ih Abang katanya gak pernah pacar - pacaran dan katanya cuma komitmen sama Aisha doang, Lah ini Abang masih Sd ko udah naksir - naksir, dosa loh".


"Namanya neng Alfy". cetus Bani.


Kini Syifa memandang tajam pada suaminya, seakan minta penjelasan pada suaminya. namun ekspresi Syifa tersebut mengundang gelak tawa dari suaminya.


"Ih, kok malah ketawa sih bang ?".


"Ya, kan, Abang bilang tadi itu . . ".


Bani memotong ucapan Syifa lagi. "Denger abang dulu makanya. Neng Alfy itu kekasih para santri, cinta pertama mereka. sudah pasti seperti itu". jelas Bani.


"Maksud Abang apa sih ? Syifa enggak paham deh !".


"Maksud Abang, neng Alfy itu kitab Nahwu Nadhom Alfiyah, sayang. dan panggilan neng Alfy sendiri bagi santri sebagai ungkapan sayang agar cepat hapal seribu bait Alfiyah


".


"Abang, ko jail sih ?!". Tangan Syifa melayang, memukul pelan punggung sang suami. Tidak tahu apa kalau hatinya hampir saja lepas dari tempatnya saat mendengar kata cinta pertama dari mulut sang suami. siapa yang tidak cemburu jika selama ini suaminya masih menyimpan tentang cinta pertamanya. yang di pukul malah semakin tertawa renyah.


Bani maklum kalau Syifa belum sepenuhnya paham menghapal nadhom Alfiyah. dulu kan, istrinya itu hanya mondok beberapa bulan saja di pesantren milik orang tua Bani.


"Abang hafal ?" Bani menganggukan kepalanya pelan.


"Wahh, hebat dong".

__ADS_1


"Syifa hafal enggak, Sayang ?".


"Sedikit, bang. tapi yang Syifa tau itu hanya Sholawat para santri" jawab Syifa malu - malu.


"Berapa bait ?".


"Awalnya saja, paling tiga sampai lima bait saja" ucap Syifa seraya tersenyum.


"Coba Baca !" titah Bani pada istrinya.


"Bacanya bareng aja Syifa malu bang".


-Qola Muhammadun Huwabnu Maliki


AhMadu Robbillaha Khoiro Maliki


-Musholliyan Alannabiyyil Musthofa


Wa alihil Mustak MilinNas sharofha


-Wa Asta'inulloha Fil Alfiyyah


Maqoshidun Nahwi Biha Mahwiyyah


-Tuqorribul Aqsho Bi Lafdin Mujazi


Wa Tabsutul Badla Bi wa’din Munjazi


-Wa taqtadi Ridhon Bi Ghoiri Sukhtin


Fa Iqotan Alfiyyatabni Mu’thii


Syifa pun membacakan Nadhom Alfiyah sesuai yang ia hapal, sedangkan Bani hanya memperhatikannya seraya tersenyum simpul.


"Cuma sampai di situ hapalnya" ucap Syifa seraya malu - malu.


"Itu juga sudah bagus nanti kita belajar sama - sama" sahut Bani. "Emang lagi kecil Enggak di ajarin Abi atau Ummah ?".


"Di Ajarin sih, Tapi ya gitulah suka cari - cari alasan setiap mau di ajarin Ummah atau Abi. dulu juga Abi mau masukin Syifa ke pesantren pas baru lulus Sd, tapi Ummah melarang karena masih kecil. Terus pas lulus madrasah


tsanawiah Syifanya yang gak mau".

__ADS_1


Kini Bani mulai menyendandungkan bait - bait Alfiyah , dan ikuti oleh Syifa. bersenandung cinta di sepertiga malam. larut, tenggelam bersama dalam lantunan nahwu Alfiyah


__ADS_2