Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 121


__ADS_3

"Ibu silahkan masuk ke ruangan pak Fariz, beliau menunggu di sana" ujar pegawai resto.


"Apa ia tidak bisa menemui saja di sini saja, sekalian makan siang ?" tanya seseorang tersebut.


"Untuk itu saja tidak tau Bu" sahut pegawai resto tersebut.


Seseorang tersebut akhirnya di antar menuju ruangan di mana Fariz berada. "Silahkan ibu masuk saja, bapak sudah menunggu di dalam" ujar pegawai tersebut lalu meninggalkan ruangan Fariz dan kembali ke tempat kerjanya.


Pintu ruangan diketuk oleh seseorang dengan segala keraguannya, ia takut jika kedatangannya akan menganggu kerjaan Fariz.


"Masuk" teriak Fariz dari dalam ruangan.


Handle pintu di buka dengan sangat pelan, seseorang itu pun tidak langsung masuk, ia hanya berdiri di dekat pintu.


"Siang Fariz" sapa seseroang itu. karena suaranya tak asing di telinga Fariz membuat ia menghentikan pekerjaannya dan menoleh le arah sumber suara.


"Rara, ngapain kamu ke sini" ketus Fariz, ia sangat terkejut dengan ke datangan Rara.


"Aku ke sini hanya ingin bertanya kenapa nomor kamu tidak bisa di hubungi, sepertinya kamu telah memblokir nomor aku, dan waktu kemaren pembukaan resto , kamu tak sekali pun menyapa ku" ujar Rara.


"Iya memang aku memblokir nomor kamu" ujar Fariz.


"Tapi kenapa ?" tanya Rara bingung.


"Kamu tanya alasannya, harusnya kamu pikir apa yang telah kamu lakukan" ujar Fariz. Rara mendekat ke arah dimana Fariz berada, pintu ruangan pun di tutup agar keributannya tak di dengar oleh siapa pun.

__ADS_1


"Aku tak mengerti, kau tiba - tiba susah di hubungi, bertemu saja tak menyapa bahkan seolah - olah kamu tak mengenal ku" Rara tak mengetahui penyebab kemaraham Fariz.


"Kamu tak usah sok polos, kemaren aku lihat kamu jalan dengan laki - laki lain, apakah itu cara kamu menjaga perasaan seorang laki - laki" ujar Fariz dengan tegas.


"Aku jalan dengan laki - laki lain kamu marah sampai seperti ini, sudah seperti cewek sedang cemburu saja" ledek Rara. "Kamu cemburu aku jalan dengan lelaki lain ? memangnya kita punya hubungan apa ?" pertanyaan Rara sontak membuat Fariz kaget. ya memang kenyataannya belum ada pernyataan cinta antara Rara dan Fariz.


"Jadi selama ini kau tak pernah menganggap ku ?" tanya Fariz.


"Kita hanya berteman dekat, jadi wajarlah kalau aku jalan dengan laki - laki lain, dan aku pun tak pernah melarang kamu untuk jalan dengan wanita lain" ujar Rara membuat Fariz semakin terbakar cemburu.


"Jika ke datangan mu ke sini hanya untuk pamer laki - laki baru mu itu, sebaiknya segera pergi dari sini, saya tidak tertarik dengan cerita anda" ketus Fariz dan mengusir Rara dari ruangannya.


Sedangkan Rara hanya bisa menahan tawanya saat melihat raut wajah Fariz yang memerah akibat di bakar rasa cemburu butanya.


"Yakin kamu tidak tertarik dengannya, dia adalah lelaki yang baik, bahkan dia selalu mengantar jemput ku, dia menemani ku bermain bahkan ia juga selalu ada di saat orang - orang ingin menyakiti ku" ujar Rara. Rahang Fariz sudah mengeras, rasa.cemburunya semakin meningkat karena Rara dengan beraninya menceritakan kebaikan lelaki tersebut.


"Aku memang tak ingin pacaran aku ingin serius menjalin hubungan, tapi bagaimana lagi kalau kamu sudah mencintai laki - laki lain, aku tak biasa memaksakan cinta kamu untuk ku" seketika Fariz duduk lemas di kursi tempat kerjanya, seakan - akan pasrah dengan keadaan yang tidak berpihak kepadanya.


"Tapi kamu tidak pernah menyatakan cinta kamu pada ku" seru Rara.


"Ya menang aku tidak pernah menyatakannya, tapi apa kedekatan kita, dan perhatian ku, kurang meyakinkan mu tentang ke sungguhan perasaan ku selama ini" ujar Fariz.


"Tapi kamu seperti tidak serius, kadang kamu hilang tanpa kabar" sahut Rara.


"Sudah ku jelaskan kemaren aku sibuk dengan kerjaan ku" jawab Fariz. "Aku kecewa saat aku sibuk dengan kerjaan ku kamu malah sibuk dengan lelaki lain, tapi jika itu semua sudah pilihan mu, maka aku tak bisa memaksa mu" ujar Fariz.

__ADS_1


"Jadi kamu memblokir nomor ku dan juga tak pernah menyapa ku lagi, karena kamu waktu itu melihat aku sedang berduaan di cafe dengan seorang laki - laki".ucap Rara. "Apa kamu tak ingin mengetahui siapa lelaki itu,kenapa kamu langsung marah, kenapa kamu tidak bertanya pada ku siapa lelaki itu" ujar Rara.


"Untuk apa aku bertanya jika hanya untuk menyakiti perasaan ku saja, aku bisa melihat betapa bahagianya kamu saat bersama lelaki itu, kamu bisa tertawa lepas dengan lelaki itu" Fariz mengingat saat - saat Rara sedang bersama lelaki itu, jika yang di hadapannya bukan Rara mungkin saja Fariz sudah menangis.


"Akan aku ceritakan semua tentang kejadian di Cafe tersebut" jelas Rara namun Fariz menolaknya. lalu Rara pun memohon agar Fariz mau mendengar penjelasan darinya. namun tak ada jawaban dari Fariz membuat Rara nekad menjelaskan tanpa menunggu persetujuan Fariz.


"Jadi siang itu aku menghadiri acara reuni temen sekolah, dan memang saat itu Arsa yang menjemput ku, karena temen - teman yang lainnya belum datang, jadi yang kamu lihat hanya aku dan Arsya saja". jelas Rara.


"Ohh jadi lelaki itu mantan kamu jaman sekolah, yang sekarang akan balikan lagi" ketus Fariz.


"Fariz, Arsya itu sepupu ku, kenapa dia menjemputku itu semua perintah kak Tama, karena mobil ku di pakai oleh Ibu ku buat menjenguk saudara yang sakit" jelas Rara tentu membuat Fariz kaget.


"Haahaa, sepupu ketemu gede yah" ledek Fariz, ia tak ingin langsung percaya begitu saja.


"Ya sudah kalau kamu tak percaya, apa kamu perlu bertemu dengan Arsya langsung atau nggak tanyakan saja pada kak Tama" ujar Rara.


Fariz diam, ia bingung antara harus percaya atau tidak, namun ada rasa bahagia di sisi lain jika memang lelaki tersebut hanyalah sepupunya. Rara juga menunjukan foto - foto kebersamaan Rara dan teman - temannya waktu di cafe tersebut. Rara juga menunjukan foto keluarganya di sana terdapat foto Arsya berserta anggota keluarga lainnya.


"Kami bilang lalaki itu selalu mengantar jemput kamu, bermain bersama bahkan melindungi kamu" ujar Fariz.


"Iya memang ketika jaman sekolah dia selalu mengantar jemput ku sekolah, bahkan awalnya orang juga mengira aku dan Arsya pacaran karena Arsya akan membela ku saat aku di bully oleh kakak kelas ku, Arsya juga merupakan teman bermain ku sejak kecil" jelas Rara. sedikit demi sedikit Fariz mulai percaya dengan penjelasan Rara.


"Maaf mungkin aku terlalu cemburu" ucap Fariz pelan.


"Makanya jangan asal marah saja, laki ko kaya cewek" Ledek Rara. Fariz pun hanya menunduk malu.

__ADS_1


"Aku lapar ayo makan" ajak Rara.


Setelah itu mereka pun makan siang bersama, saling memaafkan itu lebih baik demi hubungan mereka, Fariz dan Rara pun berkomitmen untuk saling menjaga perasaan. walau tak ada kata jadian, namun mereka sudah berkominten untuk menjalin hubungan yang serius.


__ADS_2