
Bani harus sabar menunggu antrian saat penyelesaian pembayaran biaya perawatan sang istri. setelah selesai pembayaran Bani segera kembali ke ruang perawatan sang istri, rasanya tak ingin lama - lama jauh dari istrinya yang sedang dalam kondisi seperti itu.
Ia pun berjalan menyusuri setiap lorong untuk menuju ke ruangan sang istri, namun saat sedang melangkah tiba - tiba ada suara yang tak asing di telinganya yang menghentikan langkahnya.
"Kamu sedang apa di sini ?" teguran tersebut sontak mengentikan langkah kaki Bani, dan langsung menoleh ke arah asal suara tersebut.
"Aisha, sedang apa dia di sini, apa dia sengaja mengikuti ku" gumam Bani dalam hatinya.
Tanpa pikir panjang, Bani kembali berjalan meninggalkan Aisha tanpa sepatah kata pun, karena ia tak ingin membuat masalah dalam situasi seperti ini.
"Sedang apa Bani di rumah sakit ini, kelihatannya sangat sedih sekali, apa mungkin keluarganya ada yang sakit" gumam Aisha.
Karena rasa penasarannya, Aisha pun secara diam - diam mengikuti setiap langkah Bani, tanpa diketahui Bani. hingga Bani memasuki sebuah ruang perawatan.
"Siapa yang di rawat ?" tanya Aisha pada dirinya sendiri.
Sementara Bani memasuki ruangan perawatan sang istri tanpa curiga jika ia sedang di ikuti oleh Aisha.
"Gimana nak, sudah beres ?" tanya Ummah.
"Alhamdulilah beres Ummah" jawab Bani senang.
"Ummah dan Abi mau ke mushola sebentar ya" ujar Ummah.
"Ya sudah nanti gantian" sahut Bani.
Beberapa menit kemudian setelah Ummah dan Abi ke mushola, masuklah seorang dokter dan juga perawat yang akan mengecek kondisi Syifa.
"Kondisi istri bapak insya allah sudah membaik, tolong nanti jangan di bebani pikiran yang berat - berat dulu, minggu depan kontrol lagi, dan ini ada beberapa resep obat yang harus di tebus" dokter menjelaskan dengan sangat ramah, lalu memberikan sebuah kertas bertuliskan resep obat. sementara perawat tersebut membuka selang infusan yang menempel di tangan Syifa.
Setelah tugas mereka selesai mereka pun pergi meninggalkan ruangan Syifa.
Saat melihat dokter keluar Aisha pun mengentikan langkah sang dokter dan juga perawat.
__ADS_1
"Dok kalau boleh tau siapa pasien di dalam dan kenapa ia bisa di rawat ?" tanya Aisha dengan segala kecemasannya takut di sangka orang jahat.
"Di dalam adalah pasien bernama Ibu Syifa, dia baru saja menjalani kuretasi karena Ibu Syifa mengalami kehamilan kosong" jelas sang dokter dengan sangat ramah.
"Oh, Terimakasih dokter informasinya" ujar Aisha.
"Syifa gagal punya anak, bisa aku manfaatkan, kalau aku tak bisa merayu Bani, gak ada salahnya jika aku mencoba melalui istrinya" gumam Aisha dalam hatinya.
Rasa bahagia mendapatkan jalan menuju tujuannya sehingga membuat Aisha melupakan adiknya yang sedang berjuang antara hidup dan mati, bahkan Aisha juga melupakan peringatan Bani jika ia kembali mencoba menganggu rumah tangganya.
Sementara di mushola Ummah dan Abi melakukan Shalat secara berjamaah, mereka sedang di landa perasaan yang tak menentu antara kehadiran dan kehilangan. mereka bahagia karena cucu pertama mereka akan lahir kedunia , namun di sisi lain mereka juga harus bersedih karena harus kehilangan calon cucu keduanya. Bahkan di saat Bani menghubunginya, mereka sedang dalam rasa yang begitu sangat bahagia, namun rasa itu seakan sirna saat mendapat kenyataan pahit tentang keadaan sang anak bungsunya. sebelum kembali keruang perawatan Ummah dan Abi mereka terlebih dahulu menghubungi sang anak yaitu Abian untuk menenyakan keadaan sang cucu dan juga menantu.
"Gimana Shela apa sudah melahirkan ?" tanya ummah dari sebrang telepon.
"Belum ummah, kata dokter kita tunggu satu jam lagi, jika tak ada tanda - tanda maka Shela harus menjalani operasi caesar" Jelas Abian.
"Syifa gimana Ummah ?" Abian pun menanyakan keadaan sang adik, tak bisa di pungkiri jika dirinya juga sangat mengkahawatirkan sang adik.
"Syukur Alhamdulilah, Ummah jagain Syifa saja dulu, di sini ada mamanya Shela ko, Syifa pasti lebih membutuhkan Ummah" Abian seakan - akan paham yang di rasakan sang adik, bahkan dirinya sangat menyesal tak bisa berada di samping sang adik karena sebuah keadaan.
"Iya nak, kalau Shela sudah lahiran segera kabari Ummah dan Abi" ujar Ummah kemudian menutup panggialan teleponnya.
Sedangkan di ruang perawatan, Bani selalu menggenggam erat tangan sang istri untuk saling memberi kekuatan satu sama lain. mungkin karena masih dalam keadaan syok membuat Syifa tak banyak bicara, Syifa lebih banyak melamun.
"Bang tebus dulu saja obatnya, biar pas Ummah dan Abi balik ke sini, kita tinggal pulang, Syifa gak mau lama - lama di sini" ucap Syifa lirih.
"Jika abang pergi kamu sendirian sayang" sahut Bani.
"Syifa baik - baik saja".
Yang di katakan Syifa ada benarnya, namun ia tak tega meninggalkan Syifa sendirian, namun karena Syifa terus mendesaknya akhirnya dengan berat hati Bani keluar ruangan dan berjalan menuju tempat apotik.
Kepergian Bani merupakan kesempatan emas bagi Aisha untuk masuk, Aisha pun langsung masuk keruangan Syifa, membuat Syifa yang sedang terbaring pun langsung bangun dan duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Sore Syifa, setelah sekilan lama akhirnya kita bertemu lagi" ujar Aisha dengan senyum kecutnya.
"Ngapain kamu di sini, apa mau kamu" ujar Syifa ketakutan saat Aisha berjalan mendekat ke arah dirnya.
"Aku hanya ingin berbicara kita sebagai wanita" jelas Aisha dengan senyum mengejeknya.
"Syifa harusnya kamu sadar diri,usiamu masih sangat muda, bahkan temen - teman mu masih bersenang - senang menikmati masa muda mereka" ujar Aisha.
"Apa maksud mu ?".
"Hey Syifa kamu itu belum pantas untuk menjadi seorang ibu, lihat tuhan pun kembali mengambilnya, dan dari situ bisa di katakan kamu belum waktunya punya anak sedangkan umur Bani sudah cukup menjadi seorang ayah, maka dari itu ijinkan aku menikah dengan suami mu, biar suamimu bisa cepat punya anak" jelas Aisha dengan senyum kemenangan.
"Aku tidak mau di madu" teriak Syifa.
"Kamu jadi wanita jangan egosi Syifa, harusnya kamu sadar diri, kamu itu tidak bisa memberikan anak pada suami mu, apa kamu tak ingin suamimu bahgaia memiliki seorang anak".
"Membahagiakan suami itu pahalanya sangat besar, apa kamu memang tak ingin membahagiakan suami mu, atau malah kamu menikahi Bani hanya untuk menghancurkan masa depannya".
"Jika aku jadi kamu, aku akan melakukan apapun untuk suami ku bahagia termasuk merelakan suamiku menikah lagi dengan wanita lain, mana ada sih keluarga yang bahagia tanpa keturunan, tidak ada kan ?".
Aisha terus berbicara mencoba mencuci otak Syifa agar dia bisa merayu suaminya untuk menikah dengannya.
Keadaan Syifa yang masih kalut atas kehilangan calon anaknya membuat ia mudah terhasut dengan apa yang di katakan Aisha.
Syifa menyadari dirinya yang belum sempurna menjadi istri, dan kini malah membuat suaminya harus bersedih atas kehilangan calon anak mereka, hal itu membuat Syifa teringat pada satu hari ketika mereka mengunjungi rumah barunya di sana Bani bahkan sudah menyiapkan kamar untuk calon anaknya.
"Syifa pikirkan baik - baik apa yang aku katakan tadi, suami sudah rela banting tulang untuk menghidupi butuhan sang istri agar istrinya bahagia tanpa kekurangan, lalu di saat suaminya minta kebagaian pada istri seperti anak, istrinya tak bisa memberikan, di situ bakti istri pada suami di uji, jika kita ingin suami kita bahagia kita harus rela mengikhlaskan suami kita mempunyai istri baru, itu seperti suami yang rela kerja dua puluh empat jam demi membahagiakan istrinya" ujar Aisha lalu pergi meninggalkan ruang perawatan Syifa dengan penuh kemenangan, satu langkah lagi ia bisa menggapai semua mimpinya.
*****
Saat Bani kembali keruangannya ia pun sangat terkejut karena sang istri sudah tak ada di kamarnya, Bani mencari ke dalam toliet namun tetap tak ada, membuat Bani di landa kepanikan.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1