Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 48


__ADS_3

Pak Umar pulang bekerja dengan perasaan bingung, raut wajahnya tertekuk membuat Ummah penasaran.


"Ada masalah di tempat kerja ?" tanya Ummah.


"Masalahnya bukan tentang kerjaan tapi tentang anak kita" jawab Pak Umar seraya duduk di pinggir tempat tidur.


"Anak kita ?, Syifa baik - baik saja dari tadi dia di kamar, Abian ada apa dengan Abian ?".


Pak Umar menceritakan niat baik dari keluarga Kyai Hasan, namun Ummah langsung terkejut jika Syifa yang harus memilih.


"Bi kenapa Syifa yang harus memilih ?".


"Karena ke dua anak kyai Hasan sama - sama menyukai Syifa" jelas pak Umar.


Ada rasa khawatir di hati Ummah, namun ia harus bertanya terlebih dahulu pada anaknya, karena semua keputusan ada di tangan Asyifa.


Setelah acara makan malam, pak Umar mengumpulkan anggota keluarganya, ia bermaksud akan menceritakan permintaan Kyai Hasan. semua sudah berkumpul termasuk Abian dan Shela. pak Umar mulai bercerita. Syifa hanya menunduk mendengarkan apa yang di katakan Abinya, yang membuatnya terkejut ternyata ia harus memilih antara kakak dan adik. ia baru sadar jika Fariz juga menyukainya.


"Syifa apa kamu sudah ada pilihan yang lain selain mereka ? Kyai Hasan dan keluarganya akan datang tiga hari lagi" ucap pak Umar.


"Bi boleh cerita sesuatu ?" tanya Asyifa dengan ragu - ragu.


"Boleh, kita ini keluarga jadi jika di antara kalian ada masalah kalian wajib cerita agar kami bisa membantu menyelesaikannya" ucap pak Umar.


"Bi sebelum Syifa sakit, Ustaz Bani telah memberi Syifa sebuah surat, surat itu berisi tentang niatan dia untuk mengkhitbah Syifa, namun surat itu belum Syifa balas" ujar Syifa menjelaskan.


"Nak apa kamu menolak Bani, Hingga kamu tak membalas surat tersebut ?" tanya pak Umar.


"Bukan menolak dan bukan juga menerima, Syifa gak sanggup membuat keputusan sebesar itu jika tanpa meminta pendapat dari keluarga, Syifa juga ragu umur Syifa dan Ustaz Bani cukup berbeda jauh, dan yang membuat Syifa semakin ragu ustaz Bani waktu itu gagal mengkhitbah ustazah Salwa tanpa alasan yang jelas dan yang bikin Syifa kaget lagi pas tau Kak Robby menikah dengan Ustazah Salwa. Syifa takut hanya jadi pelarian ustaz Bani" jelas Syifa membuat semuanya kaget, Abi Umar tau Kalau Bani gagal mengkhitbah Salwa tapi pak Umar gak tau Salwa yang di maksud ternyata istri dari Robby keponakannya.


"Lalu kalau dengan Fariz ?" tanya Ummah.


"Kak Fariz orangnya baik, perhatian dan penyayang tapi ia tidak pernah menunjukan sara sukanya terhadap Syifa" jawan Syifa pasti.

__ADS_1


"Nak ikuti kata hati kamu, karena dia yang akan menjadi imam kamu, soal umur bukan masalah banyak ko yang menikah umur mereka terpaut sepuluh hingga lima belas tahun tapi mereka tetap harmonis". jelas pak Umar menasehati anaknya.


"Bi Umur Syifa masih sembilan sebelas tahun apa sudah pantas untuk berumah tangga ?" tanya Syifa .


"Nak menikah itu tidak ada batas usianya. tapi syarat negara wajib tujuh belas tahun ke atas". jawab pak umar. "Nak berdoa lah meminta petunjuk, lakukan shalat istikharah agar di beri jawaban yang pasti" nahesat pak Umar.


Setelah selesai mereka kembali ke kamar masing - masing Syifa kembali dengan perasaan tak menentu kenapa ia harus yang memilih. Abian mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar.


"Sayang menurut kamu siapa yang pantas untuk Syifa ?" tanya Abian pada sang istri.


"kenapa kamu bertanya seperti itu, siapapun yamg di pilih itu yang terbaik dari yang baik" jawab Shela.


"Sayang aku minta pendapat tentang Bani dan Fariz menurut kamu sebagai perempuan" pinta Abian.


"Kalau menurutku Fariz itu dia lemah lembut, kalau Bani ia tegas dan kaku" jawab Shela.


"Berarti Fariz lebih cocok dengan Syifa !" Seru Abian.


"Ya sudah terserah Syifa saja yang milih, sekarang waktunya aku nengokin anak kita sayang, dia sudah rindu ayahnya" ucap Abian genit.


"Bukan anak rindu ayahnya tapi ayahnya yang merindukan gua surga dunia" ucap Shela membuat Abian tersenyum, Akhirnya mereka pun melakukan pertempuran walaupun pelan namun tetap membuat mereka berdua melayang - layang.


Dua hari berlalu Syifa sudah melakukan shalat istikharah namun ia tetap ragu akan pilihannya, walau bayangan itu sering muncul di mimpinya namun ia tetap ragu namun dari hati kecil yang paling dalam ia telah mantap memilih seseorang, namun di mulutnya selalu ada keraguan membuat ia bimbang. Syifa sedang merenung, Kak Shela datang menghampiri mereka.


"Adik kakak yang cantik kenapa murung ?" tanya Shela.


"Kak Syifa boleh cerita" ucap Syifa menyandarkan tubuhnya di pundak sang kakak ipar.


"Tentu boleh dong, adik kakak yang paling cantik" ucap Shela seraya membelai kepala sang adik.


"Syifa ragu dengan pilihan Syifa".


"Kenapa ragu ?".

__ADS_1


"Jika Syifa jadi pendampingnya nanti apa Syifa pantas, Syifa takut tak pantas mendampingi dia nanti" ucap Syifa lirih.


"Kak boleh tau siapa yang Syifa pilih nanti ?".


Syifa pun membisikan nama tersebut pada sang kakak ipar "Kak Shela janji jangan pernah memberi tahu siapapun ya" pinta Syifa.


"Iya kak Shela janji".


"Gimana menurut kak Shela ?".


"Hmm siapa pun pilihan kamu, pasti itu yang terbaik, kakak yakin kamu sudah dewasa dan pasti tau siapa yang terbaik dari yang baik buat kamu" ucap Shela membuat Syifa sedikit lega. "Nikah itu gak harus dengan yang seumuran, kak shela dan kak abian bedanya tiga tahun, Abi dan Umi bedanya lima tahun, bahkan mama dan papanya kak Shela mereka beda hampir sembilan tahun, alhamdulilah mereka harmonis dan rukun, kedewasaan itu bukan soal umur tapi soal pola pikir kehidupan" ucap Shela menasehati adiknya.


...******...


Hari yang di tunggu pun tiba, keluarga Kyai Hasan akan datang pada sore hari setelah shalat ashar, di rumah Asyifa sedang mempersiapkan berbagai menu makanan yang akan di hidangkan.


Pak Umar mendatangi kamar Asyifa "Nak apa kamu sudah punya pilihan ?" tanya Pak Umar.


"Insya Allah sudah Abi, tapi apa Abi dan Ummah menyetujui dengan pilihan Syifa ?" tanya Syifa balik.


"Nak kami sebagai orang tua kamu, kami mendukung apa yang akan menjadi pilihan kamu selagi itu baik" jawab Pak Umar seraya memeluk Asyifa. "Kamu sudah dewasa nak sebentar lagi kamu akan menikah" ucap pak Umar haru, ia tak menyangka jika putrinya sudah menemukan jodohnya.


Fariz sudah menyiapkan sebuah gelang sebagai tanda untuk mengkhitbah Asyifa begitupun dengan Bani ia sudah menyiapkan sebuah cincin sebagai tanda mengkhitabahnya. tentunya cincin itu berbeda dengan cincin waktu saat ingin mengkhitbah Salwa.


Hari ini Fariz maupun Bani tidak berangkat bekerja.ia lebih memilih untuk di rumah mempersiapkan diri mereka masing - masing. setelah Shalat dzuhur Abah dan keluarganya sudah berkumpul termasuk Zahwa dan keluarga kecilnya.


"Inget persyaratan Abah apa ?" tanya Abah agar kedua putranya mengingat persyaratan tersebut.


"Iya kami akan menerimanya dengan ikhalas tanpa ada dendam" jawab Fariz dan Bani kompak.


"Abah apa kita langsung menentukan tanggal ?" tanya Zahwa.


"Kita hanya mengkhitbah saja, untuk tanggal kita diskusikan lagi nanti".

__ADS_1


__ADS_2