
Sebagai seorang lelaki yang merupakan imam keluarga, sudah sepantasnya Bani berjuang demi keluarganya, memberi kehidupan yang layak untuk anak dan istrinya.
Bani merupakan lelaki yang mandiri, ia tak ingin menyusahkan orang tuanya apalagi harus bergantung pada orang tuanya, maka dari itu ia selalu berjuang untuk kehidupannya.
Dalam hati kecil Bani, ia ingin membantu meringankan beban yang mertua namun yang ia takutkan adalah kesalah pahaman yang dapat menimbulkan Fitnah.
"Bani akan bantu sebisa mungkin tapi mungkin Bani tidak bisa datang secara langsung setiap hari" ucap Bani dengan segala keraguanya.
"Bani, kamu sudah masuk keluarga Abi, jadi apapun yang Abi miliki akan jadi milik kamu di suatu hari nanti, Abi harap kalian berdua bisa mengembangkan bisnis Abi, karena kalian harapan Abi, kalau bukan pada kalian kepada siapa lagi Abi menaruh harapan" jelas pak Umar.
"Bener apa kata Abi, jangan sungkan meminta bantuan pada kami jika ada masalah" sahut Abian.
ketiga lelaki itu akhirnya mereka saling bertukar pikiran dalam dunia perbisnisan. Abi juga sesekali menasehati anaknya agar sabar dalam menghadapi setiap ujian dalam rumah tangga, karena selama kita hidup ujian itu akan terus silih berganti, hadapi setiap masalah dengan ke adaan dingin.
...******...
Sore hari Fariz sudah bersiap di pinggir jalan untuk membagikan makanan takjil bagi pengguna jalan, Rara pun sudah datang dan siap membantu kegiatan tersebut.
pembagian takjil tersebut berjalan dengan lancar, lima ratus sncak yang di sediakan langsung habis dalam waktu hampir dua jam.
Rara memijit - mijit kakinya serasa pegel karena terus berdiri membagian setiap kotak snack, namun hal ini menjadi pengalaman pertamanya, biasanya hanya melihat, namun kini dirinya bisa terjun langsung dalam membagikan takjil gratis tersebut.
"Cape yah ?" tanya Fariz.
"Dikit ko" jawan Rara, ia tak ingin Fariz tau kalau dirinya benar - benar lelah.
Sebentar lagi adzan magrib, dan itu tandanya waktu buka puasa akan segera tiba. Fariz sudah menyiapkan makanan untuk buka puasa mereka.
"Buka puasanya di ruangan ku saja" ujar Fariz pada Rara.
"Emang kenapa ?".
Di sini sepertinya penuh, tentang saja, di ruangan ku nanti ada Zidan juga, jadi kita gak akan benar - benar berdua" jelas Fariz.
"Ya sudah terserah kamu" ujar Rara seraya mengikuti langkah Fariz menuju ke ruangannya.
Setelah selesai buka puasa, Fariz mengantar terlebih dahulu Rara pulang, dan setelah itu baru Fariz pulang menuju kerumahnya.
Kedatangan Fariz sudah di tunggu keponakannya.
__ADS_1
"Om puyang" teriak Zayn kegirangan.
"Fariz dari mana saja kamu jam segini baru pulang, gara - gara kamu tadi janji sama Zayn, dia ngerengek terus minta keluar" Ujar Zahwa.
"Maaf kakak, Fariz lupa kalau Fariz punya janji sama Zayn, Fariz lupa memberitahu jika Fariz pulang malam, karena tadi Fariz harus menggantikan pegawai yang tidak masuk untuk membagikan takjil gratis, dan habis itu buka puasa dan pulang deh" jelas Fariz pada kakaknya.
"Om ayo pelgi" ujar Zayn seraya menarik tangan Fariz.
"Ini sudah malam sayang" Rayu Fariz.
"Tapi Om kan udah janji" ujar Zayn.
"Makanya jangan buat janji sama dia, Zayn anaknya pintar, apa yang kita katakan akan selalu di ingatnya" ujar Zahwa berlalu meninggalkan Adik dan anaknya.
Zayn memang masih umur dua tahun namun daya tangkap dan daya ingatnya melebihi rata - rata anak seumurannya.
"Ayo om ayo" ujar Zayn yang terus merengek sambil menarik tangan Fariz.
"Ada apa ini ?" tanya Tommy yang baru datang habis shalat terawih.
"Tadi pagi aku janji akan ngajak Zayn ngabuburit, tapi gak jadi gara - gara harus gantiin pegawai yang gak masuk buat bagiin takjil, eh pas pulang dia malah merengek minta keluar" jelas Fariz pada kakak iparnya.
"Makanya jangan buat janji sama dia" sahut Tommy "Pantesan saja dia tadi sore ngerngek minta keluar" ujar Tommy.
"Zayn kan tadi sore udah jalan sama kakak, dan papa" ujar Tommy seraya mendekati anaknya.
"Tapi cama om beyum, om udah janji, kata kakek uga kalo boong itu dosa" ujar Zayn membuat Fariz menepuk jidatnya. sedangkan Tommy hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ini kan sudah malam, waktunya untuk bobo, gimana kalau jalan - jalannya besok pagi, sekalian lari pagi" jelas Fariz dan berharap keponkannya itu akan mengerti.
"Oce gak papa, tapi hari ini om dosa, nanti masuk nelaka" ujar Zayn membuat semua yang mendengar celotehannya langsung tertawa.
"Om boleh acu tidur baleng om" pinta Zayn.
"Kenapa gak tidur sama papa mama saja" ujar Fariz.
"Cama om nda boyeh yah" ujar Zayn lagi.
"Zayn tidur sama mama papa saja ya, om itu suka pipis di celana kalau kagi bobo" Ujar Zahwa.
__ADS_1
"Ihh jolok" ujar Zayn kemudian berlari ke mama nya.
...****...
"Tadi Abang di minta Abi buat bantu konvesinya, Katanya Abi sudah pengen istirahat di rumah" jelas Bani menceritakan ke inginan sang mertuanya.
"Lalu abang jawab apa ?" tanya Syifa penasaran.
"Abang cuma bilang, kalau abang siap bantu, tapi untuk stay tiap hari di konveksi abang gak bisa" jelas Bani
"Kenapa gak bisa ?".
"Jarak rumah kita jauh, dan terus kantor siapa yang urus" jelas Bani.
"Hmm Syifa punya ide deh" ujar Syifa.
"Apa ?" tanya Bani penasaran.
"Kan Abi punya konveksi, sedangkan Abang punya sablon, jadi Abang bisa ambil.bahan dari konvesi Abi lalu di sablonnya di tempat Abang, jadi abang harus menyiapkan desain sablonan yang menarik dan bagus, biar banyak peminatnya" jelas Syifa.
"Bagus juga ide kamu, tapi apa Abi balakan setuju" ujar Bani takut kalau mertuanya tidak setuju dengan ide Syifa.
"Besok kita bicarakan kembali sama Abi dan yang lainnya" ujar Syifa. " Tidur Yuk" ajak Syifa pada suaminya.
"Tumben kamu ngajak duluan, sekarang istri abang sudah pinter ngerayu yah" ujar Bani seraya tersenyum genit ke arah istrinya
"Apaan si abang, pikiran kotor mulu, maksud Syifa itu tidur ya merem, bukan yang itu" jelas Syifa.
"Ah yang itu juga gak papa, Abang siap ko, nanti sebelum sahur kan abang bisa mandi" ujar Bani seraya mendekat ke arah istrinya.
"Stop" ujar Syifa seraya membentangkan tanganya menunjukan tanda stop " inget kata dokter harus nunggu lima atau empat bulan dulu" jelas Syifa.
"Lama sekali nanti lama - lama bisa karatan" ujar Bani.
"Kalau berkarat nanti aku sikat pake garam, soda kue dan juga perasan jeruk nipis, gampang kan " ujar Syifa menarik selimutnya agar bisa menutupi tubuhnya.
"Itu kalau besi yang berkaratnya, kalau senjata abang yang berkarat gimna bersihinnya" ujar Bani dengan pura - pura bersedih.
"Pikiran abang mesum terus" ujar Syifa seraya tidur membelakangi suaminya.
__ADS_1
"Itu akibat Abang tidak di kasih jatah" jelas Bani lalu memeluk istrinya dari belakang. akhirnya mereka terlelap tidur dalam keadaan saling berpelukan.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...