
Bani mendengarkan semua penjelasan Aisha, rasa sedih dan kecewa menjadi satu berkecambuk di hatinya.
"Harusnya kamu cerita, agar kita bisa menyelesaikan masalah ini bareng - bareng" ucap Bani lembut.
"Maafkan aku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya" ucap Aisha memohon, Awalnya ia akan menggenggam tangan Bani namun secara refleks tangan Bani langsung menghindar.
"Aku sudah memaafkan kamu, Tapi ada sesuatu yang harus kamu tau tentang aku" ucap Bani.
"Apa ?" tanya Aisha penasaran.
"Habiskan dulu makan kamu nanti bakal aku ceritakan" ucap Bani mencoba tenang.
Aisha pun mulai menyatap makanannya dengan lahap, mencoba melupakan masa lalunya dan berharap bisa membuka lembaran baru dengan pria yang ia cintai.
"Bani cepat katakan apa yang ingin kamu sampaikan, makanku sudah habis" ucap Aisha yang tak sabar ingin mendengar apa yang akan di sampaikan Bani.
"Hmm baiklah" ucap Bani lalu menyeruput minumannya.
"Asiha kamu sudah tau, jika aku bukan lelaki yang pandai dalam berkata - kata cinta, bahkan aku juga bukan lelaki yang romantis, Aku menunggu mu hampir empat tahun, di tahun pertama dan ke dua aku sibuk mencari keberadaan mu, hingga aku beranikan diri untuk datang langsung ke Bali, namun keberuntungan belum berpihak, Hingga di tahun ke tiga aku mulai mencoba melupakan mu dan menutup hati ini untuk siapa pun" ucap Bani menahan gelora asmara yang pernah ada dan juga menahan sakit hatinya di masa lalu.
"Maafkan aku Bani, jika ke pergian ku membuatmu sakit, tapi sekarang aku telah kembali" ucap Aisha .
"Di tahun ke empat, orang tua ku selalu mencoba mencarikan pasangan untukku, Awalnya aku menolak namun lama - lama aku kasian melihat kedua orang tua yang begitu semangat mencarikan ku pasangan hingga akhirnya aku menyetujui sebuah perjodohan, namun ternyata dia bukan jodohku, dan aku pun gagal untuk menikah". ucap Bani mencoba tenang.
"Bani maafkan aku, tapi percayalah aku kembali untuk mu" ucap Aisha seraya memohon.
"Aku hanya ingin memberikan ini untukmu" Bani menyodorkan sebuah kartu undangan pada Aisha.
Aisha menerimanya dengan ke bingungan, lalu membuka kartu undangan tersebut, betapa kagetnya Aisha saat melihat nama Bani tertulis di dalam kartu undangan tersebut .
"Apa maksud kamu ?" tanya Aisha yang meminta penjelasan pada Bani.
"Aku memang gagal nikah beberapa bulan yang lalu, namun setelah itu aku bener - bener menemukan jodohku, dia adalah Syifa santri dari pesantren yang Abah dirikan" ucap Bani tenang, ia tak tega melihat Aisha yang begitu berharap bisa kembali padanya, namun hatinya bener- bener sudah tertutup untuk Aisha.
__ADS_1
"Kamu jahat Bani, katanya kamu akan setia menunggu ku untuk kembali, tapu nyatanya apa setelah kembali dengan teganya kamu memberikan surat undangan ini untuk ku, di mana janji kamu dulu Bani " Aisha bener - bener kecewa, hatinya sakit, seakan - akan dunia menjadi gelap.
"Menanti selama tiga tahun itu bukanlah hal mudah, jadi aku harap kamu bisa menerima semua ini, aku bukan lelaki yang baik, maka carilah yang terbaik, yang mampu setia " ucap Bani. Aisha terdiam, semua yang di katakan Bani ada benarnya, apalagi ia berstatus janda. namun cintanya ke Bani lebih besar dari segalanya.
"Pernikahan ini bisa di batalkan, Aku sudah kembali Bani" ujar Aisha tegas.
"Mana mungkin aku membatalkan semua itu, pernikahan itu tinggal sepuluh hari lagi. kamu jangan egois" ucap Bani menahan amarahnya.
"Aku yang akan membatalkan semua ini" ucap Aisha ia merobek kartu undangan itu hingga menjadi kecil - kecil.
Dari meja sebelah Tio hanya bisa mendengarkan semua perdebatan antara Bani dan Aisha , secara diam - diam Tio juga merekam kejadian tersebut, Kisah yang di ceritakan Aisha memang sangat menyedihkan namun bukan berarti Bani harus membatalkan pernikahannya demi cinta pertamanya.
Aisha meninggalkan cafe tersebut, dan Bani pun membiarkan begitu saja, melihat Aisha pergi hingga tak terlihat lagi oleh matanya, Rasa kecewa menyelimuti hati Aisha, bahkan Bani tak mencegahnya saat ia akan pergi, cinta untuk Aisha sudah hilang, Aisha pun bertekad untuk mencari tau siapa perempuan yang akan menjadi istrinya Bani.
Setelah ke pergian Aisha, Tio menghampiri meja Bani. "Bro apa yang aku takutkan beneran terjadi" ucap Tio.
"Aku takut jika dia nekad datang ke rumah Syifa" ucap Bani yang mulai panik.
"Lebih baik lu cerita ke Syifa tentang masalah ini, dari pada Syifa tau dari orang lain" ucap Tio.
"Bro anterin dulu gue ke kantor" teriak Tio.
"Naik taxi atau ojek online saja" teriak Bani dan langsung tancap gas menuju rumah Syifa.
"Kampret, tadi dia yang ngajak ke sini, sekarang udah gue anterin malah di tinggal" gerutu Tio.
Bani dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah Asyifa, jarang dari cafe menuju rumah Syifa dapat di tempuh selama satu jam, itu kalau keadaan jalan lancar, beda lagi kalau macet.
Bani terjebak dalam ke macetan karena di depan ada sebuah mobil truk yang bannya bocor, Sembari menunggu Bani mengirim pesan ke pada Syifa.
Ustaz Bani
Abang mau ajak kamu keluar sebentar, ada sesuatu yang harus abang sampaikan ke kamu, sekarang kamu siap - siap, abang lagi otw ke sana.
__ADS_1
Menerima pesan dari Ustaz Bani, Syifa kaget dan juga penasaran, namun karena waktu itu sedang kumpul keluarga, Syifa pun langsung bercerita tentang ajakkan Bani, namun Abi dan Ummah melarangnya kata mereka pamali.
Asyifa
Apakah itu penting sekali, kenapa gak cerita lewat telepon atau chat saja, kata Abi dan Ummah Syifa gak boleh ke luar pamali katanya.
Membaca pesan dari Syifa, Bani baru sadar kalau pernikahanya tinggal menghitung hari, dan menandakan Syifa dan Bani harus menjalakan tradisi leluhur mereka ya itu pingitan.
Ustaz Bani
Hmmm ya sudah nanti Abang kirim chat saja.
Mau tak mau Bani pun memutar arah, dan kembali ke kantornya. Tio pun kaget karena Bani cepat kembalinya.
"Bos cepet banget ?" tanya Tio.
"Gak jadi" ketus Bani.
"Kenapa ?" tanta Tio penasaran.
"Lagi di pingit" jawab Bani yang yang tetap ketus. seketika Tio pun tertawa.
"Jangan ganggu aku, semua pekerjaan kamu yang handle" ucap Bani, Tio yang mengerti langsung meninggalkan Bani sendirian di ruangannya.
...****...
"Nak Bani mau bicara apa hingga ngajak kamu keluar ?" tanya Ummah yang penasaran.
"Gak tau atuh" jawab Syifa jujur.
"Modus itu mah, bilang saja kangen" ledek Abian.
"Kayanya kakak lebih berpengalaman dalam hal ini" Syifa kembali meledek kakaknya.
__ADS_1
Keluarga pak umar pun tertawa melihat tingkah kedua anaknya, ini moment indah yang tak ingin Ummah dan Abi Umar lewatkan, meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga adalah kunci bahagia dalam membina rumah tangga.