
Mendengar bahwa Malik tidak jadi mendapat hukuman mati membuat Bani sedikit lega, setidaknya Malik memiliki waktu untuk bertobat.
"Nanggung, kalau seumur hidup mah, ibarat kata hidup segan mati tak mau" ujar Tio sambil tertawa.
"Mulutmu itu tajam banget" gerutu Bani
Satu persatu masalah yang Bani hadapi mulai terselesaikan, yang kini harus Bani pikirkan bagaimana caranya membuat Aisha tak lagi mengganggu dirinya dan istrinya lagi.
Malam semakin larut Tama dan Tio pamit pulang karena tak ingin mengganggu waktu istirahat si pemilik rumah.
Bani masuk ke kamarnya, dan ternyata istrinya belum tidur karena masih menunggunya.
"Kenapa belum tidur ?" tanya Bani.
"Belum ngantuk" sahut Syifa.
"Bilang saja mau di kelonin, ya kan ?" goda Bani dengan manja.
"Mulai deh" gerutu Syifa.
"Nanti kita cari orang buat bantu - bantu kamu di rumah" ujar Bani.
"Tapi Syifa bisa ko sendiri" Syifa menolak jika dirumahnya menggunakan jasa asisten rumah tangga.
"Iya abang tau, tapi abang gak mau kalau kamu kecapean mengerjakan ini semua, inget kata dokter kamu itu harus banyak istirhata" sahut Bani, ia tak ingin istrinya mengalami kelelahan.
"Ya sudah terserah abang saja" Syifa pasrah dengan keinginan suaminya, ia malas berdebat apalagi ini waktu sudah larut malam.
"Selain bantu kamu, ia juga biasa nemenin kamu ketika abang kerja, jadi abang lebih tenang meninggalkan kamu di rumah, karena ada yang nemenin" sahut Bani lagi. namun yang di ajak bicara sudah tertidur pulas.
Tadi katanya gak ngantuk tapi ini sudah tertidur pulas. gumam Bani.
Bani mencium kening istrinya, lalu ia pun membaringkan tubuhnya menghadap wajah sang istri.
Menikahi seorang santri, yang umurnya terpaut lumayan jauh dari dirinya, tak pernah terlintas di pikirannya. cinta di antara mereka tumbuh begitu saja tanpa di rencanakan, entah apa yang istimewah dari Syifa yang membuat hati Bani bergetar hebat.
...*****...
__ADS_1
Sarapan pagi sudah siap di meja makan, sebelum pulang Abah, Umi, Fariz dan juga Bi Tuti terlebih dahulu melakukan sarapan pagi bersama, setelah sarapan pagi Fariz segera pergi karena ia harus segera ke Resto, karena hari ini resto Fariz akan mulai kembali beroprasi. sedangkan Umi, Abah dan Bi Tuti akan Bani yang mengantarnya pulang.
"Umi, Bani lagi cari orang buat bantu - bantu Syifa di sini" ujar Bani, menjelaskan niatnya mencari asisten rumah tangga.
"Buat sementara bi Tuti kerja di sini saja, urusan di rumah biar Umi yang kerjakan, lagian Umi masih sanggup mengerjakan semua nya ko" jelas Umi.
"Tak usah Umi, nanti Umi kecapean" sahut Syifa.
"Umi nanti juga ada orang - orang pesantren yang bagian dapur untuk bantu Umi, jadi buat sementara Bi Tuti yang akan bantu kamu di sini" ujar Umi, iya tak ingin menantunya kecapean
"Ya sudah berarti mulai hari bi Tuti kerja di sini" ujar Bani dan Bi Tuti hanya menganggu tanda bahwa ia mengerti.
Umi dan Abah pamit pulang pada Syifa, Bani pun izin pada istrinya untuk mengantarkan kedua orang tuanya, sedangkan bi Tuti tidak ikut pulang ia di tugaskan untuk menjaga Syifa.
"Bi, Bani minat tolong ya jagain dulu Syifa, untuk pakaian Bibi yang di rumah Umi akan Bani bawakan sekalian nanti" jelas Bani.
"Terima kasih" ujar Bi Tuti.
Setelah Bani berangkat mengantar Ibunya, Syifa pun duduk di ruang televisi dan di temani oleh sepiring buah naga yang sudah di potong - potong oleh Bi Tuti.
"Bi . ." Syifa menanggil bi Tuti.
"Bibi sedang apa ?" tanya Syifa.
"Bibi baru selesai beresin kamar buat bibi" jawab Bi Tuti. "Ibu mau di buatkan apa ?" tanya Bi Tuti.
"Bi jangan panggil aku ibu dong, rasanya tua banget" protes Syifa dengan wajah yang cemberut.
"Lalu panggil apa, nyonya ?".
"Jangan, udah kaya tinggal di istana saja, panggil Syifa saja" sahut Syifa.
"Kalau di istana manggilnya ratu"Sahut bi Tuti.
"Masa manggil majikan langsung nyebutin nama, gak sopan itu" protes Bi Tuti.
"Jangan anggap aku majikan Bibi, tapi anggap saja Syifa sebagai anak bibi, bolehkan ?" Syifa pun meminta pendapat pada bi Tuti.
__ADS_1
"Ya sudah bibi panggil neng saja ya".
"Iya deh" sahut Syifa. "Bi temenin Syifa nonton tv saja, sekalian ambil cemilan dan kue yang di kulkas, buat nemenim bibi nonton tv" jelas Syifa pada Bi Tuti.
"Iya neng" bi Tuti nurut saja apa yang di perintahkan Syifa, ia juga merasa lelah kerja dari pagi buta membereskan perabotan yamg masih berantakan. bi Tuti merasa beruntung mendapat majikan yang baik, bahkan majikannya selalu menganggapnya keluarga juga. umurnya yang sudah setengah abad namun tubuhnya masih kuat dan segar.
Di sela - sela nonton tv, Syifa sedikit bertanyata tentang kehidupan Bi Tuti yang bisa bekerja di rumah Umi sejak dulu, bahkan dari awal Bani lahir. Syifa sangat antusias mendengarkan kisah hidup dari Bi Tuti yang ke roda kehidupanya terus berputar kadang dibatas dan di bawah. Syifa pun bertanya masalah kehamilannya yang sering mengalami kram di bagian perutnya. bi Tuti menjelaskan hanya yang dia tau, ia tak ingin nantinya majikannya salah tangkap dan bisa berakibat patal.
...*******...
Fariz dan Zidan sedang persiapan untuk pembukaan resto cabangnya di hari esok, Fariz sibuk menyiapkan semuanya, ia ingin pembukaan restonya begitu meriah di hari esok. Fariz dengan teliti memberikan arahan pada setiap pegawai termasuk pegawai yang baru, untuk penanggung jawabnya Fariz mempercayakan kepada Zidan.
Fariz dan Zidan meninggalkan resto cabangnya, hanya untuk mencari makan siang untuk mereka.
"Kita makan di mana nih ?" tanya Zidan.
"Di mana ya, yang enak dan menunya menyegarkan mata" jelas Fariz.
"Mau makan saja ribet" gerutu Zidan.
"Aku males makan - makanan yang berat, kita cari cafe saja, kita ngopi sambil mikirin konsep untuk cara besok" ujar Fariz.
Akhirnya mereka menemukan sebuah cafe yang menurut mereka makanan dan minumannya enak - enak. Zidan dan Fariz memasuki Cafe tersebut mereka memilih tempt duduk yang menurutnya enak untuk di bersantai. Mereka memilih meja yang berada di pojokan agar tidak banyak orang berlalu lalang.
Zidan dan Fariz memesan makanan dan minuman sesuai selera masing - masing. sambil menunggu makanan dam minuman datang Fariz membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa kerjaan yang harus segera di selesaikan.
"Lagi kejar setoran ya" sindir Zidan.
"Bukan, tapi lagi kejar tuyul biar bisa ngasilin duit" jawab Fariz ngasal.
"Bos harusnya aku yang lebih giat kerja biar bisa naik gaji, kan lagi kejar setoran buat acara nikah" ujar Zidan.
"Giliran ada maunya saja baru giat bekerja" gerutu Fariz. "Lo mau nikah ?" tanya Fariz.
"Iyalah nikah nanti kalau gak di nikahin malah di tikung orang, wanita itu butuh kepastian, jemuran di gantung saja bisa kering, dan di ambil orang" sindir Zidan agar Fariz peka dan segera meresmikan hubungannya dengan wanita pujaan hatinya.
"Lu nyindiri gue, laki ko mulutnya lemes" sindiri Fariz.
__ADS_1
sesaat pandangan Fariz tiba - tiba menuju pintu Cafe tersebut, lalu ia melihat seseorang yang ia kenal sedang jalan masuk ke cafe tersebut, namun yang membuat Fariz membelalakan matanya ternyata seseroang itu tidak datang sendiri melainkan dengan lawan jenisnya.