
"Tapi dok, beberapa minggu yang lalu saya haid, bagaimana bisa saya positif hamil ?" tanya Syifa.
"Itu bukan darah haid bu. penyebabnya umum terjadinya pendarahan saat hamil muda adalah karena proses pelekatan sel telur yang di buahi pada dinding rahim. dan itu memang akan terlihat seperti bercak darah ataupun pendarahan ringan selama beberapa jam atau hari, tapi tidak sebanyak mentruasi, kan ?".
penjelasan dokter itu memang sangat tepat seperti yang di alami Syifa. dia merasa aneh saat merasa menstruasi tetapi hanya keluar bercak dan tidak sebanyak biasanya.
"Dok, istri saya mau usg, bisa kan ?" tanya Bani, yang sudah tak sabar ingin melihat calon anaknya.
"Maaf pak, jam segini layanan usg belum di buka, dan akan di buka nanti pukul sebelas siang" jelas dokter.
Bani melihat jam yang ada di tangannya yang menunjukan pukul sembilan, dan jam sepuluh ia harus segera sampai ke kantor karena ada meeting penting.
"Ya sudah nanti saya akan kembali lagi" ucap Bani.
Bani hanya membayar biaya konsultasinya saja, karena Syifa tidak di kasih obat lagi.
Bani pun kembali mengantar pulang terlebih dahulu istrinya pulang. "Sayang, besok saja ya usgnya, hari ini abang ada meeting, besok abang akan libur kerja" ujar Bani pada istrinya.
"Sayang maafin Syifa ya, Syifa sangat ceroboh, semoga calon anak kita baik - baik saja" ucap Syifa yang merasa bersalah.
"Sudah tidak apa - apa, yang terpenting sekarang kamu istirahat jangan banyak aktivitas, biar nanti Abang cari asisten rumah tangga" ujar Bani.
"Tapi Bang Syifa masih bisa ko ngerjain pekerjaan rumah" protes Syifa.
"Iya Abang tau, tapi ini demi anak kita, Syifa harus nurut ya sama Abang" ucap Bani lembut dan membuat Syifa tak bisa lagi membantah perkataan suaminya.
Bani mengantarkan Syifa sampai dalam kamar mereka. "Abang kerja dulu, Abang usahakan nanti siang bisa pulang, gak usah masak, kalau mau makan siang pesen online saja" ujar Bani pada sang istri, mencium kening istri sebelum berangkat kerja.
__ADS_1
Bani berangkat kerja dengan perasaan tidak tenang, sepanjang perjalanan di pikirannya hanya Syifa dan Syifa, apalagi kini istrinya tersebut sedang berada di rumah sendirian. sampai di kantor muka Bani terlihat sangat kusut dan terlihat gurat kecemasan yang ada di wajahnya.
"Kamu kenapa, ada masalah ?" tanya Tio.
"Istri ku di rumah sendirian" ujar Bani. "Apa meeting ini bisa di wakilkan oleh kamu ?" tanya Bani.
"Biasanya juga istri kamu di rumah sendirian" sahut Tio. "Ini meeting penting mana mungkin bisa di wakilkan" jelas Tio.
"Ini situasinya berbeda, istri ku hamil lagi" jelas Bani.
"Wah selamat bro, semoga kehamilannya lancar" ujar Tio senang saat mendengar jika Syifa hamil lagi. "Gini saja, biar meeting ini berjalan dengan lancar dan pikiran kamu juga bisa tenang, kamu hubungi saja Umi buat minta tolong jagain Syifa" Tio memberikan saran.
"Kamu betul". ujar Bania lalu menghubungi Uminya dan minta tolong untuk datang kerumahnya, Bani tak menceritakan kehamilan Syifa, menurutnya biar Syifa saja nanti bercerita langsung pada Uminya, dan untung saja hari ini Umi tidak sedang ada kegiatan hingga ia bisa datang ke rumah Bani.
Sementara di rumah Syifa masih rebahan di kamar, setelah mengetahui dirinya hamil, ia kini jadi lebih malas untuk beraktivitas. ia pun mengambil ponselnya untuk memberitahukan kabar bahagia ini pada Ummah.
"Ummah sudah curiga dari kemaren - kemaren, apalagi melihat perubahan dari diri kamu yang berisi seperti sedang hamil, dan memang ternyata kamu sedang hamil, Kemarin Ummah juga sempat berharap ketika kamu pingsan tebakan Ummah itu benar, namun saat mengdengar penjelasan kamu, ummah sedikit kecewa ternyata tebakan Ummah salah. awalnya ummah ingin bertanya tentang kapan kamu haid, tetapi semuanya Ummah urungkan karena takut melukai hati kamu" jelas Ummah yang sudah curiga sejak awal jika putrinya sedang mengandung.
"Syifa bener - bener tidak menyadarinya Ummah, Syifa sempat pusing dan mual seperti orang hamil muda, namun pas di periksa asam lambung Syifa naik, dan beberapa hari setelah itu Syifa haid namun hanya bercak darah saja, itu pun sempat membuat Syifa kaget dan takut kalau Syifa mempunyai penyakit serius, namun waktu itu Syifa beranggapan bahwa Syifa hanya kelelahan saja, jadi haid Syifa tidak lancar" ucap Syifa.
"Ini sebuah anugrah terindah nak, tidak di rencanakan bahkan kehadirannya pun tidak di sangka - sangka" ucap Ummah yang begitu bahagia mendengar jika Syifa kembali hamil.
"Iya Ummah".
Syifa menutup panggilannya karena ada suara yang mengucapkan salam. Sepertinya ada tamu, siapa yang datang ya. gumam Syifa dalam hatinya.
dengan sekuat tenaga Syifa bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ruang tamu untuk melihat Syifa yang datang.
__ADS_1
"Asalamualikum" ucap salam dari Umi.
"Waalaikumsalam, Umi" jawab Syifa sangat terkejut dengan kedatangan mertuanya.
"Umi tumben datang ke sini tidak ngabarin Syifa dulu ?".
"Tadi Suami mu menghubungi umi buat datang ke sini, katanya suruh menemani kamu" jelas Umi. "Kamu sakit Syifa, ko muka kamu pucet sekali ?" tanya Umi yang memperhatikan wajah Syifa dengan teliti.
"Umi duduk dulu saja, nanti Syifa jelaskan" titah Syifa pada mertuanya. "Umi mau minum apa ?" tanya Syifa.
"Tak usah repot - repot nak, nanti jika Umi haus, umi akan ambil sendiri" jelas Umi ia merasa jika menantunya itu sedang tidak baik - baik saja.
Syifa duduk di samping mertuanya dan mulai menceritakan kabar bahagia tersebut. setitik bening nampak menghiasi pelupuk mata Umi, ia bener - bener sangat bahagia mendengar menuturan menantunya, kini ia paham kenapa Bani menyuruhnya datang ke rumah tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya. keduanya berpelukan sambil mengucapkan rasa syukur.
"Barakallahu, Umi sangat senang mendengarnya" ucap Umi sambil terisak.
"Umi ini udah siang, Syifa belum masak, karena Abang melarang Syifa untuk masak. Syifa mau pesen makanan online, umi mau makan apa ?" tanya Syifa.
"Gak usah pesan online, biar Umi yang masak special buat kamu" ujar Umi.
"Tapi Umi, bahan buat masaknya sudah habis, tadinya siang ini Syifa mau belanja, tapi karena Syifa baru tau kalau Syifa hamil, Abang melarang Syifa ke mana - mana" jelas Syifa.
"Gimana kalau kita pesen sama Fariz saja, Umi kangen masakan restonya dia. kita minta delivery ke rumah saja" usul Umi.
"Boleh Umi" sahut Syifa.
Tak berapa Umi langsung menghubungi Fariz untuk di minta di anterin makanan ke rumah Syifa. Umi memesan makanan dalam tiga porsi karena satu porsi untuk security. tak lupa Umi juga menyampaikan kabar bahagia itu pada Fariz.
__ADS_1