Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 191


__ADS_3

Bani meluncur menuju sebuah alamat yang di kirim oleh Tio. satu jam perjalanan akhirnya Bani sampai di alamat tersebut, Bani memarkirkan mobil di pinggir jalan tepat di dekat mobil milik Tio.


Bani turun dari mobil tersebut dan langsung menghampiri Tio yang menunggunya di dalam mobilnya.


"Sekarang kamu jelaskan, ada apa ini ?" tanya Bani pada Tio.


"Masuk !" Titah Tio pada Bani.


Setelah Bani masuk ke dalam mobil miliknya, Tio pun langsung menceritakan semuanya, maksud dari Tio menyuruh Bani datang ke lokasi tersebut.


"Kamu serius ?" tanya Bani, seakan tidak percaya dengan apa yang di jelaskan oleh Tio.


"Aku serius, aku sudah mengerahkan anak buah ku" ujar Tio.


"Apa salah ku sampai mereka mengusik ketenangan keluarga ku ?" tanya Bani, karena menurutnya ia tak pernah punya masalah dengan orang yang di maksud oleh Tio.


"Sepertinya ini masih ada sangkut paut dengan kasus yang kemaren" ujar Tio.


"Menurutku itu tidak masuk akal, di sini aku dan keluarga ku jadi korban, dan lagian kan bukan dia yang jadi tersangkanya, kenapa dia seperti dendam pada keluarga ku ?".


Tiba - tiba Tio mendapat laporan jika orang yang di curigainya akan keluar dari markas persembunyiannya. Tio, Bani dan dua anak buahnya siap mengikuti target menunggunakan mobil milik Tio, sedangkam mobil milik Bani akan di bawa oleh anak buah Tio yang lainnya.


Bener saja ada dua orang keluar dari sebuah gang dengan menggunakan motor metic yang sama persis dengan yang ada di rekaman cctv. lalu Tio memerintahkan anak buahnya yang berada di balik kemudi agar mengikuti target.


Anak buah Tio dengan cekatan menyalip satu dua mobil yang ada di depannya agar mereka tak kehilangan jejak orang tersebut. setelah mengikuti selama setengah jam, orang tersebut menghentikan motornya di sebuah cafe.

__ADS_1


"Kamu masuk ke dalam kami menunggu di sini" titah Tio pada anak buahnya.


Anak buah Tio mengikuti intruksi yang di berikan Tio. mereka memasuki cafe dan mencoba mencari tempat duduk yang berdekatan dengan target agar bisa menguping pembicaraan mereka.


Bukan anak buah Tio jika mereka tidak bisa menjalankan tugas mereka dengan baik. mereka mendapatkan beberapa foto dan juga Video yang menjelaskan bahwa mereka adalah pelaku dari semuanya. setelah mendapat cukup bukti yang kuat anak buah Tio pun berlalu meninggalkan Cafe tersebut dan kembali ke dalam mobil.


"Bagaimana ?" tanya Tio.


"Beres bos. bener dugaan kita, mereka adalah dalang dari semuanya" ujar Salah satu anak buah Tio dan menyerahkan bukti - bukti yang mereka dapatkan.


Bani dan Tio memutar video tersebut, Bani sangat tercengang dengan pembicaran mereka, hal ini membuat Bani sampai terheran - heran karena mereka melakukan itu pada orang yang tak bersalah bahkan bisa di bilang tidak tahu apa pun dengan masalah mereka.


"Kita biacarakan besok di kantor, Sekarang aku harus segera pulang" ujar Bani.


"Baiklah, kita tunggu anak buah gue yang sedang melaju ke sini membawa mobil lo" ujar Tio.


"Bi, Syifa sudah makan ?" tanya Bani.


"Sudah pak" sahut Bi Tuti.


Malam ini Bani makan malam sendirian, tak ingin membangunkan istrinya walaupun hanya sekedar untuk menemani makan malamnya. biasanya nanti tengah malam istrinya akan terbangun karena selalu merasa lapar padahal sebelum tidur ia makan malam terlebih dahulu di tambah dengan segelas susu khusus ibu hamil.


...******...


Di sebuah Yayasan, Aisha sedang khusyuk mendengarkan nasehat - nasehat dari abah Anom. setelah shalat isya Abah Anom memberikan sedikit tausiyah tentang manusia yang suci tapi belum tentu suci di hadapan allah. setiap manusia yang hidup di muka bumi memang tak pernah luput dari salah dan juga dosa. namun Allah maha pengampun bagi siapa saja yang mau bersungguh - sungguh dalam taubatnya.

__ADS_1


Kurang lebih berada dua bulanan Aisha tinggal di sana, kini ia terlihat lebih mendekatkan dirinya pada sang maha kuasa. selama di sana Bayu tak pernah datang untuk menjenguknya itu sesuai permintaan Aisha. mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel yang di berikan Bayu pada Aisha.


Aisha merasa mendapat ketenangan selama tinggal di yayasan tersebut, bahkan kini Aisha juga membantu mengajar pada anak - anak yatim piatu yang tinggal di sana. keberadaan Aisha di sana sangat menguntungkan bagi pengurus yayasan. karena mereka tak perlu menghadirkan guru untuk anak Yatim piatu agar mendapatkan pendidikan yang layak. para para pengurus yayasan sangat kewalahan dalam memberikan pendidikan pada anak - anak di sana karena saking banyaknya anak yatim piatu yang tinggal di sana.


Beberapa rekan Aisha seperti Kia, mereka sudah pulang di jemput keluarga masing - masing, hanya tinggal beberapa orang lagi yang tinggal di sana itu pun mereka baru, dan masih sulit di ajak komunikasi oleh Aisha.


Setelah tausiyah selesai, Aisha di ajak umi Lilah untuk ikut ke rumahnya, menurutnya ada yang ingin di bicarakan oleh Umi Lilah.


"Silahkan duduk dulu, kita tunggu Abah dulu" ujar Umi dan Aisha hanya mengangguk.


Abah Anom baru saja memasuki rumahnya dan langsung duduk di sebelah sang istri.


"Nak, Umi lihat kamu punya potensi jika kamu berprofesi sebagai guru" ujar Umi Lilah.


"Iya bener, Abah ingin kamu jadi pengajar tetap untuk anak yatim piatu yang ada di sini" Timpal Abah anom.


"Tapi apa Aisha pantas untuk menjadi seorang pengajar, Aisha ini mantan narapidana" ujar Aisha seraya tertunduk.


"Nak, jangan selalu berbicara seperti itu, tak selamanya narapidana itu jahat. Umi yakin kamu bisa bangkit dari keterpurukan kamu" ujar Umi Lilah.


"Apa kamu akan pulang ke daerah asal kamu ?" tanya Abah Anom.


"Kalau boleh saya jujur, saya sudah tidak punya tempat tinggal lagi, saya juga anak yatim piatu" ujar Aisha lirih.


"Nak tinggal saja di sini selamnya, insya allah mereka akan senang dengan keberadaan kamu di sini, setidaknya bisa meringankan beban mereka" ujar Umi.

__ADS_1


Setelah pembicaraan panjang lebar, Aisha kembali ke kamarnya, Ia masih bingung, jika dirinya tinggal di sana, bagaimana bisa ia mendapatkan uang demi membayar semua hutang - hutangnya pada Bayu. namun jika keluar dari sana apa dirinya akan di terima baik oleh masyarakat dan mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai ke inginannya.


Aisha bersimpul di atas lantai, kedua tangannya menengadah, mulutnya melantunkan permohonan agar di beri petunjuk yang terbaik demi kehidupannya, ia ingin hidup layak seperti dahulu tanpa bayang - bayang masa lalu yang menghantui dirinya yang selalu merasa bersalah. tak lupa juga Aisha mengirimkan doa untuk kedua orang tuanya dan juga adiknya yang telah pergi mendahului dirinya.


__ADS_2