Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 187


__ADS_3

Lelaki Bernama Fahri itu pergi meninggalkan Resto Fariz dan menuju sebuah kantor yang berada tak jauh dari resto tersebut.


"Bagaimana ?" tanya bosnya itu.


"Berhasil" ujar Fahri.


"Kerja yang bagus, ini uang bayaran untuk kamu, dan ingat jangan pernah menampakan batang hidung kamu lagi di sini".


Lelaki bernama Fahri hanya mengangguk lalu mengambil uang yang di berikan oleh bosnya itu.


"Ingat jangan sampai ada yang tahu tentang masalah ini. karena kalau sampai ada yang mengetahui rencana ini maka kamu yang akan masuk penjara !" ancam bosnya. lelaki itu berlalu dari kantor tersebut dan berencana untuk pergi meninggalkan kota tersebut dengan uang yang di berikan oleh bosnya.


Bosnya Rara tertawa sepuasnya, karena rencananya kali ini berhasil, ia membayangkan jika saat ini Fariz dan Rara sedang bertengkar hebat, dan pastinya Fariz akan mempertanyakan anak siapa yang di kandung Rara.


Inilah akibatnya jika dia menghiraukan acaman saya, akan ku tunggu janda mu Rara. gumamnya senang.


Sedangkan Fariz setelah lelaki bernama Fahri itu pergi meninggalkan restonya, Fariz memilih kembali ke ruangannya, ia tak ingin mengganggu para pengunjungnya. Tama mengikuti Fariz menuju keruangannya.


"Fariz saya ingin bicara !" seru Tama.


"Silahkan kak" sahut Fariz.


"Maaf tak ada niat untuk ikut campur urusan rumah tangga kalian, namun ada sesuatu yang harus kamu ketahui" ujar Tama.


"Tidak apa - apa kak".

__ADS_1


"Fariz apa kamu mengetahui tentang percobaan pemerkosaan terhadap Rara, di saat Rara ingin mengundurkan diri dari kerjaannya ?" tanya Tama.


"Iya saya tahu kak, karena waktu kejadian itu Rara mampu melepaskan dirinya dan langsung berlari ke arah resto dengan kondisi yang ketakutan, aku marah kak, ingin aku melaporkan masalah ini ke pihak yang berwajib. namun kami tak cukup bukti. awalnya aku ingin cerita masalah ini kepada kak Tama ,namun melihat kondisi Rara yang ketakutan membuat aku berpikir lebih baik jangan memperpanjang masalah ini karena takut berdampak pada kondisi Rara" jelas Fariz.


"Maaf kak, aku tidak bisa menjaga Rara dengan baik" ujar Fariz takut jika kakak iparnya akan marak padanya.


"Hmm sudah lupakanlah kejadian itu, karena itu sudah terjadi. dan ada yang lebih penting lagi, kini Rara sering mendapat pesan dengan nada ancaman dari nomor yang tidak kenalnya" jelas Tama membuat Fariz terkejut.


"Kakak serius, tapi kenapa Rara tidak pernah cerita !" seru Fariz, ia tidak percaya jika sang istri sedang masalah dan Rara pandai menyembunyikan masalah tersebut dari dirinya.


"Saya juga baru tahu kemaren saat datang kerumah kalian, ketika saya. data di sana rara sedang menangis, ternyata ada seseorang yang dengan sengaja mengirim foto kamu berdua dengan wanita lain, yang di ketahui perempuan itu bernama Leni".


"Tapi sumpah demi allah saya tidak ada main dengan perempuan itu, Leni adalah orang yang tiba - tiba datang untuk mengajak kerjasama" jelas Fariz ia takut jika kakak ipar nya jadi ikut salah paham.


"Aku percaya ko, dan untung kamu bisa menolak kerjasama tersebut, karena yang saya tahu perempuan itu adalah orang suruhan dari mantan bosnya Rara. ia ingin menghancurkan rumah tangga kalian". jelas Tama


"Kakak tahu dari mana ?".


"Kemaren Rara menyuruh saya datang ke resto dan mengikuti perempuan bernama Leni tersebut, namun saat saya mengikuti perempuan itu ternyata dia mendatangi sebuah cafe dan bertemu dengan seseorang yang tak lain adalah mantan bosnya Rara" jelas Tama dan lagi - lagi membuat Fariz terkejut. entah kenapa bisa dia akan berhubungan dengan orang - orang seperti itu dan hampir termakan omongan orang tersebut.


"Kak saya ingin melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib" ujar Fariz.


"Iya bener, saya feeling jika orang yang mengirim ancaman tersebut adalah mantan bosnya Rara" ujar Tama.


Fariz dan Tama mereka membicarakan tentang laporan yang akan di buat dengan pasal pengancaman. dengan bukti - bukti pesan tersebut, setelah cukup lama berbincang - bincang Tama pun pamit ia akan membahas masalah ini dengan rekan kerja yang lainnya.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian setelah kejadian tersebut, Tama dan tim langsung membuat laporan tersebut. dan saat itu juga mantan bosnya Rara langsung di jemput di kantornya untuk di mintai keterangan tentang laporan yang di buat Tama.


Selama menjalani penyelidikan, mantan bosnya Rara selalu mengelak saat di ajukan beberapa pertanyaan seputar pengancaman terhadap Rara. namun pihak polisi menaruh curiga dengan gelagat gugup yang di rasakan oleh mantan bosnya Rara. saat polisi sedang menghubungi nomor yang mengancam Rara dan saat yang berbarengan ada suara dering ponsel dari tas milik mantan bosnya Rara tersebut. dari situ mantan bosnya Rara tidak bisa mengelak lagi dan saat itu juga langsung di tetapkan sebagai tersangka.


...******...


Waktu terus berjalan usia kandungan Syifa telah menginjak usia kehamilan tujuh bulan. bahkan kemaren Syifa dan Bani mengadakan acara syukuran kecil - kecilan yang hanya di hadiri oleh keluarga inti dan juga anak - anak pesantren. acara tersebut sangat berbeda dengan acara ketika syukuran kehamilan ke empat bulan beberapa bulan yang lalu.


Usia kehamilan tujuh bulan adalah waktu yang sangat di tunggu - tunggu, karena di usia kehamilan tujuh bulan Syifa sudah di perbolehkan untuk membeli perlengkapan bayi, bahkan Syifa juga sudah menyiapkan kamar untuk calon buah hati mereka yang berada tepat di samping kamar Bani dan Syifa.


"Sayang ayo cepat" ujar Syifa, karena menurutnya Bani terlalu lama berada di kamar mandi. hari ini Syifa dan Bani


memang sedang berada di rumah Abah dan Umi karena Bani ada jadwal mengajar di pesantren.


"Iya bentar" ucap Bani. Bani dan Syifa sengaja pulang lebih dari awal dai rumah Abah dan Umi, karena Syifa berencana untuk langsung pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli perlengkapan bayi.


"Umi kita pamit dulu ya, kita mau langsung nyari perlengkapan Bayi" ujar Bani pamit pada kedua orang tuanya.


"Ya sudah, kalian hati - hati, ingat belilah yang sekiranya penting saja, dan jangan beli banyak pakaian bayi karena proses pertumbuhan bayi itu sangat cepat" ujar Umi menasehati Syifa.


"Iya Umi" ujar Syifa.


Syifa dan Bani pun langsung pergi menuju tempat tujuannya. sampai di sana mereka langsung menuju toko yang menjual perlengkapan bayi. Syifa di buat bingung sendiri karena menurutnya semuanya bagus - bagus.


Syifa hanya membeli beberapa potong pakaian untuk calon buah hatinya. setelah itu Syifa langsung mengajak pulang sang suami.

__ADS_1


"Kenapa belinya sedikit banget ?" tanya Bani.


"Nanti kapan - kapan ke sini lagi, kali saja ada koleksi terbaru" ujar Syifa. mereka langsung membayar belanjaannya dan bergegas pergi meninggalkan pusat perbelanjaan.


__ADS_2