Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 201


__ADS_3

Semua orang kini berkumpul di ruang tamu, satu persatu mereka menanyakan tentang pengalaman pak dokter selama menjadi relawan medis di tempat bencana alam.


Namun pandangan pak Dokter terhenti, ketika melihat sosok yang begitu asing baginya, karena pak dokter tidak mengenali sosok perempuan tersebut.


"Umi dia siapa ? Apa orang baru di yayasan sini, dan kenapa ikut gabung bersama para pengurus yayasan ?" tanya pak dokter pada Umi Lilah yang kebetulan duduk di sampingnya.


"Dulunya dia hanya ingin menenangkan dirinya di sini, tapi lama ke lamaan dia betah tinggal di sini, dan memutuskan tinggal di sini, dan dia juga sebagai tenaga pengajar untuk bagian anak - anak" ujar Umi Lilah dengan sedikit berbisik.


"Keluarganya gak ada yang nyari dia ?".


"Dia anak yatim piatu, ada keluarganya yang lain tapi mereka sudah tidak peduli" jelas Umi Lilah dan pak dokter pun hanya mengangguk tanda bahwa ia mengerti. Umi Lilah tak ingin membicarakan tentang masa Aisha. karena menurutnya itu bukan urusan mereka untuk menghakimi seseorang hanya karena masa lalunya.


Setelah acara makan - makan, Umi Lilah memanggil Aisha, Umi Lilah memperkenalkan anaknya pada Aisha.


"Aisha ini anak Umi satu - satunya, dia ini baru pulang setelah berbulan - bulan jadi relawan" ujar Umi Lilah.


"Nama saya Martin" dokter sebut memperkenalkan dirinya dengan menjulurkan tangannya.


"Aisha". Aisha tak menyambut uluran tangan Martin. Aisha hanya menakupkan tangannya di dada.


"Hmm Maaf" ujar Martin kemudian menarik tangannya kembali. "Semoga betah ya tinggal di sini" sambung Martin.


"Insya Allah pak dokter" sahut Aisha.


Setelah itu Aisha berlalu, ia kembali membantu yang lainnya membereskan piring bekas makanan kemudian di cucinya. Aisha merasa nyaman di sana karena setiap kegiatan selalu di lakukan secara bersama - sama.


...*****...

__ADS_1


Semua yang hidup pasti akan bermuara pada kematian. entah jodoh dulu yang datang melamar atau malaikat maut yang akan menikahimu dengan kematian.


Syifa berkali - kali meringis menahan sakit yang menyeruak, menjalar ke seluruh tubuhnya. seluruh persendiannya sakit bukan main, seakan - akan di patahkan. kepalanya juga seperti mau pecah karena menaham rasa sakit yang begitu dahsyat.


Dan itulah yang di rasakan Syifa saat ini. Sore tadi Syifa masih baik - baik saja. sepulang sang suami dari kantor, mereka masih becanda, menikmati sore bersama sambil bercengkrama.


Ba'da shalat isya, perut Syifa tiba - tiba merasa mulas, tapi masih bisa di tahan, meski sesekali wajahnya meringis menahan rasa sakit. ia belum berani untuk mengadu pada sang suami karena Syifa pikir itu hal yang wajar walaupun rasa sakitnya kali ini lebih sakit dari biasanya.


"Sayang kamu kenapa ?" tanya Bani yang baru menyadari jika istrinya sedang meringis menahan sakit.


"Sakit, Bang. perut sama pinggang" sahut Syifa lirih karena menahan rasa sakit, pinggungnya terasa panas dan nyeri. seolah baru saja terkena lemparan batu yang begitu besar. sedangkan perut bagian bawah merasakan nyeri yang hebat.


"Kamu tahan dulu, Abang panggil bi Tuti dulu" ujar Bani yang seketika menjadi panik.


Bani keluar dari kamarnya memanggil Bi Tuti tak selang berapa lama Bi Tuti datang dengan tergopoh - gopoh karena saking paniknya di panggil majikan dengan berterik seperti itu.


"Ada apa pak.?" Bi Tuti mengatur napasnya serta berpikir keras, apa yang telah di lakukannya sehingga membuat majikannya berteriak memanggilnya.


"Apanya yang sakit neng ?" tanya Bi Tuti yang kini ikut duduk di lantai seperti Syifa.


"Bi perut Syifa, punggung Syifa, rasanya sakit semua bi, ini sakitnya beda dari yang biasanya" ujar Syifa dengan nada yang sudah melemah karena terus - terusan menahan rasa sakit.


"Kita ke rumah sakit saja, sepertinya sudah mau melahirkan" ujar Bi Tuti.


Mendengar hal tersebut Bani langsung segera mengambil konci mobil dan membawa beberapa kantong perlengkapan Bayi dan Ibunya.


"Kamu tunggu sebentar Abang siapkan mobil dulu" ujar Bani seraya berlari.

__ADS_1


Lima menit kemudian Bani kembali.


"Ayo sayang, bismillah, kamu kuat ya". Bani menggendong sang istri ke dalam mobil dan Bi Tuti mengekor dari belakang dengan membawa tas milik Syifa.


Syifa di dudukan di jok belakang bersama Bi Tuti, sedangkan Bani duduk di belakang kemudi.


"Pak nitip rumah ya, saya ke rumah sakit dulu" ujar Bani pada pak Yanto.


"Baik pak".


Bani berusaha tenang saat mengemudikan mobilnya di jalanan yang tak begitu padat. konsentrasinya terpecah saat mendengar rintihan dari sang istri.


"Sabar sayang, jangan putus berdoa ya" ujar Bani. ia melirik sang istri dari kaca spion depan.


Doa adalah obat yang mustajab, apalagi bagi seorang perempuan, di balik kelemahan seorang perempuan ada kekuatan maha dahsyat yang mampu menembus langit dan kekuatan itu adalah doa.


Ali menghembuskan napasnya lega, saat mobilnya memasuki area rumah sakit. Bani menghentikan mobilnya tepat di pintu utama rumah sakit. karena tak mau menunggu lama dan mengambil kursi roda. Bani langsung menggendong sang istri. baru lima langkah berjalan, ada salah satu perawat membawakan kursi roda. perawat tersebut langsung di dorong oleh perawat untuk di bawa ke ruang gawat darurat. pakaian Syifa nampsk terlihat basah, mungkin itu rembesan air ketuban.


Sebelum di bawa ke ruang bersalin. Syifa menjalani serangkaian pemeriksaan terlebih dahulu. dan Bani dengan setia berada di samping sang istri. sedangkan Bi Tuti mengunggu di luar ruangan.


"Dok bagaimana, Apa ini kontraksi palsu, usia kehamilan istri saya baru masuki minggu ke tiga puluh enam ?" tanya Bani saat dokter sedang memeriksa kondisi istrinya. "Istri saya sudah mau melahirkan ?" tanya Bani lagi.


"Pak, pada kehamilan kembar memang di sarankan untuk tidak di lahirkan di atas usia kehamilan tiga puluh tujuh minggu" jelas sang dokter.


Dokter menyarankan agar Syifa melahirkan melalui operasi cesar demi keselamatan bayi dan juga ibunya. memang ada yang melahirkan bayi kembar secara normal tetapi resikonya juga sangat besar. jadi langkah operasi cesar harus di ambil untuk mengurangi resiko tersebut.


"Tapi Bang, Syifa ingin melahirkan secara normal biar jadi ibu seutuhnya, perempuan yang sempurna karena berhasil menjalani kodartnya, yaitu mengandung, melahirkan lalay nanti menyusui". Syifa protes saat sang suami memintanya untuk menuruti saran dokter.

__ADS_1


Bani menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang istri. tidak benar jika mengatakan bahwa perempuan yang belum merasakan melahirkan normal dan mengandung bukanlah perempuan yang sempurna.


"Sayang, Enggak boleh bilang seperti itu, semua perempuan itu sempurna. mau melahirkan secara normal ataupun lewat operasi, kan sama - sama berjuang antara hidup dan mati, antara rasa sakit dan bahagia akan segera bertemu dengan buah hati". Bani menasehati istrinya. tangan Bani terulur membingkai di wajah sang istri.


__ADS_2