
Baru tiga puluh menit Asyifa memejamkan matanya, Nayla sudah membangunkannya, dengan menggoyangkan tubuh Asyifa.
Terdengar lantunan sholawat dari surau membuat Asyifa membuka matanya yang masih mengantuk, Asyifa berjalan ke toilet untuk mencuci muka dan mengambil Air wudhu,setelah itu mereka beriringan menuju surau.
Suaranya merdu sekali tapi sayang kalau lagi marah mirip macan. gerutu Asyifa saat melihat ustaz Bani sedang melantunkan sholawat.
Tausiah kali ini di awali oleh Kyai Hasan, dan di lanjutkan oleh ustaz Bani. namum Karena rasa ngantuk yang melanda, gara - gara semalaman gak bisa tidur, di sela - sela ustaz Bani memberi tausiah Asyifa tertidur sambil duduk dan menundukan kepalanya. Hal itu membuat ustaz Bani kesal, karena yang lain segitu antusias memperhatikan tausiahnya sedangkan Asyifa malah menunduk.
"Kamu yang lagi menunduk, pahamkan dengan apa yang saya jelaskan !" ujar ustaz Bani dengan sedikit membentak.
Asyifa langsung celengak - celinguk mencari siapa yang di maksud oleh ustaz Bani.
"Kamu yang lagi celengak - celinguk, paham kan dengan penjelasan saya ?" tanya Bani kembali dengan nada penuh penekanan.
Asyifa menunjuk dirinya. "Saya !" seru Asyifa dengan raut wajah bingung dan takut.
"Iya kamu !" ujar ustaz Bani penuh penekanan, sebenarnya Bani ingin sekali membentak santri tersebut namun dirinya tidak berani karena ada Kyai Hasan di sampingnya.
"Saya. ., Anu. ." ujar Asyifa dengan geteran dan juga bingung mau jawab apa. " Saya paham ko ustaz" sambung Asyifa dengan rasa takutnya.
"Bagus kalau kamu paham" ujar ustaz Bani sambil tersenyum licik ke arah Asyifa. "Kalau gitu sekarang kamu jelaskan apa saja yang tadi saya bicarakan. !" perintah ustaz Bani pada Asyifa.
Asyifa gelagapan bingung apa yang harus di jelaskan karena sepanjang tausiah Asyifa tidur. Nayla ingin memberi tahu apa yang harus Asyifa jelaskan namun Nayla terlebih dahulu mendapat tatapan tajam dari ustazah Salwa.
"Tadi itu. . tadi itu. . " ujar Asyifa sambil pura - pura mikir.
"Makanya kalau orang lagi ngomong dengerin jangan malah tidur" ujar ustaz Bani. "kita lanjutkan lagi tausiahnya dan dengarkan secara baik - baik" perintah ustaz Bani pada semua santri.
"Maaf. . " ucap Asyifa lirih.
Dasar bocah manja, so - soan mau pesantren, mening bobo cantik di rumah saja. ujar seseorang yang tidak menyukai kehadiran Asyifa.
Kegiatan tausiah selesai di lanjutkan dengan acara shalat subuh, yang menjadi imam dari shalat subuh adalah Kyai Hasan.
Setelah shalat subuh Bani langsung berjalan ke arah rumahnya dengan perasaan yang masih kesal karena kelakuan Asyifa yang malam tidur di saat Bani memberikan tausiah.
__ADS_1
"Anak Umi ko mukanya asem banget ?" tanya Umi saat Bani memasuki rumahnya.
"Kesel Umi, tadi ketika tausiah ada santri yang malah tidur". ujar Bani menjelaskan kenapa ia kesal.
"Sabar nak, mungkin dia punya alasan kenapa dia bisa ke tiduran" ujar Umi menenangkan anaknya. "Nak Umi boleh minta tolong ?" tanya Umi pada Anaknya.
"Bisa gak antar Umi untuk belanja kebutuhan dapur buat di pesantren !" Umi menjelaskan maksudnya.
"Mang udin kemana, kan biasanya dia yang belanja ?" tanya Bani yang merasa heran.
"Mang udin lagi ada acara keluarga nak, Bi Ijah harus segera masak untuk santri, jadi Umi putuskan, Umi saja yang akan pergi ke pasar, kamu gak usah khawatir nanti Umi juga mau ajak dua orang santri untuk bantu Umi" Umi menjelaskan panjang lebar pada Bani.
"Ya sudah terserah Umi. Bani mau ke kamar ganti baju dulu" ujar Bani sembari berjalan ke arah kamarnya.
Umi yang sudah siap langsung ke dapur pesantren untuk meminta data apa saja yang harus di beli.
"Bi mana daftar belanjaannya ?" tanya Umi dengan suara yang lembut.
"Eh Umi. . " Bi Ijah kaget dengan kedatangan Umi. "Ini semuanya sudah saya tulis di sini " Bi Ijah memberikan selembar catatan belanja pada Umi.
Bi Ijah langsung memperhatikan semua santri yang sedang ada di dapur, namun kelihatannya semua santri di dapur terlihat begitu sibuk mengerjakan tugas mereka masing - masing.
"Umi maaf kayanya yang di dapur lagi sibuk semua, karena kita di kejar waktu, gimana kalau ajak santri yang sedang bersih - bersih di luar". usul Bi Ijah pada Umi. "Apa perlu saya carikan santrinya ?" Sambung Bi Ijah yang merasa tak enak hati dengan Umi.
"Gak usah Bi, biar saya aja yang nyari" ujar Umi yang langsung pergi meninggalkan dapur pesantren. kira - kira siapa ya yang bisa aku ajak ke pasar buat bantu - bantu ?. tanya batin Umi.
Umi berjalan ke arah halaman pesantren dan aula, di sana banyak santri yang sedang goyong royong membersihkan pesantren.
"Umi sedang ngapain di sini ?" tanya ustazah Salwa.
"Ini Umi lagi cari santri yang mau Umi ajak ke pasar, buat bantu - bantu Umi !" jawab Umi sambil matanya terus memperhatikan satu - persatu santri yang sedang bergotong royong.
"Oh gitu, Gimana kalau Salwa saja Umi " Salwa menawarkan dirinya pada Umi.
"Hmmm. . " Umi berpikir sejenak. "Kamu pagi ini bukannya ada jadwal buat ngajak ?" tanya Umi pada ustazah Salwa.
__ADS_1
"Iya ada Umi, tapi itu bisa di wakilkan sama ustazah Aisyah". jawab ustazah Salwa.
"Kalau gitu Umi cari santri yang lagi gak sibuk saja". ujar Umi membuat ustazah Salwa sedikit kecewa, namun ustazah tidak mampu menyanggah Umi.
Umi terus berjalan ke arah kerumunan santri yang sedang goyong royong, Umi memperhatikan satu - persatu santri, karena Umi tidak mau mengganggu kegiatan santri jadi Umi memilih santri yang sudah menyelesaikan kerjaannya.
"Umi sedang apa di sini ?" tanya salah seorang santri yang sedang menyapu halaman santri.
"Umi lagi cari santri yang sudah selesai mengerjakan pekerjaannya buat bantu Umi" jawab Umi dengan lembut.
"Yang lagi membersihkan aula kayanya sudah mau beres Umi !" seru salah satu santri.
"Iya Umi di sana yang bekerja banyak, dan biasanya kalau mereka sudah selesai akan membatu kita di sini" timpal santri lain.
"Coba Umi liat dulu kesana yah". ujar Umi sambil melangkah ke arah aula.
Mata Umi terus memonitor ke seluruh sudut pesantren.sehingga ia tidak begitu memperhatikan ke arah di mana Umi melangkah.
"Aawww" rintih Asyifa saat bersenggolan dengan seseorang, karena Asyifa sedang asik bercanda bareng temen - temennya.
"Aduhh. ." rintih seseorang yang tersenggol oleh Asyifa.
"Maaf . ." seru Asyifa dengan lirik dan menundukan kepalanya.
"Umi tidak papa ?" tanya Nayla saat melihat ternyata pemilik pesantren yang tersenggol Asyifa.
"Kalian. maaf tadi Umi tidak fokus memperhatikan jalan" ujar Umi saat melihat Nayla dan temen - temennya.
"Maafin Asyifa Umi " ujar Asyifa dengan rasa takut.
"Tidak apa - apa, ini juga salah Umi yang tidak fokus" ujar Umi menjelaskan. "Kalian mau ke mana ?" tanya Umi.
"Kami mau bantu mereka yang sedang bekerja di halaman karena tugas kami sudah selesai" jawab Mila.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1