Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 97


__ADS_3

Sesuai rencana Rara datang ke resto Fariz, namun sayang Fariz tidak ada di tempat, karena kebetulan waktu itu Fariz dan Zidan sedang mengunjung resto cabang mereka. Rara mencoba menghubungi Fariz namun nomor Fariz tak bisa di hubungi, hal itu membuat Rara merasa bingung.


"Tadi dia bilang ada di resto tapi aku datang ke sini kata pegawainya mereka sedang tidak ada di sini, Akhir - akhir ini Fariz seperti menjauh, apa sejak awal dia tidak pernah menyukai ku, apa aku salah dalam mengartikan semua kebaikannya, tapi kenapa dia perah bertanya tentang huhungan yang lebih serius, apa semuanya hanya becandaan semata, atau jangan - jangan keluarganya tidak menyukai ku" Gumam Aisha dalam lamunannya.


"Yang aku tau dari kak Tama keluarganya juga memiliki pesantren. Fariz dan keluarganya tinggal di lingkungan pesantren, menurut Kak Tama, Kak Bani menikah dengan santrinya, apa mungkin Fariz juga akan menikah dengan santri di pesantrennya atau sudah orang tuanya jodohkan dengan yang lain" Gumam Rara dalam hatinya.


Akhirnya Rara kembali pulang kembali dengan perasaan kecewa. Rasa di mana dirinya salah mengartikan kedekatannya dengan Fariz. cintanya bertepuk sebelah tangan.


...********...


Aisha kesal, padahal dirinya benar - benar membutuhkan sosok pelindung dan juga pemimpin seperti Bani dalam keluarganya, Tapi sepertinya Bani hanya menganggap dirinya sedang becanda.


"Bani aku rela jadi istri kedua kamu, aku gak akan menutut apapun dari kamu" jelas Aisha seraya terisak, Bani kaget dengan penuturan Aisha.


"Apa kamu bilang ?" tanya Bani yang pura - pura tidak mendengarnya.


"Aku rela jadi istri kedua kamu, aku tak akan menuntut apapun dari kamu, aku dan adik ku butuh pelindung dan juga pemimpin sebagai kepala keluarga" ujar Aisha mengulangi kata - katanya.


"Hmm aku gak salah dengerkan ?" tanya Bani lagi.


"Bani aku serius" ujar Aisha dengan tatapan yang penuh harapan.


****


Tama dan Tio terkejut dengan pernyataan Aisha yang siap menjadi istrinya Bani.

__ADS_1


"Gila itu wanita, urat malu yang udah bener - bener putus" ujar Tama.


"Gue gak nyangka Aisha berani melakukan ini semua" sahut Tio.


"Kalau gue jadi Aisha, malahan gue malu buat nemnuin Bani lagi" ujar Tama.


"Namanya juga urat malunya sudah putus, ya begitulah jadinya" sahut Tio.


"Gue khawatir gimana kalau Bani termakan rayuannya Aisha, gue takut Bani berpaling dari Syifa" jelas Tama.


"Gue juga takut seperti itu, apalagi Aisha merupakan cinta pertamanya dan butuh bertahun - tahun Bani melupakan Aisha, tapi gue yakin cinta Bani tak akan berpaling" ujar Tio.


ketegangan pun terjadi antara Tama dan Tio, apakah Bani akan menerima Aisha kembali sebagai istri ke duanya atau malah menolaknya, Tama dan Tio pun melantunkan ayat - ayat pendek sesuai kemampuan mereka, berdoa agar Bani tak terhasut bujuk rayu Aisha.


****


"Kita sesama wanita, aku akan merelakannya demi kebahagiaan suami ku, harusnya dia juga sadar bahwa dia itu telah merebut posisi aku dari hatimu" jawab Aisha.


"Hmm itu maunya kamu !, Jika kamu bener - bener memposisikan diri kamu sebagai istriku mana mungkin akan merelakan suaminya nikah dengan wanita lain, gak ada di dunai ini wanita yang bener - bener ikhlas di madu" ujar Bani seraya tersenyum kecut. "Kamu pikir jika aku menikahi mu aku akan bahgaia begitu ?, Syifa tak pernah mengambil posisi siapapun di hati ku, karena ketika Syifa hadir hatiku benar - benar kosong" jelas Bani lagi.


"Bani dalam agama pun tak ada larangan ketika suami berpoligami, asal bisa adil, dan aku gak akan menuntut kamu untuk adil ko, jika kamu harus tiap hari bersama istri pertama pun aku gak masalah" jelas Aisha, membuat Bani menggeleng - gelengkan kepalanya tak mengerti lagi isi dari otak Aisha. "Bani Nabi Muhammad saja melakukan poligami demi pelindungi kaum perempuan, apa kamu tidak tingin seperti Nabi Muhammad ?" tanya Aisha berharap Bani mau menerima permintaannya.


"Kenapa si kamu ngotot sekali ingin menikah dengan ku ?" tanya Bani balik membuat Aisha diam seribu bahasa, dirinya sendiri juga bingung apa yang mendasari dirinya ingin menikah dengan Bani, namun pada inti dasarnya Aisha mencintai Bani, ia ingin mendapat sesok kepala ruamah tangga yang mampu mengayomi dirinya juga adik semata wayangnya.


"Jawab kenapa kamu diam ! Seru Bani dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai mu Bani" sahut Syifa.


"Cinta saya tidak cukup untuk membuat kita bersatu, namun perlu takdir juga, ketika takdir tak berpihak pada kita maka dengan nama cinta kita harus ikhlas melepaskan cinta kita menuju takdirnya" ujar Bani tentunya kembali membuat Aisha terdiam.


"Bani aku mohon pertimbangkan lagi permintaan ku, jika kamu tak sanggup untuk menceritakan soal ini ke keluarga mu dan juga istrimu itu, maka aku rela jika aku di nikahi secara siri dan juga secara diam - diam" jelas Aisha, dan membuat Bani sangat terkejut.


"Aku gak mengerti lagi dengan jalan pikiran mu Aisha, sepertinya kamu bukan seperti sosok Aisha yang ku kenal, dan harus kamu ingat aku gak akan pernah menduakan istriku" ujar Bani dengan nada yang menahan amarahnya.


"Dalam agama tak ada larangan untuk berpoligami, tapi itu semua bukan alasan untuk para lelaki memiliki istri lebih dari satu, jangan pernah menyalah artikan kata 'tak ada larangan bagi kaum pria untuk berpoligami' semua itu akan ada tanggung jawabnya di akhirat nanti, adil menurut manusia belum tentu adil menurut Allah" ujar Bani menasehati Aisha yang kini sudah berubah menjadi orang keras kepala.


Bani berjalan meninggalkan Aisha, saat Aisha ingin mengikutinya, Bani langsung kembali membalikan badannya membuat Syifa tersentak kaget dengan aksi Bani yang tiba - tiba berhenti dan untung saja mereka memiliki jarak beberapa meter.


"Jangan pernah datang ke sini atau pun ke rumah ku, dan satu lagi jangan pernah mencoba menenui istri ku atau pun menghasutnya, jika sampai itu terjadi aku tak akan segan - segan untuk melaporkan kamu ke pihak yang berwajib" Bani dengan terpaksa memberi ancaman pada Aisha agar Aisha tak menganggu dirinya dan keluarganya.


"Tapi Bani" ujar Aisha dan berjalan mendekati Bani.


"Satu langkah lagi kamu maju, maka aku akan laporkan kamu sekarang juga !" bentak Banu tentunya membuat nyali Aisha menciut.


Akhirnya Bani memasuki kantornya dengan berjalan kaki, meninggalkan Tama dan Tio yang masih berada di dalam mobi. Melihat Bani sudah masuk duluan, kini Tama dan Tio keluar menghampiri Aisha yang sedang menangis.


"Tak perlu menangis, tak ada yang akan simpati dengan wanita pelakor macam kamu, air mata kamu buaya, tak tulus" ketus Tio yang sudah geram dengan tingkah Aisha.


"Aku bukan pelakor, tapi Syifa yang merebut Bani dari aku" teriak Aisha membuat orang yang berlalu lalang di jalanan melihat ke arah Aisha yang menangis.


"Mana ada maling ngaku penjara penuh" ujar Tio sambil tertawa dan berlalu meninggalkan Aisha dan menyusul Bani masuk ke dalam kantor, sedangkan Tama masuk ke dalam mobilnya dan masuk ke dalam halaman kantor Bani dengan menggunakan mobilnya.

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2