
Aisha pulang dengan perasaan yang hancur, ia tak menyangka Bani tega melakukan ancaman padanya.
"Bani apa salah ku, kenapa kamu tega melakukan ini semua, Bani kamu sudah berubah" teriak Aisha dan berusaha mengancurkan barang - barang yang ada di sekitarnya.
"kakak, apa yang kakak lakukan" teriak Ayla saat melihat kamar kakaknya berantakan pecahan kaca dari figura berserakan di mana - mana.
"Kakak kenapa ?" tanya Ayla berusaha mendekati kakaknya.
"Bani tak mau menerima aku untuk jadi istri keduanya" ujar Aisha seraya masih menangis tersedu - sedu, hatinya begitu hancur setelah berkali - kali mendapat penolakan dari Bani.
"Cukup kak jangan seperti ini, kan sudah Ayla bilang kak Bani sudah menikah, dan kakak cari lelaki lain yang menerima semua kekurangan keluarga kita, kenapa kakak malah memintanya jadi istri ke dua" ujar Ayla yang merasa kecewa dengan sikap kakaknya.
"apa kakak lupa kakak pernah jadi istri ketiga dan apa yang kakak dapat, kebahagiaan ? nggak kan, yang kakak dapat siksaan dan juga tekanan Batin hingga merenggut nyawa orang tua kita, dan sekarang kakak ingin jadi istri ke dua, terus kakak pikir jadi istri kedua, kakak akan mendapat kebahagiaan yang seperti yang kakak harapan ? Ayla rasa tidak, lalu siapa yang akan kakak korbankan demi keegoisan kakak, apa kakak akan membiarkan Ayla meregang nyawa" ujar Ayla yang penuh kekecewaan. kehiduapan yang keras membuat Ayla mempunyai pola pikir yang dewasa dan luas.
"Gimana saudara kita mau menganggap kita saudara, lihat saja perilaku kakak yang rela menjadi istri kedua, pasti mereka malu dengan semua tingkah kakak" ujar Ayla dan berlalu meninggalkan kamar kakaknya yang masih berantakan.
Kata - kata Ayla seperti peluru tajam yang menusuk ke jiwanya, Hati Aisha hancur berkeping - keping, tapi kenapa adiknya dengan tega malah tambah menghancurkannya, yang di ucapka Ayla sebagai bom yang meluluh lantahkan perasaan Aisha, antara cinta dan keluarga.
"Kenapa hidup ku seperti ini, kenapa aku gak bisa meraih kebahagiaan ku, apa salahnku" gumam Aisha.
...******...
Bani menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di ruanganya. membuang nafasnya secara kasar, tubuhnya merasa letih setelah menghadapi tingkah Aisha.
"Bro kenapa kamu gak laporkan saja dia ke pihak polisi" ujar Tio.
"Aku sudah mengatakannya jika dia berani datang dan mengganggu keluarga ku, maka dengan sangat terpaksa aku akan melaporkannya" ujar Bani dan langsung di setujui oleh Tio dan juga Tama.
__ADS_1
"Yang bikin gue heran kenapa dia mau - maunya jadi istri ke dua" ujar Tio yang tak mengerti jalan pikiran Aisha.
"Sudah jangan kamu bahas tentang dia, ingat kita sedang berpuasa" ujar Bani.
"Aku balik ke kantor lagi, banyak kasus yang harus ku tangani" ujar Tama.
"Thanks atas semua bantuannya" ujar Bani pada Tama.
...********...
Hari terus berganti Hari, Setelah kejadian itu Aisha tak berani lagi datang menemui dirinya. Bani pun menutup rapat kejadian tersebut dari istrinya, ia takut jika dirinya cerita akan membuat istrinya stres dan berakibat pada kandungannya. Bani berjanji akan menceritakannya suatu saat nanti ketika waktunya sudah di rasa aman.
Seminggu lagi lebaran, Bani sudah meliburkan seluruh karyawannya tak lupa juga Bani memberikan hak THR bagi setiap karyawannya.
Bani berusaha mensejahterakan seluruh karaywannya walaupun perusahannya baru kembali beroprasi setelah musibah yang menimpanya.
Suasana lebaran pun semakin terasa saat Umi, Zahwa dan Juga Syifa membuat kue kering untuk isian toples, Syifa hanya membantu yang ringan - ringan saja sisanya Zahwa dan Umi yang mengerjakannya, Bi Tuti Asisten rumah tangga di keluarga Kyai Hasan sudah libur sejak kemaren sore karena ia ingin ikut anaknya pulang kampung ke daerah istrinya.
Sedangkan Fariz masih sibuk dengan restonya yang semakin rame, namun terpaksa harus segera tutup karena sebagian karyawannya akan pulang ke kampung halaman masing - masing.
Hubungan Fariz dan Rara semakin renggang karena kesibukan Fariz yang membuat ia susah dalam membagi waktunya. Hal itu membuat Rara semakin yakin jika selama ini dia telag menyalah artikan kedekatan antara dirinya dan Fariz.
Sore hari Bani mengajak Syifa untuk berbelanja persiapan lebaran, karena daerah tempat tinggal Bani jauh dari pusat perbelanjaan, maka Bani dan Syifa mau tak mau harus rela menempuh perjalanan satu jam lebih hingga sampai ke pusat perbelanjaan yang lengkap dan juga besar.
"Kalau cape nanti bilang ia" ujar Bani dan di angguki oleh Syifa.
Pusat perbelanjaan saat itu sangat ramai sekali, hingga setiap toko yang menjual baju dan juga perlengkapan shalat di penuhi pembeli. Syifa masih berjalan menyusuri setiap toko, mencari pakaian yang sesuai dengan keinginanya.
__ADS_1
Setelah puas berkeliling dan juga membeli beberapa potong pakaian untuknya dan juga suaminya. Tak lupa juga Syifa membelikan baju untuk Umi, Abah dan juga ke dua keponakannya. hari semakin sore, Bani dan Syifa memutuskan untuk buka puasa di pusat perbelanjaan tersebut karena terdapat beberapa cafe dan juga resto.
Sampai rumah sudah larut malam, membuat Syifa langsung bergegas kekamarnya karena badannya terasa sangat lelah setelah berkeliling di pusat perbelanjaan. Syifa membaringakan tubuhnya di atas kasur.
"Cape ya" ujar Bani melihat istrinya terbaring di atas kasur.
"Dikit saja" jawab Syifa.
Bani pun memijit kaki istrinya, untuk mengurangi rasa pegal yang di rasakan sang istri.
"Nanti kita lebaran di rumah, nanti agak siangan baru berangkat ke rumah Abi dan Ummah". ujar Bani dengan tangan yang masih memijat kaki istrinya.
"Terserah abang saja" ujar Syifa. Pijatan di kaki membuat Syifa mengantuk dan tanpa di sadari Bani, Syifa sudah terlelap dalam tidurnya.
"Kamu pasti kecapean, makanya cepat sekali tidurnya" Gumam Bani.
...*****...
Air mata Syifa mengalir begitu saja saat mendengar gema takbir di setiap penjuru mesjid. Air matanya tak terbendung lagi. rasa bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu. tak pernah terbayangkan dalam hidupnya bahwa dirinya akan menikah secepat ini. menikah, ikut dengan suami dan meninggalkan keluarga yang telah membesarkannya demi baktinya pada seorang suami.
"Kenapa menangis ?" tanya Bani saat melihatnya berurai air mata.
"Syifa gak nyangka di umur segini Syifa sudah menjadi seorang istri dan juga calon ibu, semuanya terjadi secara cepat, Syifa sangat bersyukur mempunyai mertua seperti Umi dan juga Abah, mereka baik sekali memperlakukan Syifa bahkan mereka tak pernah membedakan mana anak mana menantu" ujar Syifa dan sambil bersandar di baju Bani, pandangannya ke arah langit yang di hiasi bintang.
"Abang juga bersyukur punya istri seperti yang pengertian seperti Syifa, mau nemenin abang ketika abang jatuh" ujar Bani seraya membelay kepala istrinya yang di tutupi oleh hijabnya.
Kedua insan terbuai dalam perasaan mereka masing - masing, Saling mengucap syukur atas semua yang di terimanya saat ini. Manusia hanyalah mahluk yang bisa berencana tapi takdir Allah lah menentukan segalanya.
__ADS_1
......🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃......