
Sejak pagi Syifa sudah bersiap - siap karena hari ini adalah sidang keputusan untuk Aisha akan di gelar pukul sembilan pagi.
"Sayang ayo berangkat" ujar Bani.
"Bentar Bang, Syifa lagi pakai kerudung dulu. tunggu saja di mobil" teriak Syifa dari dalam kamarnya.
Syifa berangkat bersama sang suami, sedangkan Tama sudah menunggu di sana. Sidang pun di mulai tepat pukul sembilan.
Syifa dan Bani memasuki ruang sidang dengan bergandengan tangan ada rasa sedih dan juga bersalah menyelinap di hati Syifa, namun ketika Bani akan mencabut laporannya Asiha menolaknya dengan keras.
Aisha memasuki ruangan dengan menggunakan pakaian serba putih, tak lupa juga menggunakan rompi tahanan. Aisha mencoba tersenyum saat memasuki ruangan sidang. ia mengisyaratkan bahwa dirinya baik - baik saja.
Acara sidang pun berjalan dengan lancar tanpa ada nota keberatan dari dua belah pihak. Aisha di tuntut bersalah dan mendapat hukuman selama tiga bulan penjara. Aisha pun meneteskan air matanya saat jaksa penuntut umum membacakan vonis untuknya. begitupun, dengan Syifa ia terlihat berkaca - kaca saat mendengar vonis untuk Aisha.
Sebelum Aisha kembali di bawa ke lapas perempuan, Syifa menghampiri Aisha dan kemudian memeluknya erat.
"Maaf karena aku tidak bisa berbuat banyak" ujar Syifa lirih.
"Kalian sudah memaafkan ku itu lebih dari cukup" ujar Aisha berusaha tegar di hadapan Syifa.
"Insya allah jika ada waktu aku dan Abang Bani akan mengunjungi kamu di lapas".
"Terima kasih Syifa, kamu memang wanita terbaik, walaupun umur kamu jauh di bawah aku, tapi kamu terlihat sangat begitu dewasa dalam menghadapi setiap permasalahan. Aku sangat malu" ujar Aisha.
"Mbak baik - baik di dalam sana, jika butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi kami" sebelum meninggalkan ruangan tersebut Syifa kembali memeluk Aisha, memberikan kekuatan untuknya.
Kini giliran Bayu yang menghampiri Aisha, berusaha menguatkan dan juga berjanji akan membantu mendapatkan surat cerai dan juga melunasi hutang Aisha.
__ADS_1
"Bayu, aku mau tanya di mana kamu menaruh koper - koper milik aku ?" tanya Aisha.
"Koper - koper kamu aku simpan di rumah ku, memangnya ada apa dengan koper tersebut ?" tanya Bayu balik.
"Di sana ada barang - barang berharga milik ku. ada perhiasan emas peninggalan orang tua ku, sebagian sudah ku jual untuk bertahan hidup dan masih ada sisanya, aku minta tolong jual semua perhiasan tersebut" jelas Aisha, dan Bayu hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti.
"Di dalam koper tersebut juga ada beberapa surat tanah milik ayah, yang seharusnya itu di bagikan pada saudara - saudara Ayah, namun kali ini aku tak punya pilihan lain, aku akan menjualnya untuk bisa melunasi hutang orang tua ku" sambung Aisha dan Bayu hanya mendengarkan saja.
"Dan ada juga buku tabungan milik ku, walaupun uangnya tak seberapa tapi yang terpenting aku bisa menyicil hutang - hutang ku, dan nanti kekurangannya akan di bayar setelah aku bebas dari sini" jelas Aisha.
"Baiklah" sahut Bayu singkat.
Tiba di rumah, Bayu langsung membongkar isi koper milik Aisha dan mengambil surat tanah yang di maksud Aisha. Bayu juga membuka sebuah kota yang isinya berbagai macam perhiasan dan ada juga buku tabungan.
Bayu segera membawa buku tabungan itu ke bank untuk di carikan dan juga perhiasan untuk di jual. dari tabungan dan jiga hasil menjual perhiasan Bayu mendapatkan uang sebanyak sembilan ratus lima puluh juta dan itu membuat Bayu tersenyum bahagia, dan kini tinggal ia menjual tanah yang di maksud Aisha.
Tuan Rico mengutus anak buahnya untuk menyaksikan acara jalannya persidangan Aisha.
Tuan Rico merasa kecewa karena hukuman yang didapat oleh Aisha menurutnya itu terlalu ringan, Namun ia tetap puas dan yakin jika Aisha tidak akan pernah mampu bisa membayar hutang Ayahnya. apalagi Aisha sebagai mantan narapidana tidak mudah untuknya nanti jika ingin mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang menjanjikan.
...*******...
Hari terus berlalu dan satu persatu masalah mulai menjauhi rumah tangga Bani dan juga Syifa. kini mereka sedang menikmati masa - masa indah dalam rumah tangganya.
Ibadah terlama adalah berumah tangga, maka cinta saja tidak akan cukup, di butuhkan banyak kesabaran serta keikhlasan agar hati senantiasa terasa tentram.
Mata Bani terus terfokus pada pada layar laptop. jemarinya sibuk mengetik. berkali - kali mengambil napas panjang dan mencoba fokus, namun rasa kantuk itu benar - benar menguasai dirinya malam ini, beberapa kali menguap sampai keluar lelehan air mata saking ngantuknya.masih kurang sedikit lagi sampai pekerjaannya benar - benar selesai. tapi matanya sudah tak bisa di ajak berkompromi lagi. padangannya semakin mengabur, dan lamat - lamat matanya terpejam masih dalam posisi setengah duduk di depan layar laptopnya.
__ADS_1
Bani mencoba membuka matanya, dan samar - samar pandangannya menyaksikan kejadian yang sangat menyesakkan hati.
Bani mencoba bangun dari tidurnya dan menghampiri orang yang terkasihnya.
"Abang ngapain di sini ?! pergi jauh - jauh ! Syifa benci abang ! Gara - gara Abang allah kembali mengambil semuanya untuk selama - lamanya. Abang jahat ! Abang egois !" Syifa memberontak saat Bani mendekatinya dalam ruangan.
"Syifa sayang, maafkan abang,. Abang sungguh menyesal". tangan Bani menyentuh istrinya itu. tapi Syifa menepisnya secara kasar.
"Ummah usir lelaki itu !" teriak Syifa.
"Sabar nak sabar, ingat nyebut nak nyebut" ummah mencoba menenangkan putri bungsunya.
"Usir Ummah !" Seru Syifa. dari sorot matanya terpancar kebencian yang begitu mendalam
terhadap suaminya.
"Syifa Abang mohon jangan seperti ini" pinta Bani, namun tak di gubris oleh Syifa. "Maafkan abang sayang" ujar Bani kembali mencoba mendekati istrinya.
"Enggak ! berkali - kali Abang minta maaf dan berkali - kali juga Abang mengulangi kesalahan yang sama ! Syifa cepe bang ! Syifa lelah ! Syifa bosan dengan kata - kata maaf yang keluar dari mulut abang ! semuanya palsu !" Syifa histeris. betapa sakit yang kini di rasakannya. begitu pun dengan Bani. melihat istrinya seperti itu membuatnya benar - benar hancur, hanya penyesalan yang ada.
"Asyifa jangan seperti ini nak, yang ikhlas, semua menjadi takdir Allah" nasehat Ummah menjadi angin berlalu bagi Syifa.
"Enggak Ummah, Suruh dia keluar, Syifa gak mau melihatnya lagi, atau lebih baik Syifa saja yang keluar dari ini" Syifa menatap Bani dengan tajam, sorot matanya memancarkan betapa bencinya Syifa terhadap sang Suami.
Tak ada pilihan lain, Bani menyeret langkah nya keluar ruang tersebut dengan perasaan yang sulit untuk di artikan. kenapa istrinya begitu membencinya padahal sebelumnya mereka baik - baik saja.
Lelaki itu masih mematung dan mengamati sang istri dari luar ruangan. air matanya terus saja mengalir dan perasaannya sangat hancur. Namun fokusnya terpecah saat ada tangan yang memegang pundaknya dari belakang, bahkan tangan tersebut mengoyang - goyangkan tubuh Bani.
__ADS_1