Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 151


__ADS_3

Fariz sedang menyelesaikan pekerjaannya, sedangakan Rara ia tertidur pulas di sofa ruangan kerja suaminya, Rara bener - bener mengalami ke takutan yang mendalam atas kejadian tersebut.


Dan tiba - tiba ponsel Fariz berdering, membuat Rara terbangun dari tidurnya. " Maaf sayang jika nada ponsel ku membuat kamu terbangun" ucap Fariz. Rara pun langsung berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Hallo Umi, ada apa ya ?" tanya Fariz.


"Nak, Umi mau minta tolong kirim makanan ke rumah Bani sekarang" ucap Umi.


"Untuk apa Umi ? kenapa gak kak Bani langsung yang menghubungi Fariz ?".


"Kakak kamu lagi di kantor, Umi ini lagi di rumah kakak kamu, hari ini Syifa gak masak karena harus istirahat, jadi Umi minta tolong anterin makanan ke rumah kakak kamu sekarang".


"Kak Syifa sakit Umi ?".


"Syifa baik - baik saja, namun Syifa sekarang lagi hamil, makanya gak boleh cape - cape".


"Kak Syifa hamil lagi, bilangin selamat ya buat ke hamilanya, doain juga supaya Rara juga cepat hamil Umi" ujar Fariz senang mendengar kabar kehamilan Syifa. "Berapa banyak Umi makanannya dan apa saja ?" tanya Fariz.


"Tiga porsi saja nak, dan untuk menunya nanti uma kirim via wa ya" ujar Umi karena ia akan menanyakan terlebih dahulu pada Syifa.


"Oke Umi, nanti kalau Fariz sempet biar Fariz yang anter makanannya" ucap Fariz lalu menutup panggilannya.


Rara menghampiri Fariz saat Fariz sudah menutup teleponnya.


"Siapa yang menghubungi kamu ?" tanya Rara.


"Umi. tadi Umi minta tolong di anterin makanan ke rumah kak Bani" jelas Fariz.


"Sedang ada acara apa di rumah kak Bani ?".


"Gak ada acara apa - apa, cuma kak Syifa gak masak soalnya lagi hamil lagi" jelas Fariz.


"Alhamdulilah kak Syifa hamil lagi" namun tiba - tiba raut wajah Rara menjadi sedih.


"Ko sedih ?" tanya Fariz.


"Kak Syifa hamil lagi, kira - kira kapan ya aku hamil" ucap Rara. tak bisa di pungkiri jika dirinya juga merindukan sosok seorang anak di tengah keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Bismillah, semoga kita secepatnya juga di beri kepercayaan" ucap Fariz menyemangati istrinya.


Fariz mendatangi bagian koki meminta di buatkan beberapa menu makanan yang di pesan oleh Umi, Sambil menunggu makanan tersebut jadi Fariz kembali ke ruangannya di mana istrinya berada.


"Gimana kalau kita ke rumah kak Bani ?" tanya Fariz pada istrinya.


"Tapi. . ".


"Tapi kenapa ?".


"Aku minta sama kamu jangan cerita masalah ini sama Umi atau siapa pun" pinta Rara pada istrinya.


"Iya aku janji".


Setelah semua siap mereka pun berangkat menuju rumah Bani, karena mereka berangkat ketika jam makan siang maka perjalanan mereka sedikit terhambat karena jalanan begitu macet, banyak orang yang keluar untuk makan siang.


Setelah menempuh dua puluh lima menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Bani dan juga Syifa.


"Perumahannya masih asri, kenapa kita gak cari rumah di sekitar sini saja" ucap Rara.


"Nanti kita tanya - tanya kak Bani ya" ucap Fariz.


"Waalaikumsalam" jawab Umi dari dalam rumah. "Wah ternyata kalian yang datang" ucap Umi senang dengan ke datangan anak dan menantunya. mereka pun menyalami Umi secara bergantian.


"Rara, kamu gak kerja ?" tanya Umi, karena setahu dia menantunya itu masih bekerja.


Rara terdiam ia bingung harus jawab apa


"Rara sudah resign umi" sahut Fariz.


"Oh, Syukur kalau udah bisa resign. Ayo masuk " ucap Umi.


Mereka pun menikmati makan siang bersama. selesai makan siang Bani pun baru tiba di rumahnya.


"Wah ada acara makan - makan ko gak nungguin tuan rumah" tegur Bani ketika yang lainnya masih berada di meja makan.


"Abang sudah pulang" Syifa menghampiri suaminya. "Maaf Syifa kira abang gak pulang" sambungnya.

__ADS_1


"Tidak apa - apa sayang, kamu makan yang banyak ya, biar anak kita tumbuh dengan baik" ucap Bani seraya mengelus perut milik Syifa.


Rara diam - diam memperhatikan adegan romantis tersebut, ada rasa iri di dalam hatinya, kenapa sampai sekarang dirinya belum kunjung hamil juga. Fariz yang mengerti ekspresi dari sang istri hanya bisa memberikan kekuatan dengan menggenggam erat tangan sang istri.


Setelah berbincang - bincang sebentar Fariz pun harus pamit untuk kembali ke restonya, begitu pun dengan Rara yang ikut pamit, ia tak ingin jauh dari suaminya karena masih ada rasa takut dengan kejadian tadi pagi di kantornya.


...*****...


Malam membungkus langit dengan selimut gelap. semilir angin terasa menerpa, terasa sejuk dan juga menyenangkan. bintang pun seperti ikut menyemarakan dua hati yang tengah berbahagia. langit cerah sekali malam ini.


Lelaki itu masih memakai sarung, koko lengan pendek dan peci. bibirnya berasik masyur mendengungkan ayat - ayat suci. suaranya menggema memenuhi kamar, syahdu dan tartil.


Sementara si perempuan duduk bersandar di sebelahnya. telinganya seakan - akan di manjakan lantunan merdu dari sang suami, sesekali tangannya terulur mengelus perutnya. ekor matanya sesekali melirik sang suami sekilas, lelaki itu nampak bersemangat, lantunan surah Maryam yang di bacakan ba'da isya ini menjadi yang pertama untuk calon anak mereka.


"Kenapa senyum - senyum sendiri sayang ?" tegur Bani.


Terlalu Asyik menjelajahi waktu ketika dokter mengatakan dirinya hamil. Syifa sampai tak sadar bahwa Bani sudah selesai dengan bacaannya. lelaki itu menutup alquran dan menaruhnya kembali ke tempat semula.


"Abang sudah selesai ?".


"Iya, Kenapa kamu senyum - senyum sendiri sayang ?".


"Enggak apa - apa bang, bahagia aja rasanya".


"Sama, Abang juga begitu".


"Tapi bang, kita harus ingat ya, bahwa bahagia itu seperlunya saja, bersedih juga begitu, tapi ucapan syukur harus sebanyak - banyaknya" Syifa mengingatkan.


Bani mengangguk, setuju dengan ucapan istrinya. sedih, menangis, kecewa, jatuh dan bahagia, semua pasti akan di rasakan oleh setiap yang hidup, apalagi sepasang suami istri saat menapaki sebuah bahtera rumah tangga. saat ijab kabul terucap, ikatan yang ada bukan hanya sebatas aku dan kamu lalu menjadi kita, tetapi ijab kabul juga di ikat erat dengan doa, restu, harapan serta kasih sayang berpadu cinta yang tulus . terikat janji setia, sehidup sampai maut memisahkan.


"Asalamualaikum malaikat kecilnya Abi, lagi apa nak ?" Bani beringsut, meletakan kepalanya di perut Syifa.


"Waalaikumsalam Abi" Syifa menyahut.


"Kira - kira dia sebesar apa ya, sekarang ini sayang ?".


"Entah, Tapi yang Syifa tahu, mungkin baru sebesar kacang merah" jawab Syifa. dia teringat ketika kehamilan pertama pernah membaca sebuah artikel tentang kehamilan. janin dengan usia delapan minggu memang masih sangat kecil lalu ia akan terus tumbuh hingga nanti tiba saatnya menghirup udara dunia.

__ADS_1


"Masih kecil sekali, sehat - sehat ya nak, sayangnya Abi dan juga Ummah".


Inilah malam ke indahan penuh cinta. doa - doa yang terapal di ijabah, saat kabar yang di nanti datang. seketika dunia terasa menjadi milik mereka berdua. hembusan angin di heningnya malam serta suara jarum jam dinding menjadi saksi bahwa kini telah ada detak bersemayam dalam rahim seorang Asyifa.


__ADS_2