
Akad terikat oleh sebuah pertemuan, kemudian terajut melalui benang takdir, hingga terbentuk menjadi sebuah simpul cinta yang indah. sebuah ikatan yang suci, sakral dan penuh berkah dalam setiap detak dan hembusan nafas.
Hal yang terindah bukanlah sepasang muda mudi yang tengah di mabuk asmara, saling berikrar dalam janji semu bernama pacaran. tahukah kamu, bahwa itu hanyalah bagian dari peroyek setan. membisikimu dengan hal - hal indah, puitis, romantis, memabukan, namun sesat dan sementara.
Hal romantis yang sebenarnya adalah saat sepasang anak manusia tidak saling memandang, tidak saling mengenal, namun saling mendoakan di dalam sujud mereka. hingga takdir mempertemukan keduanya dalam sebuah ikatan bernama pernikahan. kisah yang suci nan abadi, penuh berkah.
Muhamad Rabbani Altafaraz sebelumnya tidak mengenal Asyifa Zeima Azzahra, begitu pun sebaliknya. takdir membawa pertemuan, hati menggerakan perasaan, hingga keduanya halal dalam sebuah pernikahan.
Siang ini, Tersungging senyum merekah tawa, atmosfer bahagia memenuhi rongga dada. lelaki itu tak berkedip, fokus. dadanya berdegup kencang saat mengamati titik - titik kecil yang bergerak layaknya denyut nadi.
Bani berulang kali merapalkan kalimat hamdalah, melafalkan takbir dalam hati. sungguh besar kuasa Allah ta'ala. ia tercengang, menatap lekat layar monitor ultrasonografi yang ada di depannya. Allah, jika ada ungkapan syukur lebih dari hamdalah, pasti lelaki itu akan mengucapkannya hingga beribu kali.
"ini dia, pak. perhatikan dua titik kecil ini" ucap sang dokter, menunjuk ke arah monitor.
Hari ini untuk pertama kalinya Bani dan Syifa melihat calon anak mereka walaupun hanya dari layar monitor.
"Ada dua kantong kehamilan dan ada dua janin saat ini yang di kandung mbak Asyifa" sambung sang dokter.
seketika kerongkongan Bani seakan tercekat, bibirnya mengatup rapat, masih tak percaya. Asyifa menangis haru, dan sama halnya dengan Bani, mereka tak percaya dengan karunia terindah yang kini bersemayam dalam dirinya.
"Maksud dokter Bayi kami kembar, begitu ?". tanya Bani.
"Iya pak, Bayi kalian kembar". terang dokter.
"Dua dok ?" sahur Bani dan Syifa bersamaan, keduanya saling melempar padangan tak percaya.
"Tapi di keluarga kami tidak ada keturunan kembar atau gen kembar, dok. lalu bagaimana bisa ini terjadi ?" tanya Bani agak bingung.
Dokter pun menjelaskan dengan teliti bagaimana bisa terjadi kehamilan kembar walaupun tanpa ada riwayat keturunan kembar atau gen kembar.
__ADS_1
Bani mengangguk, menyimak penjelasan dokter.mereka pun percaya bahwa di balik kesedihan pasti ada rasa bahagia yang akan muncul, hal itu pun kini terbukti. setelah mereka kehilangan calon anak pertama mereka dan kini allah menggantinya dengan dua sekaligus.
"Hamil kembar memang mempunyai resiko, jadi harap dijaga dengan hati - hati agar ibu dan calon bayinya sehat". dokter berujar sambil menuliskan resep untuk Asyifa.
"Abang, Syifa enggak lagi mimpikan ?" Syifa bertanya sambil kedua tangannya mengelus perutnya. air mata sudah membayang di kedua pelupuknya. dadanya sesak, bukan karena sedang di landa sedih, tapi karena bahagia yang membuncah.
Bani melemparkan senyum, ia mengerti perasaan istrinya. "Enggak sayang, ini semua nyata. ada dua calon malaikat kecil kita sedang tumbuh di rahim Ummah" ucap Bani, sebelah tangannya ikut terulur mengelus perut sang istri.
"Allah begitu baik ya, bang. setelah kita kehilangan dan bersabar menanti, akhirnya kita mendapatkan buah dari kesabaran itu".
"Iya, Asyifa sayang. Abang sudah tak tahu lagi harus berkata apa. Rasanya benar - benar seperti mimpi indah dan Abang tidak mau sampai terbangun" Bani berkata - kata dengan mata berkaca - kaca. ia seakan mendapat setitik embun surga, begitu melegakan di tengah hausnya berjalan di padang penantian. Allah, Rasanya ia tak sabar mendengar tangis kedua anaknya, menggenggam tangan mungilnya, menggendongnya dengan pelukan kasih sayang serta mendongengkan kisah - kisah para nabi dan rasul, juga para khalifah.
"Sehat - sehat ya, sayangnya Abi dan Ummah" Ujar Bani. keduanya saling melemparkan senyum bahagia.
...**...
Bani melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka menuju ke rumah Abah Hasan dan Juga Umi.
"Waalaikumsalam" jawab Umi seraya membukakan pintu untuk anak dan menantunya.
Mereka memasuki rumah Abah dan Umi dan Syifa sangat terkejut karena di dalam rumah Abah dan Umi, ada keluarga Asyifa, yaitu, Abi, Ummah, Abian, Shela dan juga anak dari Abian dan Shela.
Ummah langsung mengampiri Syifa memeluknya erat dan juga tak lupa memberikan selama atas kehamilannya.
"Ummah ko ada di sini ?" tanya Syifa.
"Tadi Ummah keruamah kalian, namum kata security rumah kamu, kalian lagi ke dokter, dan security kamu bilang bahwa setelah dari dokter kalian mau ke pesantren, makanya Ummah ke sini" terang ummah.
"Gimana hasil usg nya ?" tanya Umi yang sudah tak sabar mendengar perkembangan dari calon cucunya.
__ADS_1
"Alhamdulilah semuanya baik - baik saja, bahkan menurut dokter detak jantungnya pun sudah ada" Bani sangat antusias menjelaskan calon anak mereka pada anggota keluarganya.
"Alhamdulilah" ucap semuanya kompak.
"Tapi, ada kabar gembira lainnya juga" ucap Bani dengan senyum yang terus mengembang.
"Apa lagi nak, jangan bikin kita semua penasaran" ucap Umi.
"Syifa sedang mengandung bayi kembar. calon anak Syifa dan Bani kembar !" seru Bani dengan bahagianya.
"Serius kamu Bani ?" tanya Abian yang sedari tadi hanya menyimak.
"Iya bener kak ".
"Hebat bener kamu Bani, kamu pakai juris apa membuatnya, bagi - bagi resepnya dong, biar nanti pulang dari sini aku peraktikan di rumah" ujar Abian lalu mendapat cubitan keras dari istrinya. "Aww, sakit tau" rintih Abian setelah mendapat cubitan kecil dari Shela.
"Alhamdulilah, kita semua seneng mendengarnya, akhirnya kesabaran kalian membuahkan hasil" ucap Abi Umar senang.
Umi sudah menyediakan makan siang, setelah selesai shalat berjammah, mereka pun melakukan makan siang dengan penuh rasa bahagia dan juga syukur atas nikmat yang di berikan untuk hari ini.
Bani meminta pada Umi untuk mencarikan asisten rumah tangga yang akan bekerja di rumahnya dan akan menemani Syifa ketika dirinya sedang bekerja.
Umi pun memutuskan biar bi Tuti kembali bekerja di rumah Bani dan Syifa, menurutnya Bi Tuti sudah cocok dengan Bani mau pun Syifa. Bi Tuti yang sudah mempunyai pengalaman yang banyak bisa juga membantu menjaga dan merawat Syifa selama kehamilannya.
"Tapi nanti Umi bagaimana. ?" tanya Syifa.
"Tak perlu di khawatirkan, itu gak akan jadi masalah buat Umi, lagian sekarang Umi di rumah hanya berdua dengan Abah" ucap Umi seraya tersenyum.
"Maaf jika Syifa jadi merepotkan Umi".ucap Syifa seraya memeluk Umi. kasih sayang yang di berikan Umi membuat Syifa merasa seperti menjadi anaknya bukan menantunya.
__ADS_1
Setelah sore Abi, Ummah, Abian dan Shela pun pamit untuk pulang, begitu pun dengan Bani dan Syifa yang ikut pamit pulang. Umi sudah memerintahkan Bani dan Syifa untuk menginap saja, namun Syifa dan Bani menolaknya, mereka ingin pulang saja.