Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 153


__ADS_3

Magrib baru saja berlalu, Bani dan Syifa kini sudah berada di kediamannya. keduanya baru saja menunaikan kewajiban salat magrib bersama.


"Syifa sayang. terima kasih, ya" Bani beralih menghadap Syifa usai berdoa dan berzikir. kedua tangannya membingkai wajah Syifa yang masih menggunakan mukena.


"Buat apa, Abang ?".


"Terima kasih karena sudah mengandung ke dua calon malaikat kecil kita" ucap Bani. kedua matanya menerobos ke dalam netra Asyifa.


"Berterima kasih sama Allah, bang. tanpa_nya kita bukan lah apa - apa" sahut Asyifa.


"Tentu, sayang, itu yang utama. tapi abang tetap harus mengucapkan terima kasih sama kamu" ujar Bani.


"Syifa juga berterima kasih karena Abang selalu meyakinkan Syifa, selalu memberikan semangat dan selalu ada di samping Syifa dalam keadaan apapun" pandangan Syifa meleleh, beruntungnya dia mendapatkan Bani, lelaki yang tak banyak menuntut, selalu menerima dengan sabar. begitupun Bani, ia sangat bersyukur bisa berjodoh dengan Asyifa, perempuan yang sederhana, selalu menjaga marwahnya sebagai istri dan juga selalu menjadi penyemangat untuk Bani. Syifa ibarat setetes embun surga bagi Bani.


"Istirahatlah sayang, biar abang yang menyiapkan makan malam, kamu mau makan apa ?" tawar Bani pada istrinya. tak hanya menjadi posesif, perhatian Bani pada Syifa pun bertambah.


Bani menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, karena bi Tuti akan mulai bekerja pada esok hari. tak lupa Bani juga membuatkan Syifa segelas susu khusus untuk ibu hamil.


...***...


Sepi dan lelap, berteman hening serta pancaran rembulan. sepoi angin meliuk, sesekali menerpa pori - pori, merasuk dan menyejukan. Tangan itu mengadah. bibirnya terus menggumamkan kalimat dzikir, terkadang sembari kedua matanya terpejam.


"Abang. . " suara parau Asyifa saat menggeliat. sejurus kemudian ia menggerakan badan, mengucek matanya dan melirik ke samping. tapi tak terlihat sosok sang suami. menurunkan kedua kakinya dan menginjak lantai. mata Syifa sontak terbuka lebar. Matanya mengamati Bani yang tengah tafakur, duduk bersila di atas sajadah. melirik jam, masih menunjukan pukul tiga dini hari.

__ADS_1


"Syifa, kenapa bangun, sayang ? mau minum ? biar abang yang ambilkan". Bani menghampiri Syifa setelah menutup zikir dengan doa.


"Abang, kenapa enggak bangunin Syifa ?" pertanyaan langsung keluar dari bibir Syifa. Biasanya Bani paling rajin membangunkan asyifa untuk qiyamul lail bersamaa saat di sepertiga malam. di hening malam, terjaga bersama, sujud, mensyukuri nikmat serta rahmat-nya. oh, yaa Rabbi, adakah yang lebih romantis dari pada itu, sungguh indah bukan. melewati malam bersama, mengadahkan tangan, menghadapkan wajah serta hati di malam yang sunyi kepada kehangatan sang pencipta.


Namun, tidak untuk malam ini, Syifa agak kecewa, karena Bani tak membangunkannya. kedua bola matanya memancarkan protes dan bibirnya di buat manyun. persis seperti anaka kecil yang sedang merajuk.


Sementara Bani malah tersenyum, ekspresi Asyifa sangat lucu dan juga menggemaskan menurutnya. saat sedang Asyifa kesal begini, mati - matian lelaki itu harus menahan diri untuk tidak menyentuhnya, melepaskan rasa gemasnya. iya, setidaknya sampai nanti usai ia membawakan tilawah untuk kedua calon buah hati mereka.


Lelaki itu mengeluarkan kitab suci alquran dari dalam lemari. mulai melantunkan bait - bait indah dari ayat - ayat Allah untuk calon buah hati mereka.


...***...


"Sayang abang berangkat kerja dulu ya" ucap Bani seraya mengecup kening sang istri lalu turun mendekati perut sang istri.


"Nak, Abi berangakat kerja dulu, baik - baik di rumah ya sama Ummah" Bani mengelus perut istrinya lalu mengecupnya secara perlahan.


Syifa mengantarkan suaminya berangkat kerja hingga teras depan rumah mereka, ketika mobil mereka sudah tak terlihat baru Syifa memasuki rumahnya.


Syifa pun hanya duduk santai seraya menonton televisi. padahal pekerjaan di rumahnya sangatlah banyak. Namun ia tak ingin mengambil resiko yang berakibat patal pada kandungannya. kejadian yang dulu membuat Syifa banyak belajar.


Setelah menunggu satu jam, Akhirnya Umi dan Bi Tuti telah sampai di kediaman Syifa. Bi Tuti pun langsung membereskan barang - barang di kamar yang dulu pernah di tempatinya. setelah itu baru bi Tuti mengerjakan pekerjaan lainnya, dari mulai mencuci, menyapu, mengepel dan terakhir bi Tuti memasak untuk makan siang Syifa dan juga Umi.


Setiap Jam Syifa selalu menerima panggilan dari suaminya yang selalu menayakan kabar tentang keadaan dirinya. Bani bener - benar menjaga Syifa agar kejadian yang lalu tak akan kembali terulang lagi.

__ADS_1


...*******...


Bayu mendatangi sebuah rumah sakit jiwa di mana tempat Asiha di rawat. hari kemarin Bayu mendapat kabar jika hari ini Aisha sudah di perboleh kan pulang dari rumah sakit jiwa. keadaan Aisha sudah kembali normal, ia sudah menerima dengan ikhlas atas semua yang terjadi dalam hidupnya. namun satu yang belum di ketahui Aisha ya itu jika diri keluar dari rumah sakit jiwa maka sel jeruji besi menantinya.


"Bayu, tolong nanti sebelum pulang aku ingin mampir ke makannya Ayla terlebih dahulu" ucap Aisha. Bayu terdiam entah apa yang harus di katakan pada Aisha, jika saat ini diri sebagai tersangka, maka jika ingin mengunjungi pemakaman sang adik tentunya harus atas izin pihak kepolisan.


Tak lama pihak kepolisan pun datang menghampiri mereka dan hal itu mengejutkan untuk Aisha.


"Apa sudah siap, Kami harus kembali membawa terdakwa untuk menjalani proses hukuman yang telah tertunda" jelas salah satu polisi tersebut.


"Maksud bapak, siapa terdakwa itu ?" tanya Aisha. ia menatap tajam ke arah Bayu meminta penjelasan.


"Maaf, Mbak Aisha saat ini sudah menjadi terdakwa atas laporan pak Bani" terang pak polisi.


"Bani, melaporkan ku ? apa kesalahan ku ?" tanya Aisha lagi. ingatan tentang kejadian yang berkaitan dengan Bani bahkan benar - benar hilang dari ingatannya.


Pihak polisi yang di dampingi dokter spesialis ke jiwaan pun menjelaskan tentang kenapa Bani melaporkan Aisha pada polisi, hal itu tentu membuat Aisha sangat syok dan juga tercengang, mana mungkin dia melakukan hal yang memalukan seperti itu.


Bayu pun meminta penjelasan pada dokter kenapa Aisha bisa sampai melupakan kejadian yang di alaminya ketika ia terus - terusan mengejar cinta Bani walaupun ia tahu jika Bani telah menikah.


Dokter spesialis kejiwaan yang membantu menangani Aisha pun menjelaskan dengan teliti apa yang terjadi pada Aisha. dokter mengatakan jika yang di lakukannya pada saat itu memang di luar kendalinya hingga ia tidak menyadari yang telah di lakukannya.


Bayu pun meminta dokter jadi saksi di persidangan nanti agar bisa setidaknya meringankan hukuman yang akan di terima Aisha.

__ADS_1


"Pak apa boleh, sebelum ke kantor polisi saya mendatangi makan adik saya dulu" pinta Aisha pada pihak kepolisan.


Setelah Bayu ikut memohon agar mengabulkan permintaan Aisha, polisi pun mengizinkan Aisha mengunjungi makam adiknya dengan di dampingi pihak kepolisian.


__ADS_2