
Pagi hari Syifa baru saja di ambil darah untuk di cek lab, kemudian di lanjutkan dengan sarapan pagi dan minum obat. Dengan penuh kasih sayang Ummah menyuapi anak bungsunya.
Sementara Bani pagi ke tempat kerja lebih awal karena ada sebuah meeting yang tak bisa di tunda, hal ini di sambut bahagia oleh Fariz karena pagi ini dia yang akan mengantarkan Abah dan Uminya ke rumah sakit.
Fariz berdandan rapih, dan siap berangkat mengantarkan ke dua orang tuanya.
"Ayo berangkat" Seru Fariz.
"Bentar, Abah ada rapat penting dulu dengan para pengurus pesantren" jawab Abah.
"Ya sudah aku dan Umi berangkat duluan nanti Abah nyusul" ujar Fariz.
"Umi juga ikut rapat, lagian ini masih pagi" jawab Kyai Hasan.
"Kemaren bareng kak Bani pagi sudah berangkat giliran sekarang harus nunggu siang dulu" gerutu Fariz dalam hatinya.
Satu jam ia menunggu Abah dan Uminya namun tak kunjung kembali ada rasa kesal harus menunggu namun ia harus tetap bersabar agar dapat melihat kondisi Asyifa.
Setelah menunggu hampir dua jam Akhirnya mereka pun berangkat ke rumah sakit.
Di ruang perawatan Asyifa seorang dokter dan perawat datang membawa hasil lab.
"Kondisi pasien sudah bangat membaik, trombositnya juga sudah setabil, tak ada yang perlu di khawatirkan lagi, jadi nanti sore pasien di perbolehkan pulang, namun untuk sementara waktu pasien di wajibkan istirahat dulu untuk memulihkan kondisinya" ujar sang dokter menjelaskan.
"Alhamdulilah" ucap Syifa, Abi dan Ummah berbarengan. Rasa syukur mereka panjatkan atas ke sembuhan Syifa.
Setelah dokter keluar, dan di ikuti oleh pak Umar untuk menyelesaikan administrasi. Sedangkan Ummah membereskan barang bawaan mereka.
Pintu ruangan di ketuk dan masuklah keluarga Kyai Hasan dan di sambut hangat oleh Ummah, ada rasa kecewa di hati kecil Syifa karena hari ini ustaz Bani tak datang untuk menjenguknya.
"Gimana ke adaan Syifa ?" tanya Kyai Hasan. Ummah pun menjelaskan sesuai yang dokter jelaskan.
"Alhamdulilah, kalau gitu Syifa, kamu boleh ikut pulang ke rumah kamu selama satu minggu" jelas Kyai Hasan. Dan di sambut bahagia oleh Asyifa namun berbeda dengan Fariz ia merasa sedih karena seminggu ke depan tidak akan bertemu dengan Asyifa.
"Umar mana ?" Tanya Kyai Hasan.
__ADS_1
"Itu sedang menyelesaikan administrasi" jawab Ummah dengan sopan.
Tak lama kemudian pak Umar datang "Eh ada tamu ya" ucap pak Umar saat masuk.
"Gimana Bi ?" Tanya Ummah.
"Sudah selesai, nanti pulangnya abis ashar" jawab Pak Umar.
"Umar, ini ada sedikit bantuan dari pesantren, karena bagaimana pun Syifa sakit sedang di pesantren, harusnya menjadi tanggung jawab pesantren" jelas Kyai Hasan seraya menyodorkan sebuah amplop.
"Aduh pak Kyai gak usah repot - repot, lebih baik ini di gunakan untuk yang lainnya saja" tolak pak Umar.
"Terimalah Umar ini bentuk tanggung jawab kami" pinta Kyai Hasan.
"Maaf kami tidak bisa menerimanya, lebih baik gunakan untuk yang lainnya saja" tolak pak Umar lagi.
Akhirnya Kyai Hasan menyerah dan menaruh kembali amplop tersebut ke dalam kantong milik Umi "Uang ini nanti akan kami gunakan untuk sumbangan pembangunan pesantren" jelas Kyai Hasan.
"Kalau itu terserah pak Kyai saja" jawab pak Umar.
Di rumah Abian dan istrinya sedang bersiap menyambut ke pulangan sang adik, dan kini di rumah itu memperkerjakan seorang pembantu untuk meringankan kerjaan rumah,yang pastinya atas ke sepakatan bersama.
Sore hari suster datang ke ruangan Asyifa dan melepaskan selang infus, setelah itu memberikan resep obat yang harus di tebus. Pak Umar baru saja selesai menaruh barang bawaannya di bagasi mobil, dan kini ia harus ke bagian apotek untuk menebus obat, setelah semua selesai Syifa pun pulang dari rumah sakit.
Selama perjalanan pulang Syifa tertidur di pelukan sang Ummah, Sore itu jalanan macet karena waktu itu jam pulang kantor ditambah gerimis menemani perjalanan pulang mereka.
Kedatangan Asyifa di sambut bahgaia oleh Abian dan Shela, mereka langsung mengantrakan Asyifa ke kamar untuk beristirahat. Karena hari sudah sore dan bentar lagi adzan margib Syifa pun memutuskan tidak mandi hanya mengelap tubuhnya yang terasa lengket.
Di ruang tamu Abian memperkenalkan seseorang yang akan membantu pekerjaan rumah mereka " Abi, Ummah, ini namanya bi Ida, dia yang akan membantu Ummah dalam membereskan rumah" ucap Abian.
"Bi Semoga betah ya kerja di sini" ucap Ummah rammah.
Adzan magrib sudah berkumandang, semuanya pun langsung pergi ke kamar masing - masing mempersiapkan diri untuk shalat magrib, kali ini Shalat magribnya di lakukan masing - masing.
Setelah shalat magrib Ummah menyiapkan makan untuk makan malam di bantu oleh Bi Ida, sedangkan Shela kini menemani Syifa yang ada di kamar. Di lihat dari wajah Syifa ada sesuatu yang ingin di katakan namun ada keraguan untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Kalau mau cerita, Kak Shela siap dengerinnya, kakak juga janji akan menjaga rahasia" ucap Shela.
Asyifa masih ragu untuk bercerita, bahkan ia juga bingung harus cerita di mulai dari mana, sedangkan surat yang di kasih oleh ustaz Bani saja tertinggal di pesantren.
"Ceritanya nanti saja kalau kamu sudah siap" ucap Shela lembut dan dapat anggukan dari Asyifa.
Sementara di pesantren kegiatan malam ini sudah selesai semua santri kembali ke asramanya masing - masing, Mila dan Nayla sudah mendapat kabar kalau Asyifa sudah pulang dari rumah sakit, namun ia harus pulang dulu ke rumahnya untuk memulihkan kondisinya.
"Bah, Bani mau bicara serius sama Abah dan Umi" ucap Bani pada Kyai Hasan saat pulang dari pesantren.
"Mau bicara apa nak ?" Tanya Kyai Hasan penasaran.
"Nanti kita bicarakan di dalam rumah bareng Umi" jawab Bani.
Sampai rumah Kyai Hasan memanggil istrinya yang ada di kamar, sedangkan Bani sudah menunggu di ruang keluarga.
"Kamu mau bicara apa nak ?" Tanya Umi penasaran.
"Duduk dulu Umi" pinta Bani.
Ketika mereka sedang mengobrol Fariz keluar dari kamarnya bermaksud untuk mencari makanan karena perutnya lapar, namun tanpa sengaja ia mendengar kalau Abah, Umi dan kakaknya sedang berbucara yang serius, Fariz mengurungkan niatnya untuk turun ia lebih memilih untuk mendengarkan percakapan keluarganya secara sembunyi - sembunyi.
"Abah ,Umi jadi gini, Bani berniat ingin mengkhitbah Asyifa, mungkin menurut Umi dan Abah ini terlalu cepat namun Bani sudah memikirkannya matang - matang, bayangan Syifa selalu menghiasi pikiran Bani, dan Syifa juga yang mampu menggetarkan hati Bani, harus Umi dan Abah tau juga Bani sudah pernah mengirimkan surat untuk Syifa namun tak ada balasan dengan alasan ia ingin meminta pendapat pada keluarganya" jelas Bani.
Umi dan Abah kaget mendengar penjelasan tersebut, bahkan Umi sampai meneteskan air mata bahagianya.
"Umi dan Abah setujukan ?" tanya Bani.
"Kalau itu mau kamu, Abah dan Umi akan selalu mendukung, mungkin ini jodoh yang allah berikan buat kamu" jawab Abah.
Fariz dapat mendengar semua yang di katakan Bani, rahangnya mengeras, rasa emosinya sudah tak bisa di bendung lagi, apalagi ketika Abah dan Uminya menyetujuinya. Dengan amarah yang memuncak Fariz turun menenui Abah, Umi dan kakaknya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
jangan lupa like dan untuk votenya hanya bisa di lakukan di setiap hari senin.semoga kalian bisa menggunakan vote tersebut dengan baik. kalian juga bisa memberikan hadiah dari mulai mawar dan yang lainnya juga. terus dukung author agar semangat dalam melanjutkan cerita ini, doain juga biar Author sehat kembali agar bisa up yang banyak. .
__ADS_1