Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 116


__ADS_3

Aisha kembali keruang tunggu dimana sang adik di rawat, dari pintu kaca ia bisa melihat sang adik yang terbaring tak sadarkan diri dan juga terpasang berbagai alat kesehatan di tubuhnya.


"Dek sebentar lagi kakak akan mendapatkan cinta kakak, kamu bangun ya dek, kamu harus bangun agar bisa jadi saksi cinta kakak" ucap Aisha pelan. rasa bahagia sedang menyelimuti aisha.


"Tak sia - sia aku bersabar, dan cinta sejati akan menemukan jalannya" gumam aisha.


Sementara di ruang perwatan Syifa sedang menangis, semua yang di katakan Aisha sebagai tamparan baginya. ia merutuki dirinya yang telah gagal menjadi seorang istri dan juga ibu.


"Jangan - jangan nanti jika aku tak kunjung hamil, abang akan menceraikan Syifa" gumam Syifa seraya menangis.


Ummah dan Abi sangat terkejut saat melihat anaknya tengah menangis seorang diri di ruang perawatan.


"Ummah, Abii" teriak Syifa seraya menangis.


"Kamu kenapa nak" ucap Ummah dan langsung memeluk sang anak.


"Mah Syifa mau pulang sekarang" ujar Syifa tanpa menjawab pertanyaan Ummah.


"Bani mana ? kita tunggu suami mu" sahut Abi Umar.


"Syifa mau pulang sekarang " teriak Syifa histeris.


"Iya tapi Suami mu mana ?" tanya Ummah.


"Ya sudah kalau kalian tidak mau pulang sekarang, Syifa bisa pulang sendiri" ujar Syifa seraya turun dari tempat tidurnya. hal itu membuat Ummah dan Abi ke bingungan.


"Nak kamu kenapa ?, Abi janji akan antar kamu pulang asal kamu cerita apa sebenarnya yang terjadi ?" Abi Umar menahan Syifa saat Syifa kan berjalan keluar ruangan.


"Syifa gagal jadi seorang istri, Syifa gagal jadi seorang ibu, Abang pasti kecewa sama Syifa" ujar Syifa lirih dalam pelukan Abi Umar.


"Kamu bertengkar dengan suamimu ?" tanya Ummah namun Syifa menggelengkan kepalanya.


"Lalu kamu kenapa ?" tanya Ummah lagi.


"Bawa pulang Syifa sekarang kerumah Abi dan Ummah, nanti Syifa ceritanya di mobil" ujar Syifa lirih.

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa Abi dan Ummah menuruti kemauan Syifa. Ummah membantu Syifa berjalan ke arah loby rumah sakit, saat Abi Umar ingin menghubungi Bani, Syifa langsung melarangnya. membuat Ummah dan Abi semakin kebingungan apa yang terjadi dengan anak bungsunya.


"Nak nanti suami mu kebingungan mencari kamu" ujar Abi Umar saat mereka semua sudah ada di mobil.


"Jika Ummah dan Abi gak mau pergi sekarang lebih baik Syifa pergi sendiri" ujar Syifa.


Ummah dan Abi pun menuruti kemauam sang anak dari pada harus pergi sendirian dalam kondisi seperti ini.


"Kita pulang kerumah Abi dan Ummh" ujar Syifa dengan suara khas orang menangis.


"Nah, sebagai istri tidak baik pergi tanpa izin sang suami, itu dosa jatuhnya" ujar Ummah menasehati anaknya.


"Ummah, Syifa sedih tadi tiba - tiba Aisha datang ke kamar Syifa dia bilang Syifa harus mengizinkan Abang buat menikah dengan Aisha biar Abang bahagia dan juga punya anak, katanya Umur Syifa belum pantas jadi seorang ibu makanya allah mengambil kembali anak Syifa". penjelasan Syifa membuat Ummah dan Abi sangat terkejut, namun mereka sangat bingung siapa Aisha itu.


"Aisha itu siapa ?" tanya Ummah.


"Aisha itu masa lalu abang, Aisha meninggalkan abang karena dia di jodohkan orang tuanya, sekarang dia janda dan minta abang buat nikahin dia" jelas Syifa dengan isak tangisnya. Kedua orang tua Syifa merasa terkejut, karena mereka berdua juga tidak mengetahui tentang masalalu sang menantu.


"Nak kan belum tentu Baninya mau sama dia" jelas Ummah.


"Itu hanya pemikiran kamu saja, kita kan belum dengar penjelasan dari Bani" jelas Ummah.


"Kita pulang ke rumah kamu ya" bujuk Abi.


"Syifa gak mau, Syifa mau pulang kerumah Abi dan Ummah".


Sementara di rumah sakit,Bani sangat terkejut saat masuk ke ruang perawatan sang istri, karena sang istri tak ada di atas ranjang, Bani mencoba melihat ke toilet namun hasilnya nihil, membuat Bani jadi panik.


kemudian ia pun menghubungi mertuanya namun tak ada jaawban sama sekali, membuatnya semakin panik. Bani teriak - teriak memanggil istrinya hingga membuat salah satu perawat mendatangi dirinya.


"Maaf pak, ini rumah sakit, jadi di mohon untuk tenang" ujar perawat tersebut.


"Pasien yang di kamar ini kemana ?" tanya Bani seraya menunjuk kamar dimana Syifa di rawat.


"Pasien sudah pulang tadi bersama kedua orang tuanya" jelas perawat membuat Bani membelalakan matanya seakan - akan tidak percaya.

__ADS_1


Syifa pulang, tapi kenapa dia tidak menunggu aku, apa sebenarnya yang terjadi, kenapa perasaan ku jadi tidak enak. gumam Bani dalam hatinya.


Tanpa pikir panjang Bani langsung menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya, Bani pun mengedarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata - rata, ia pun melajukan mobilnya menuju kediamannya yang baru, ia sangat yakin jika istrinya pasti pulang ke sana, namun saat memasuki pekarangan rumahnya oa tak melihat mobil mertuanya terparkir.


Mana mobil Abi, apa mereka langsung pulang. gumamnya.


Bani berlari menuju rumahnya untuk mencari keberadaan sang istri. "Bi Syifa dimana ?" tanya Bani pada Bi Tuti.


"Neng Syifa di rumah sakit" jawab bi Tuti bingung kenapa Bani bertanya tentang keberadaan sang istri, bukanya mereka berdua sedang di rumah sakit.


"Bi kata perawat Syifa sudah pulang bareng kedua orang tuanya" jelas Bani.


"Hah pulang, tapi dari tadi tak ada neng Syifa, atau jangan - jangan mereka membawa neng Syifa Umi".


"Kenapa kerumah Umi, mereka akan tahu Syifa sudah tinggal di sini".


"Apa salahnya coba di cek ke sana dulu" usul bi Tuti yang juga ikut khawatir dengan keadaan Syifa.


"Tapi kalau Syifa balik ke sini segera hubungi saya ya bi". Bani berlalu menuju mobilnya dan melajukannya menuju rumah Umi dan Abah. perasaannya bener - bener gak tenang, selama perjalanan ia mencoba kembali menghubungi nomor istinya namun nomornya tidak aktif, lalu Bani menghubungi mertuanya namun tak ada jawaban.


"Kamu dimana Syifa ?" tanya Bani lirih.


Sampai di pesantren ia turun dari mobil dan langsung berlari ke rumah orang tuanya, namun keadaan rumah dalam terkunci.


"Kenapa di kunci, apa umi dam Abah masih di acara belum pulang" gumam Bani.


Ia pun kemudian menuju gedung utama pesantren, di sana ia bertemu dengan Ustazah Aisyah dan ustaz Ali yang baru saja selesai mengajar para santri.


"Ada apa Bani, sepertinya kamu ada masalah ?" tanya ustaz Ali saat melihat wajah kusut Bani.


"Umi dan Abah belum pulang dari acara ?" Bani malah bertanya balik dari pada menjawab pertanyaan ustaz Ali.


"Acaranya si sampai malam, coba saya hubungi jika ada kepentingan" sahut ustaz Ali yang kini sudah duduk di samping Bani.


Umi sangat terkejut saat ia mengetahui jika memantunya pergi tanpa di ketahui oleh anaknya, bahkan kini anaknya sedang kebingungan mencari istrinya.

__ADS_1


"Umi dan Abah akan segera pulang, nanti kita biacarakan ini di rumah" ujar Umi mengakhiri panggilan teleponnya.


__ADS_2