
Syifa menyambut hari yang Fitri dengan penuh suka cita, Suasana tahun ini sangatlah berbeda dari tahun - tahun sebelumnya, Sejak pagi Syifa sudah di sibukan dengan membantu membereskan rumah, walaupun yang lain sudah melarangnya namun hal itu tak membuat Syifa menghentikan aktivitasnya, Setelah itu Syifa menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh suaminya.
"Bang bajunya sudah Syifa siapin di atas kasur" ujar Syifa pada suami yang berada di kamar mandi.
"Iya" jawab Bani singkat.
Setelah semua siap, Keluarga Kyai Hasan berangkat bersama - sama menuju mesjid yang berada di lingkungan tempat tinggal mereka, mereka berkali - kali berpapasan dengan warga sekitar dan tak lupa untuk menyapanya, ke rukunan antar tetangga masih terjaga.
Sepulang dari mesjid, anggota keluarga Kyai Hasan saling bermaaf - maafan, begitupun Bani dan Syifa.
"Bang maafin Syifa yang belum bisa jadi istri yang baik buat abang, maafin juga sikap Syifa yang kadang ke kanak - kanak kan, terus bimbing Syifa menjadi istri yang selalu berbakti pada suami dan juga keluarga" ujar Syifa dengan berlinang air mata.
"Iya maafin Abang juga yang belum bisa bahagin Syifa, belum bisa jadi imam yang baik buat Syifa" ujar Bani tak lupa Bani juga mencium kening istrinya sebagai tanda kasih dan sayangnya.
Selesai bermaaf - maafan keluarga Kyai Hasan langsung menyantap makanan yang sudah di sediakan, makanan khas lebaran, ada ketupat, ada Sayur, rendang, opor dan juga yang lainnya, Umi dan Zahwa sengaja memasak dengan porsi yang lebih karena keluarga mereka akan selalu kedatangan sanak saudara mereka.
Satu persatu sanak saudara Kyai Hasan dan Umi pun berdatangan. suasana rumah pun semakin ramai dengan adanya beberapa anak kecil yang berlari kesana kemari dan ada juga yang menangis karena rebutan makanan dan mainan.
Syifa melihat anak - anak yang di kejar oleh ibunya untuk diam, membuat Syifa membayangkan kala dirinya sedang menemani anaknya nanti bermain, Syifa tersenyum seraya mengusap perutnya yang masih di bilang rata.
"Ko Malah melamun Sih" tegur Bani.
"Hmm Abang bikin kaget saja" ujar Syifa.
"Kenapa melamun ?" tanya Bani.
"Hmm itu liat anak kecil lari - lari jadi gemes, nanti anak kita juga seperti itu kali ya, lari ke sana, lari ke sini" ujar Syifa sambil membayangkan anaknya kelak berlari kesana kemari.
"Hmm, iya sayang, pasti suasana rumah tambah ramai" seru Bani.
ketika Bani dan Syifa sedang asik berduaan tiba - tiba ada beberapa saudara yang menghampiri Bani dan Syifa.
"Bani, Syifa selamat ya atas kehamilan Syifa, semoga sehat sampai lahiran nanti" ujar saudara Bani.
"Terimakasih tante atas doanya" sahut Bani.
"Nanti ajak maen dong Syifa nya ke rumah tante" ujar salah satu saudara Bani.
"Iya insya allah nanti tante" jawab Syifa sopan.
__ADS_1
"Cantik banget istri kamu Bani, pantes jarang di ajak maen keluar pasti takut di lirik yang lain ya" goda saudara Bani.
"Tante juga cantik" ujar Syifa malu - malu.
Syifa dan Bani berbaur bersama keluarga besar, bercengkrama satu sama lain, keterbukaan saudara Kyai Hasan dan Umi membuat Syifa tak kesulitan dalam beradaptasi dengan mereka.
"Sayang Ayo siap - siap kita kerumah Abi dan Ummah" ujar Bani pada sang istri.
Syifa pun manut, ia bergegas kekamarnya mempersiapkan barang - barang yang akan di bawanya ke rumah Abi Umar, karena rencananya mereka akan menginap di sana.
Sedangkan Bani memasukan beberapa kotak kue yang sudah Umi dan Zahra siapkan sebagai buah tangan mereka.
"Nak, bilang sama Abi dan Ummah, Umi dan Abang belum bisa ke sana, insya allah besok baru kita sekeluarga ke sana" ujar Umi.
"Iya Umi gak papa" sahut Syifa. "Syifa dan abang pamit berangkat dulu ya" sambung Syifa.
Bani dan Syifa berpamitan dengan sanak saudara Kyai Hasan dan Umi, karena mereka akan pergi ke rumah orang tua Syifa.
"Istrinya Bani walaupun masih muda tapi dewasa banget ya" ujar salah satu saudara Bani.
"Gimana didikkan keluarga dan juga suaminya" timpal yang lainnya.
"Iya juga sih, saya juga mau dapat mantu seperti itu, tapi sayang mantu saya dua - duanya sibuk mengejar karir, keluarga mah di nomor dua kan" ujar saudara Bani.
"Tapi kasian anaknya kurang kasih sayang" ujar saudara Bani tersebut.
"Yang penting tidak kekurangan uang" timpal yang lainnnya.
Umi,Zahwa, dan anak bungsunya mengantar Syifa dan Bani sampai naik ke mobil.
"Om ama ate mau ke ana ?" tanya Zayn saat melihat Syifa akan naik ke dalam mobil.
"Om dan Tante mau ke rumah Abi dan Ummah" jelas Zahwa.
"Zayn ikut". Rengek Zayn yang menginginkan ikut dengan om dan tantenya.
"Besok kita nyusul ya sama papa" bujuk Zahwa.
"Mama lagi nda bohong kan ?" tanya Zayn.
__ADS_1
"Mama gak bohong ko, besok kita nyusul bareng nenek dan juga kakek" ujar Umi agar cucunya tak merengek lagi.
Syifa mendekati Zayn, dan memposisikan dirinya sejajar dengan tinggi Zayn. "Ante sama om berangkat duluan, besok Zayn nyusul bareng yang lainnya, ante janji bakal nyediain makanan kesukaan Zayn di sana" ujar Syifa dengan nada yang lembut.
"Yess, Zayn suka jelly" seru Zayn senang.
"Besok Ante sediakan jelly yang banyak, asal Zayn jangan nakal ya" ujar Syifa.
Zayn pun kegirangan, hingga ia berlari ke sana kemari sambil tertawa. "Ya sudah kalian berangkat sana ke buru siang" ujar Umi. Bani pun melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan pesantren.
...******...
Fariz mencoba menghubungi Rara namun tak ada jawaban. Kenapa sekarang dia seperti menghindar, apa selama ini aku salah mengartikan perasaan ini, atau jangan - jangan Kak Tama melarang Rara untuk berhubungan dengan ku lagi, tapi apa alasannya. Gumam Fariz sembari memandangi ponselnya berharap Rara menghubunginya balik.
Kedekatannya tak seperti dulu lagi, bahkan sekarang Rara menghubungi Fariz hanya jika ada kepentingan saja.
Fariz mencoba kembali menghubungi Rara. setelah menunggu sekian menit akhirnya Rara menjawab panggilannya.
"Minal 'Aidin wal Faizin" ujar Fariz.
"Minal 'Aidin wal Faizin juga" jawab Rara.
"Kamu sibuk, kenapa lama sekali menjawab panggilan ku ?" tanya Fariz.
"Maaf, tadi aku ke asikkan main bareng sepupu ku, jadi nggak sadar jika ponselnya berdering" jawab Rara.
Kenapa dia dingin sekali nada bicaranya, apa ada yang salah dari ku, atau dia sudah malas berteman dengan aku. Gumam Fariz dalam hatinya.
"Maaf jika aku mengganggu kegiatan mu" ujar Fariz.
"Ada perlu apa ya kamu menghubungi ku ?" tanya Rara membuat Fariz sedikit terkejut.
Kenapa Rara bertanya seperti itu ? gumam Fariz.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat hari raya lebaran" ujar Fariz.
"Hanya itu saja ?" tanya Rara, kini diri yang terkejut. ada rasa kecewa atas jawaban Fariz.
Kenapa dia tidak bertanya kabar aku, kanapa tidak bertanya alasan ku tidak menghubunginya. Gumam Rara merasa kecewa karena Fariz tak memperhatikan dirinya lagi.
__ADS_1
"Hmm sebenarnya aku ingin silaturahmi dengan keluarga kamu, termasuk kak Tama, tapi sepertinya hari ini keluarga besar kamu sedang berkumpul, tak enak jika kehadiran ku merusak moment kebersamaan kalian" ujar Fariz.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...