Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 105


__ADS_3

Tama yang sedang duduk di luar langsung bisa menebak jika yang datang adalah Fariz.


Pinter juga ni anak, datang dengan membawa tentengan. Gumam Tama.


"Asalamualaikum" ucap Fariz saat memasuki halaman rumah Rara.


"Ada Tamu tak di undang nih" ujar Tama tentunya membuat nyali Fariz langsung menciut.


Apa ini sebuah tanda kalau kak Tama tak merestui aku untuk mendekati adiknya. gumam Fariz dalam hatinya.


"Sore kak Tama, mohon maaf lahir dan batin ya" ujar Fariz dengan rasa gemeter di tubuhnya.


"Ada tamu ya" ujar tantenya. " Temennya Tama apa Rara ?" tanya tantenya Rara.


"Perkenalkan nama saya Fariz, temennya Rara dan juga kak Tama" ujar Fariz memperkenalkan dirinya.


tantenya Rara pun memanggil Rara ke dalam rumah, sedangkan Fariz masih berada di luar bersama Tama.


"Bani gak di ajak ?" tanya Tama.


"Kak Bani masih di rumah mertuanya" jawab Fariz dengan suara yang sedikit gemetar.


"Gak usah takut, gue gak bakalan gigit lo, asal yang ada di tangan lo sini kasih ke gue" ujar Fariz sambil berbisik dan Fariz langsung memberikan tentengannya dengan cepat.


"Selow bro, gue cuma becanda kali" ujar Tama yang melihat gestur tubuh Fariz yang tidak tenang. "Lo pasti gak bilang sama kakak lo kalau mau ke sini, iya kan ?" dengan cepat Fariz pun menganggukan kepalanya.


"Bagus, biar gue yang kasih tahu" ujar Tama dengan nada becandannya.


"Jangan sekarang" ujar Fariz ketakutan jika kedekatanya dengan Rara akan di ketahui oleh kakaknya.


Rara pun keluar, mengampiri pujaan hatinya dengan raut wajah riang gembira.


"Kenapa gak di suruh masuk" protes Rara pada kakaknya.


"Lupa" jawab Tama, dan berlalu meninggalkan keduanya.


"Ayo masuk, maaf kak Tama memang sering becanda" ujar Rara.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Rara. Fariz di kenalkan satu persatu dengan anggota keluarga Rara termasuk dengan mamanya, walaupun sering antar jemput Rara namun ini kali pertamanya Fariz bertemu dengan mamanya Rara.


Keluarga yang lain membiarkan Rara dan Fariz ngobrol berdua di ruang tamu sedangkan yang lain malah berkumpul di ruang televisi.

__ADS_1


Diam - diam Tama mengabadikan Fariz dan Rara yang sedang duduk berdua. bukti ini akan di kirim ke Bani, karena Tama yakin jika Bani belum mengetahui kedekatan Fariz dan Rara.


"Tama sedang apa kamu, gak baik ngintip orang pacaran" tegur mamanya.


"Ini aku akan kasih liat ke kakaknya Fariz mah" sahut Tama.


"Emang kamu kenal dengan keluarganya Fariz ?" tanya mamanya lagi.


"Kenal, mama inget Bani kan temen kuliah Tama, Nah Fariz ini adiknya Bani ma" jelas Tama.


"Ohh iya, tadinya mama sempat berharap jika tiara bisa berjodoh dengan Bani, mama liat dia anak yang baik bahkan paham agama" jelas mamanya.


"Mama kalau ngomong jangan sembarangan, Bani sudah nikah, malahan sekarang istrinya sedang hamil, gimana gak paham agama dia anak pemilik pesantren dan bahkan ia juga menjadi salah satu tenaga pengajar di pesantrennya, Bani terpincut sama Santrinya ma" jelas Tama.


"Ya ampun mama gak tau, maaf" ujar mamanya merasa bersalah karena berharap pada orang yang sudah memiliki istri. "Kakaknya gak dapet, berarti adiknya jangan sampai lolos" ujar mamanya seraya tersenyum.


"Bener ma, Tama setuju Tiara sama Fariz, Tama yakin Fariz anak baik dan juga bertanggung jawab, jadi jika Tiara sudah menikah maka tanggung jawab Tama lepas, Tama bebas" ujar Tama senang.


"Lepas bagaimana ?" tanya Mamanya bingung.


"Ma, papah sudah mengamantkan ke Tama buat Jaga Tiara sampai dia mendapatkan jodoh yang baik, tadi Tama merasa aman jika melepas Tiara pada Fariz, Tama tak perlu mengawasi Tiara lagi" jelas Tama membuat mamanya hanya menggelengkan kepala.


Tak begitu banyak obrolan yang keluar dari mulut Fariz atau pun Rara, mereka masa - sama canggung.


"Iya apa".


"Kenapa akhir - akhir ini aku berubah, menjadi lebih dingin, tak seperti dulu, bahkan kamu sekarang jarang memberi kabar ?.


"Maaf, harusnya aku yang bertanya seperti itu" ujar Rara.


"Aku jarang menghubungi kamu, kemaren - kemaren aku fokus dengan persiapan pembukaan resto cabang ku. maaf jika itu membuat kamu kurang nyaman" ujar Fariz.


"Maaf jika aku sudah mempunyai pikiran jelek tentang kamu" ujar Rara merasa bersalah tapi ia juga senang ternyata Fariz tidak sedang mencoba menjauhi dirinya.


"Sudah hampir malam, aku harus segera pulang" ujar Fariz.


Fariz pun pamit pulang dengan keluarga Rara, termasuk dengan mamanya.


"Kenapa gak nanti saja, kita makan malam bersama" ujar mama Erni.


"Kapan - kapan saja tante" ujar Fariz menolak.

__ADS_1


"Jangan panggil tante, panggil saja mama".


"Iya tan, ehh mama" ucap Fariz gugup. sedangkan Tama hanya cengengesan melihat Fariz yang tengah gugup, dan Tama juga mengabadikan moment tersebut di ponselnya.


"Sering - sering ya main ke sininya dan terimakasih buat buah tangannya" ujar mama nya Rara.


Fariz merasa sedikit lega setelah meninggalkan kediaman Rara, ia juga merasa senang karena keluarga Rara menyambut kedatangannya dengan baik, walaupun sempat di buat jantungan oleh Tama namun itu hanya sebuah candaan belaka Tama yang mengisengi Fariz.


...*****...


Tiba di rumah Kyai Hasan sudah sore menjelang magrib, Syifa lebih memilih untuk membersihkan dirinya dan persiapan untuk shalat magrib.


"Perut kamu masih kram ?" tanya Bani.


"Sudah nggak sayang" jawab Syifa.


Bani pun merasa lega, namun ia tetap khawatir hingga ia memaksa istrinya untuk pergi ke dokter.


"Dokter Della masih libur sayang, dia akan buka praktek seminggu lagi" jelas Syifa.


"Ke dokter yang lain saja" bujuk Bani.


"Sayang aku baik - baik saja, tak perlu mencemaskan keadaan ku, aku yakin jika aku kuat maka anakku juga akan kuat" jelas Syifa.


Jam tujuh malam Fariz baru tiba di rumahnya, ia pun memilih untuk langsung masuk kekamar dan menghindari pertanyaan - pertanyaan yang akan menyudutkannya.


Ponsel Bani berdering tanda ada pesan masuk.


"Dari siapa ?" tanya Syifa.


"Tama mengirim sebuah video" jelas Bani.


"Video apa ?" tanya Syifa penasaran.


"Gak tau, belum bisa di puter, namun tulisannya 'Bani kamu kalah dengan adikmu,adikmu datang ke rumah ku dengan membawa tentengan'" Bani membaca tulisan yanga da di bawah video.


"Fariz kerumah Tama, bukannya dia tadi bilang mau ketemu Zidan ?" tanya Syifa.


Bani dan Syifa memutar video yang di kirim Tama. dalam video tersebut, terlihat Fariz sedang berjalan membawa beberapa tentengan dan menuju rumah Tama.


"Ini rumah Tama, ngapain dia ke sana, ada hubungan apa dia dan Tama ?" tanya Bani yang menjadi penasaran.

__ADS_1


Bani pun membalas pesan dari Tama dan menanyakan ada keperluan apa adiknya datang kerumah Tama. namun Tama malah menyuruh Bani untuk bertanya langsung pada adiknya. hal ini membuat Bani semakin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi antara adik dan temannya itu.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2