
Fariz berangkat bekerja lebih santai, hari ini tak terlalu banyak kerjaan yang harus ia kerjakan. sampai di restonya Fariz mencoba menghubungi Zidan, ia meminta laporan bulanan dari cabang resto miliknya.
Fariz pun mengecek laporan yang telah di kirim oleh Zidan barushan. Fariz mengucap syukur karena resto cabangnya kian hari kian bertambah ramai. bisa terlihat dari penghasilan bulanannya yang setiap bulannya mengalami peningkatan.
Tok tok tok
pintu ruangan Fariz di ketuk dari luar.
"Masuk" teriak Fariz.
Ceklek heandle pintu pun terbuka, seorang pegawainya masuk.
"Ada apa ?" tanya Fariz .
"Maaf pak, ada yang nyari bapak di luar " ujar seorang pegawainya.
"Siapa ? yang kemaren lagi ?" tanya Fariz.
"Bukan pak, kalau yang sekarang itu seorang laki - laki pak" jawab pegawainya. Fariz mencoba berfikir siapa lagi yang datang apakah temannya atau orang yang ingin mengajak kerjasama dengannya ?.
pegawai itu menunjukan di mana seseorang yang mencari Fariz itu menunggu.
"Itu orangnya yang duduk di meja nomor lima" ujar pelayan seraya menunjuk ke meja nomor lima.
"Baiklah, buatkan dua minuman lalu antar ke meja tersebut" titah Fariz dan berlalu menuju meja tersebut.
Sedangkan pria itu segera berdiri tatkala Fariz datang menghampirinya.
"Selamat siang pak Fariz" ujar lelaki itu ramah.
"Siang juga" jawab Fariz. "Silahkan duduk".
"Terima kasih".
__ADS_1
"Mohon maaf bapak ini siapa dan ada keperluan apa mendatangi saya ?" tanya Fatiz yang langsung to the poin.
"Perkenalkan nama saya Fahri" ujar lelaki itu mengulurkan tangannya.
"Fariz" Fariz pun menyambut tangan lelaki itu.
"Senang bisa bertemu dengan pak Fariz langsung, hingga saya bisa membicarakan sesuatu yang amat serius dengan pak Fariz".
"mohon maaf, langsung saja ya, maksud dan tujuannya datang ke sini apa ?".
"Pak Fariz tak perlu tegang, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang seharusnya dari dulu saya sampaikan" ujar lelaki itu semakin membuat Fariz merasa aneh dengan lelaki itu.
"Ya sudah silahkan sampaikan saja" ujar Fariz.
"Hmm saya jadi bingung mau menyampaikan dari mana dulu" ujar lelaki itu. kemudian seorang pegawai membawakn dua gelas minuaman.
"Silahkan di minum dulu biar gak terlalu tegang". ujar Fariz.
"Apakah pak Fariz yakin tidak mengenali saya sama sekali ?" tanya lelaki yang bernama Fahri.
"Ya saya menang tidak mengenali anda, jadi silahkan ada keperluan apa anda datang ke sini ?" Fariz berbicara tegas, menurutnya lelaki yang berada di hadapannya hanya bicara di situ situ saja bahkan berbelit - belit.
"Hahahaaa Fariz , Fariz polos sekali anda". Fariz di buat terkejut dengan suara tawa lelaki itu yang seperti sedang mengejek Fariz. "Fariz istri anda sedang hamil, apakah kamu tau anak siapa yang ada di dalam rahimnya ?" tanya Fahri seraya tersenyum mengejek.
"Jika istri saya hamil, ya tentu itu hamil anak saya, karena saya merupakan suaminya" Jawab Fariz. ia bingung kenapa lelaki itu malah membahas tentang kehamilan istrinya.
"Hahaa tapi ada salah, itu bukan anak anda !" Seru lelaki itu tentu membuat Fariz terkejut.
"Maaf jika anda datang ke sini hanya untuk membicarakan soal istri saya, di rasa lebih baik anda pergi saja, urusan rumah tangga saya itu urusan saya dan istri saya bukan urusan anda" ujar Fariz kesal.
Lelaki itu hanya bisa tertawa dalam hati karena berhasil memancing emosi Fariz.
"Fariz, kamu gak tau kan apa yang di lakukan istri anda selama di rumah ketika anda bekerja ?".
__ADS_1
"Kamu mau bilang istri saya sering keluar rumah tanpa sepengetahuan saya, anda salah, istri saya selalu di rumah, bahkan istri saya di temani mamanya". Fariz membuat lelaki itu terdiam sesaat.
"Jika anda datang ke sini hanya untuk menjelekan istri saya anda salah, anda salah orang" ujar Fariz. ia bangkit dari tempat duduknya dan ingin pergi meninggalkan lelaki yang tak jelas menurutnya.
"Tunggu" lelaki itu menghentikan pergerakan Fariz.
"Apa lagi ?" tanya Fariz, tatapannya yang tajam.
"Duduklah, aku ke sini hanya ingin menyampaikan sesuatu yang harus kamu ketahui, urusan percaya atau tidak itu urusan kamu" lelaki itu membujuk Fariz agar mau mendengarkan ceritanya.
Fariz kembali duduk, dalam hatinya ia juga sangat penasaran, sebenarnya apa yang ingin di sampaikan lelaki tersebut.
"Sebelumnya maaf jika perkataan ku melukai hati kamu. kamu itu terlalu polos hingga gampang di bodohi oleh istri kamu, saat kamu pergi bekerja istri kamu akan berakasi. istri kamu sering keluar bersama lelaki lain, kamu tahu anak yang ada di dalam kandungan istri kamu itu adalah anak dari bosnya Rara dulu. apa Rara tidak pernah bercerita jika dia di paksa untuk melayani bosnya agar dia bisa keluar dari kerjaanya" penjelasan lelaki itu tentu buat Fariz teringat saat istrinya berlari ketakutan karena di paksa untuk melayani bosnya. ia berusaha tenang agar tak terpancing emosi yang akan menyesatkan.
"Sampai Rara keluar dari kerjaannya, dia masih tetap melayani bosnya sesuai perjanjian, mereka melakukannya di hotel pada siang hari agar kamu tidak curiga kepadanya" ujar lelaki itu, dan Fariz masih diam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu.
Suara tepuk tangan mengagetkan Fariz dan juga Fahri.
"Hebat sekali anda mengarang ceritanya" ujar seseorang, namun suara itu tak asing di telinga Fariz.
"Kenapa anda diam, silahkan lanjutkan ceritanya, saya ingin mendengarnya, sepertinya seru" ujar seseorang tersebut lalu duduk di samping Fariz.
"Kak Tama, sejak kapan ada di sini ?" tanya Fariz yang terkejut dengan kedatangan sang kakak ipar yang tiba - tiba.
Tama hanya melirik sekilas ke arah Fariz. sebenarnya Tama sudah sejak tadi ada di sana, ia diam - diam mendengarkan percakapan Fariz dengan lelaki itu. niat Tama datang ke sana untuk membicarakan tentang ancaman yang di terima sang adik dan juga tentang perempuan yang bernama Leni. namun saat sampai di resto Tama melihat sang adik ipar sedang berbincang - bincang dengan seseorang.
"Kenapa diam saja, kenapa ceritanya tidak di lanjut ?" tanya Tama pada lelaki yang ada di hadapannya. lelaki itu masih diam, ia sedang memikirkan bagaimana bisa pergi dari tempat itu sekarang juga.
"Harus kamu tau ya, sejak Rara keluar dari kerjaannya, tiap hari ia ikut ke resto bersama suaminya, tapi pernah juga beberapa kali tidak ikut ke resto karena ia ada acara bersama keluarga, dan ketika Rara hamil baru dia tidak ikut ke resto lagi agar Rara bisa istirahat dengan baik di rumah, tapi harus kamu tau kalau Rara di rumah itu di temani oleh mama dan juga mertuanya. jadi kalau mau mengarang cerita pinter dikitlah" jelas Tama membuat lelaki itu menjadi pucat pasi.
"Saya tau siapa bos kami itu !" seru Tama. "Bilang padanya jika kamu telah berhasil menghasut Fariz. kalau tidak saya akan tuntut kamu" ancam Tama membuat lelaki itu ketakutan.
"I_ya, T_api Ja_ngan Laporkan sa_ya kepolisi" ujar lelaki yang bernama Fahri itu gugup dan setelah itu Tama menyuruhnya untuk pergi meninggalkan Resto tersebut.
__ADS_1