
"Abang" lirih Syifa pelan.
"Iya sayang, Abang di sini, jangan menangis sayang" ucap Bani, tangannya terulur mengusap buliran bening yang mengalir di pipi sang istri.
Syifa masih terisak, bahkan bahunya naik turun guna menekan ngilu yang menjalari rongga dadanya, di tatapnya wajah sang suami dengan lekat.
"Maafkan Syifa jika selama ini, Syifa belum bisa jadi istri yang baik untuk Abang" seketika Bani memeluk istrinya erat.
"Enggak, sayang. jangan bilang begitu, yang harus Syifa lakukan sekarang hanya semangat dan kuat. abang akan selalu ada di sini, di samping Syifa. jangan putus doa, semua pasti baik - baik saja, Syifa pasti bisa melewati ini, jangan lemah ada Abang dan yang lainnya di sini".
Syifa mengangguk, yang bisa di lakukan saat ini hanya pasrah. ini adalah perjuangannya, jihadnya seorang ibu. apa pun akan di lewati asal ke dua buah hatinya dapat menghirup udara dunia dengan selamat.
Bani mengelus lembut pipi sang istri, lalu mengecup ubun - ubun istrinya itu sebelum seorang perawat membawa Syifa memasuki ruangan operasi.
Sunyi berselimut cemas hati Bani saat menunggu di luar ruangan operasi bersama yang lainnya. Bani tak di perbolehkan untuk menemani sang istri di meja operasi karena kondisi Syifa yang semakin melemah. Hal itu di lakukan agar memudahkan tim dokter dan juga perawat bisa dengan cepat menangani pasien jika terjadi sesuatu hal yang buruk.
Dua puluh menit sudah Syifa berada di ruang operasi. kini ia sedang berjuang antara hidup dan matinya. di luar ruangan Ummah dan Abi umar baru saja sampai.
"Gimana keadaan Syifa ?" tanya Ummah yang sangat mencemaskan keadaan putri bungsunya itu.
"Baru masuk ruang operasi dua puluh menit yang lalu" ujar Umi.
Bani tak menyadari jika mertuanya sudah datang, karena dari tadi Bani mondar - mandir di depan pintu ruang operasi. sesekali Bani menempelkan kupingnya pada pintu ruang operasi, berharap dapat mendengar percakapan di dalam ruangan tersebut.
"Nak, duduklah" ujar Umi tak tega melihat sang anak yang terlihat sangat mencemaskan kondisi istri dan juga buah hatinya.
"Banyak - banyak berdoa nak dari pada harus mondar - mandir gak jelas" sahut Abah Hasan.
Yang di katakan Abahnya ada benarnya juga, Bani pun pergi ke sebuah mushola yang letaknya tak jauh dari ruangan operasi. di sana Bani menadahkan kedua tangannya berdoa untuk keselamatan sang istri dan juga kedua buah hatinya.
Ada Rasa kecewa menyeruak di hati Bani, karena dalam kondisi seperti ini dirinya tak bisa berada di samping sang istri, Bani merutuki kebodohannya karena kenapa ia tak memaksa dokter untuk memberi izin padanya agar bisa menemani sang istri di meja operasi.
Satu jam berlalu namun belum ada tanda - tanda jika operasi itu telah selesai di lakukan.
__ADS_1
"Umi kenapa lama sekali ?"tanya Bani.
"Sabar nak, mungkin sebentar lagi akan selesai" ujar Umi menenangkan Bani.
"Anak kalian kembar jadi mungkin butuh sebuah ke hati - hatian dalam melakukan tindakan yang di lakukan oleh Tim dokter dan juga perawat" Timpal Ummah.
Waktu terus berputar, dua jam telah berlalu, namun belum ada tanda - tanda lampu operasi di matikan dan itu berarti operasi masih berlangsung.
Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nasir ( cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah sebaik - baiknya pelindung). Bibi Bani terus merapalkan doa dan zikir, memasrahkan harapan sepenuhnya pada sang maha kuasa.
Semua orang menoleh saat seorang perawat membuka pintu ruang operasi. Bani melangkah cepat, tak sabar ingin mengetahui keadaan ketiga belahan jiwanya. Dadanya berdegup sangat kencang saat perawat itu menggelengkan kepalanya. Bani masih belum sepenuhnya menangkap maksud perawat tersebut.
"Maaf pak, dengan sangat terpaksa kami harus menyampaikan bahwa _____".
"Kenapa dengan istri dan juga anak - anak saya ?" Bani memotong penjelasan perawat itu.
"Kenapa dengan anak saya dan cucu saya ?" tanya Ummah.
"Untuk yang lain, tunggu di luar dulu" ujar perawat, saat Ummah ingin mengikuti Bani yang sudah masuk terlebih dahulu.
"Saya ingin melihat kondisi anak dan cucu saya" ujar Ummah dengan setengah terisak.
"Maaf bu, hanya ayah dari bayi yang di perbolehkan masuk".
"Ummah sabar ya, Syifa dan cucu kita pasti baik - baik saja" Abi Umar mencoba memberi pengertian pada istrinya.
Pintu ruangan operasi kembali di tutup.Bani mendekati sang istri lalu mengecupnya tanpa malu - malu.
"Pak, istri bapak mengalami kritis " ucap dokter.
Tangis Bani pun pecah saat mendapat kenyataan yang menyakitkan. Hatinya terasa sekarat, tangannya gemetar mengelus lembut wajah yang terpejam.
"Tapi ke dua anak bapak selamat, mereka lahir dengan selamat, silahkan bapak ikut dengan perawat ini jika ingin melihat kedua anak bapak" ujar sang dokter.
__ADS_1
Bani mengikuti seorang perawat memasuki ruangan lain yang berada di ruangan tersebut, dari kejauhan Bani dapat melihat kedua anaknya sedang di bersihkan oleh Tim perawat.
Bani meneteskan air matanya, entah dia harus bahagia atau bersedih saat ini, ia bener - bener sangat benci situasi seperti ini. ia benci harus berada di antara bahagia dan juga terluka. Bahagia melihat buah hatinya lahir kedunia dan terluka karena sang istri harus mengalami kritis setelah berjuang melahirkan buah hati mereka.
"Silahkan masuk pak" ujar salah satu perawat.
Ini untuk pertama kalinya Bani dapat bersentuhan dengan sang buah hatinya. Bani melantunkan adzan untuk kedua buah hatinya secara bergantian. tangis dari kedua buah hatinya menjadi sebuah kekuatan tersendiri untuk Bani.
Kini Bani kembali menemui dokter yang menangani sang istri.
"Dok apa istri saya akan baik - baik saja ?" tanya Bani.
"Bismillah ya pak, bantu dengan doa" ujar sang dokter. "Untuk sementara istri bapak akan di bawa ke ruangan Icu untuk memantau kondisinya, dan kedua anak bapak untuk sementara waktu kita taruh dulu di ruangan khusus bayi" jelas sang dokter.
Setelah mendengar penjelasan dokter, Bani kembali mendekati sang istri.
"Sayang kamu harus kuat, bertahan ya, lihat anak kita sedang menunggu kamu" ujar Bani lirih dan tak kuasa melihat keadaan sang istri.
Bani keluar ruangan operasi dengan wajah yang sembab.
"Nak bagimana keadaan Syifa dan anak - anak kamu ?" tanya Umi penasaran.
"Mereka baik - baik saja kan ?" tanya Ummah.
Bani terdiam sejenak, ia bingung harus mengatakan apa pada keluarganya.
"Nak, mereka baik - baik saja kan ?" tanya Umi mengulangi pertanyaannya.
"Ke dua anak Bani lahir dengan selamat dan juga sehat tapi ____".
"Tapi kenapa ?" tanya Ummah memotong pembicaraan Bani.
"Syifa kritis" Dada Bani sesak bukan main. seluruh persendiannya lemas dan tulangnya terasa tak kuat menopang beban tubuhnya, seakan dia baru saja di jungkir balikan sehingga membuat raganya tak lagi menyimpan tenaga.
__ADS_1