
Bani dan Syifa secara kompak menghentikan langkahnya saat ada yang menegurnya dengan suara yang tak asing di telinga Syifa.
"Kak Robby, kak Salwa" sapa Syifa saat tau yang menegurnya adalah sepupunya.
"Kalian sedang apa di sini ?" tanya Robby basa - basi.
Dunia ini terlalu sempit, ketika aku berusaha melupakannya, namun kenapa kau selalu saja mempertemukan ku dengannya, kalau begini bagaimana mungkin aku bisa melupakannya. gumam Salwa dalam hatinya, perasaannya selalu bergemuruh dan meronta - ronta ketika dirinya harus bertemu dengan sosok yang ia sangat cintai.
"Kita hanya berkeliling saja, mumpung masih libur kerja" ucap Bani sopan. "Kalian baru datang atau mau pulang ?" tanya Bani balik.
"Kami baru saja datang" jawab Robby. "Oh iya kami turut perihatin atas musibah yang menimpa kalian" sambung Robby.
"Terima kasih, kami duluan yah" ucap Bani untuk pamit pulang.
perlakuan Bani yang lemah lembut terhadap Syifa membuat Salwa merasa iri hati.walaupun dirinya di perlakukan sangat baik oleh Robby namun ia juga ingin di perlakukan seperti itu oleh Bani bukan Robby. Mobil yang di tumpangi Bani dan Syifa telah meninggalkan tempat parkir, sedangkan Robby dan Salwa langsung memasuki mall tersebut.
...******...
Malam hari Syifa dan Bani sudah berada di kamar mereka dan bersiap - siap untuk todur karena waktu sudah hampir larut malam.
"Hmmm boleh Abang tutup mata dulu, Syifa mau tunjukin sesuatu" titah Syifa pada suaminya.
"Apa emangnya, yang tadi di mall saja kamu belum cerita" protes Bani karena ia pemasaran tentang yang tadi di mall.
"Makanya tutup dulu habis itu aku cerita" bujuk Syifa pada Suaminya.
__ADS_1
Bani pun mengikuti perintah sang istri dengan menutup matanya, Syifa mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Sekarang buka matanya" printah Syifa. Bani membuka matanya secara perlahan, terlihat sebuah kotak di genggaman Syifa.
"Apa itu ?" tanya Bani bingung.
"Hmm ini untuk Abang" Syifa memberikan tersebut pada suaminya.
"Kamu gak lagi ngerjain abangkan ?"tanya Bani penuh kecurigaan.
"Haduhh Abang, curigaan mulu sama istrinya" protes Syifa dengan raut wajah yang kesal. "Makanya buka dulu kotaknya, dari situ baru komentar" Sambung Syifa kesal.
Bani membuka kotak tersebut dengan was. - was dan cemas, namun ia kaget ternyata di dalamnya ada sebuah kotak lagi membuat Bani bernafas lega namun tetep saja ia merasa sedang di kerjain oleh istrinya, Syifa yang melihat raut wajah suaminya yang sedang tegang dan juga kesal hanya menahan tawanya. Bani kembali membuka kotak ke dua tersebut, Hatinya lega karena di dalamnya hanya sebuah jam tangan dengan merek biasa.
"Apa ini maksudnya ?" tanya Bani bingung.
Bani tertegun mendengar ucapan Syifa, ia tidaj menyangka jika istrinya akan berpikiran sampai ke situ. Bani memeluk istrinya tak lupa beberapa lecupan mendarat di wajah Syifa seraya berbisik " Abang suka ko, Abang gak nyangka kamu ternyata sosweet juga".
Hati Syifa merasa melayang, ketika dapat pujian dari sang suaminya " tadi di mall Syifa membelinya untuk Abang" jelas Syifa.
"Abang janji akan selalu memakainya agar selalu ingat kamu" ucap Bani.
Malam ini mereka kembali memadu kasih, bertempur menanam benih cinta, pergulatan itu berakhir ketika Syifa dan Bani telah merasa lelah dan letih.
......******......
__ADS_1
Hari terus berlalu, kasus pembakaran kantornya tidak ada kemajuan, pihak ke polisian tidak menemukan barang bukti untuk menjerat para pelaku, barang bukti yang di temukan seperti jerigen dan tangga pun tak bisa di jadikan jaminan untuk menangkap pelaku, bahkan polisi tak bisa menemukan sidik jari pelaku di barang temuan tersebut, menurut polisi ini kejahatan yang terencana. Polisi hanya memberikan kewaspadaan karena menurutnya sulit untuk di ungkap siapa pelakunya.
Satu bulan telah berlalu, pihak kepolisian telah penutup atau pun menghentikan penyelidikan kasus kebakaran ini, Bani dan yang lainya hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. setelah mendatangi kantor polisi bersama Tama dan tim pengacara, Bani menuju rumahnya yang di sulap jadi kantor sementara, di sana Tio sudah menunggu.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya ?" tanya Tio setelah mendengarkan cerita kalau kepolisian telah menutup kasusnya.
"Kita akan memperbaiki kerusakan tersebut, agar kita semua bisa bekerja seperti biasanya" ucap Bani.
"Untuk keamanan kamu bisa pasang cctv di bagian luar di setiap sudutnya, contohnya di bagian belakang, untuk mengantisipasi kejadian seperti ini lagi, dan harus kalian tau pelaku belum di tangkap, kemungkinan besar mereka masih ada di lingkungan sekitar kita" ucap Tama mewanti - wanti sahabatnya agar waspada.
"Tio kamu rinci biaya perbaikan gedung" titahnya.
Mau tak mau Bani harus menggelontorkan tabungannya untuk memperbaiki kantornya, karena uang kantor mereka sudah menipis, ada beberapa karyawan yang mengundurkan diri, hingga Bani harus mengeluarkan uang pesangon belum lagi ganti rugi ke pihak klien, membuat Bani harus rela uang tabungannya ke pake.
Biaya untuk perbaikan kantor tidaklah sedikit, apalagi ada beberapa mesin yang rusak dan harus di ganti dengan yang baru, membuat Bani harus rela untuk mengosongkan tabungannya dan untungnya untuk biasa sehari - hari Bani masih bisa mengandalkan uang dari resto yang di kelola Fariz, namun untuk beberpa bulan ke depan Bani harus bisa hemat dalam menggunakan uang.
Datang ke rumah, Bani di sambut oleh istri, kedua orang tua dan juga Adiknya, mereka sudah menunggu kabar dari Bani tentang kasusnya, karena mereka tau kalau hari ini Bani di panggil pihak kepolisian. dengan sangat berat hati Bani menceritakan semuanya pada keluarganya. ada rasa khawatir dari pihak keluarga akan keselamatan Bani karena pelaku masih belum di tangkap, namun mereka yakin kalau Bani bisa untuk mengatasi semuanya. Bani juga menceritakan rencana perbaikan kantornya, namun tentu ia tak menceritakan soal biaya nya karena itu akan jadi urisannya.
"Kak jika perlu bantuan, Fariz siap bantu" ucap Fariz yang paham jika kakaknya pasti akan membutuhkan biaya yang banyak untuk itu semua.
"Makasih" ucap Bani mencoba tersenyum agar keluarga tak terlalu kepikiran dirinya.
...*****...
Sebelum tidur Syifa dan Bani selalu bercerita tentang keseharian mereka, sengaja mereka selalu melakukan itu, agar tidak ada kecurigaan di antara satu sama lain. kini waktunya Bani yang menceritakan tentang kondisinya saat ini. Bani hanya meminta pengertianya agar Syifa bersabar dalam kondisi keuangan yang sedang kacau, yang kini Bani butuhkan adalah support dari sang istri.
__ADS_1
Menurutnya ini semua hanya ujian rumah tangga, karena istri akan di uji ketika suami sedang berada di bawah, dan sedangkan suaminya akan di uji ketika dirinya sedang berada di atas.