Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 103


__ADS_3

Setelah selesai shalat magrib berjamaah kelurgan Abi Umar dan tante Erni melakukan makan malam bersama, Selesai makan Abi Umar mengajak Tante Erni dan Ummah ke taman belakang, karena ada suatu hal yang ingin Abi Umar tanyakan.


"Erni, kenapa kamu selalu mendesak Salwa untuk segera hamil, lihat Salwa secara batin tersiksa" ujar Abi Umar.


"Itu semua karena dari semuanya sudah memiliki cucu, hanya tinggal aku yang belum, kalau Lusi tidak mungkin karena dia tidak punya anak" jelas tante Erni.


"Tapi apakah kamu tau perbuatan kamu itu telah merusak mental Salwa, Selama ini saya diam karena dari awal saya tak ingin ikut campur dengan urusan keluarga kalian, tapi melihat sikap kamu terhadap Salwa membuat saya merasa malu mempunyai adik seperti kamu" jelas pak Umar mengeluarkan semua unek - uneknya.


"Apa yang di katakan suami saya emang benar, secara tidak langsung kamu telah melukai hati Salwa. bagaimana jika anak kamu sendiri yang di posisi Salwa" ujar Umi.


"Kamu mendoakan anak perempuan saya seperti Salwa ?" bentak mamah Erni.


"Bukan mendoakan, tapi coba kamu bayangin jika itu terjadi dengan anak mu sendiri, bagaimana perasaan kamu sebagai ibu" jelas Ummah.


"Sama saja kalian secara tidak langsung telah mendoakan anak bungsu saya seperti itu, Iya kalian bisa bicara seperti ini karena kalian tidak merasakan ada di posisi saya, dengan Robby melakukan nikah secara mendadak membuat keluarga dan teman - teman saya berpikiran kalau Salwa hamil di luar nikah.setelah terbukti Salwa tidak hamil di luar nikah, sekarang mereka menganggap Salwa mandul dan itu semua katanya karma" jelas mamah Erni dengan raut wajah yang sedih.


"Lebih baik sekarang kamu minta maaf pada Salwa dan jangan pernah mendesak dia lagi untuk segera hamil" ucap tegas Abi Umar.


Akhirnya mamah Erni menuruti semua perintah Abi Umar dengan keterpaksaan karena tak ingin kena omel Abi dan Ummah. setelah saling maaf - maafkan keluarga mamah Erni pamit pulang termasuk Robby dan Salwa.


Abi Umar, Ummah dan yang lainnya masih berkumpul di ruang keluarga. "Oh iya sampai lupa, besok Abah dan Umi mau datang ke sini" jelas Syifa.


"Iya Abi tahu tadi kan Abi hubungi Kyai Hasan" sahut Abi Umar.


"Kasian Salwa, sepertinya dia sangat tertekan !"Seru Shela.


"Kita doakan saja, semoga Salwa bisa lebih sabar dalam menghadapi semua masalahnya" ujar Ummah.


Abian mulai bercerita tentang keinginannya pindah kerumah barunya, Apalagi rumah itu sudah selesai dari beberapa bulan yang lalu. bahkan secara diam - diam Abian sudah mengisi perlengkapan rumahnya.


"Abi dan Ummah terserah kalian saja, karena kalian sekarang sudah membina rumah tangga" jelas Abi Umar, walaupun nantinya akan merasa kesepian tapi sebagai orang tua pak Umar hanya bisa mendukung semua keputusan anaknya selagi itu baik.

__ADS_1


Selain Abian, Bani juga bercerita tentang keinginan pindah kerumah baru mereka.


"Kamu sudah beli rumah ?" tanya Ummah.


"Belinya sudah lama, sejak Syifa menerima lamaran saya, namun karena kemarin ada sedikit musibah sehingga rumah tersebut tidak langsung kami tempati, kemarin rumah itu di jadikan tempat penyimpanan barang kantor untuk sementara waktu" jelas Bani.


"Anak Abi sekarang sudah dewasa dan sudah menikah semuanya, Abi gak akan melarang apa pun tentang keinginan kalian, Abi paham pasti kalian juga butuh sebuah privasi, dan kalian juga harus belajar mandiri" jelas Abi Umar.


petuah - petuah tentang membina keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah pun terlontar dari mulut Abi Umar, nasehat demi nasehat pun terus mengalir, selain tentang istri tapi Abi Umar pun jiga membahas tentang seorang Suami.


Waktu semakin larut, mereka pun pergi ke kamar mereka masing - masing. walaupun sudah larut malam namun Syifa belum bisa memejamkan matanya. pikiranya masih terbayang tentang kejadian tadi sore di rumahnya, hinaan demi hinaan terlontar dari mulut - mulut yang tak bertanggung jawab membuat Syifa bergidik ngeri, apa yang terjadi ketika dirinya berada di posisi Salwa, apakah dirinya akan kuat seperti Salwa.


"Ayo tidur, sudah malam tidak baik untuk kesehatan kamu" ujar Bani.


"Syifa belum ngantuk, pikiran Syifa masih pada kak Salwa, dia begitu kuat, jika Syifa berada di posisi kak Salwa mungkin Syifa sudah bunuh diri saja" ujar Syifa seraya menyenderkan kepala di bahu suaminya.


"Hustt ngomongnya jangan ngelantur ke mana - mana deh" protes Bani.


"Maaf" ujar Syifa manja.


"Tiap hari ketemu masa iya rindu" protes Syifa.


"Rindu suara desahan mu" bisik Bani di telinga Syifa.


"Abang jangan mulai deh" ujar Syifa.


"Nanti pulang dari sini kita kedokter ya, abang mau tanya apa abang sudah boleh menengoknya" Seru Bani antusias.


"Abang gak malu bertanya seperti itu nanti ?" tanya Syifa tak percaya.


"Ngapain malu, dokter nya juga pasti mengerti, kan abang lelaki normal, jadi wajar lah" ujar Bani.

__ADS_1


"Iya abang gak malu, tapu Syifa yang malu abang" rengek Syifa. tak bisa di bayangkan betapa malunya dirinya saat suaminya bertanya seperti itu.


"Abang becanda sayang, tapi kalau buat persiksanya beneran gak becanda" jelas Bani.


"Ayo tidur ah sudah malam, gak baik buat kesehatan anak kita nanti sayang" ujar Bani lagi.


Syifa membaringkan tubuhnya, berada di pelukan suaminya menjadi kenyamanan tersendiri bagi Syifa, apalagi jika tidur berbantalkan dada bidang suaminya, Syifa akan langsung tertidur nyenyak dalam dekapan sang suami.


Bani merasa bersyukur karena di kehamilan pertama istrinya tak begitu banyak mengidam makanan yang aneh - aneh, Syifa hanya kadang meminta makanan dan minuman yang menurutnya menyegarkan. bahkan Syifa juga terlihat lebih segar dari wanita hamil biasanya.


...*****...


Sebelum pulang ke apartemen Robby dan Salwa di minta mamah Erni untuk mampir terlebih dahulu kerumah mamah Erni, Awalnya Robby menolak keras hingga membuat mamag Erni merasa kesal dan juga emosi. namun Salwa membujuk Suaminya agar menuruti keinginan orang tuanya agar tak di sebut anak durhaka.


Robby menolak karena ia pasti tau mamahnya akan mencaci maki istrinya atas kejadian tadi, namun Salwa berusaha berpikir positif dengan mengatakan jika mamahnya hanya rindu dengan anak dan menantunya.


Tiba di rumah mamah Erni secara beriringam dengan mobil yang di tumpangi oleh mamah Erni dan Robby. mereka sekeluarga masuk dan duduk di ruang keluarga.


"Dek kamu masuk ke kamar saja" titah Robby pada adiknya.


"Iya kak" jawab adiknya dan berlalu menuju kamarnya.


Setelah adiknya Robby pergi ke kamar, mamah Erni menampilkan wajah tak suka dan juga marahnya.


"Kalian tadi puas bikin malu keluarga kita, dan kamu Salwa bisa - bisanya kamu berkata seperti itu" ujar mamah Erni kesal.


"Mah tadi Salwa sudah menjelaskan, bahwa tante Lusi yang memulainya, mamah tau sendiri bagaimana sikap tante Lusi, harusnya mamah tak perpancing dengan hal itu" jelas Robby yang membela istrinya sedangkan Salwa menundukan kepalanya ia merasa sangat bersalah dalam hal ini.


"Nah harunya kamu bicara seperti itu pada istrimu, sudah tau sikap tante Lusi seperti itu malah terpancing" ujar mamah Erni.


"Mah Salwa baru kenal dengan tante Lusi, jadi wajar jika Salwa terpancing" bela Robby.

__ADS_1


Ibu dan anak itu terlibat adu mulu, membuat Salwa semakin tak enak hati. "Sudah - sudah, disini Salwa yang salah, harusnya Salwa lebih sabar dan juga harus bisa mengontrol emosi hingga tak terpancing, maka dari itu Salwa minta maaf telah membuat keributan dan membuat mamah malu" ujar syifa seraya menunduk, ia tak berani jika harus menatap mertuanya yang sedang di landa emosi.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2