Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 114


__ADS_3

Seluruh tulang persendian Bani dan Syifa itu serasa luluh lantah saat mendengar penjelasan dari dokter. Bibir mereka mengatup rapat, lidahnya kelu, beberapa saat tak dapat mengucap apa pun. ibarat tersambar petir di siang hari tanpa hujan, tak punya antisipasi. pertahanannya roboh, mereka tumbang dengan kenyataan yang menggorekan luka di hati.


Air mata Syifa tak lagi mengalir, bukan karena ia tegar dan ikhlas atas semua musibah ini, namun ia terlalu syok untuk menerima semua kenyataan yang menyayat hati. Bani mengahampiri istrinya yang berbaring di ranjang rumah sakit untuk sama - sama saling menguatkan.


"Dok lakukan yang terbaik untuk istri saya" ujar Bani lirih, seluruh tubuhnya dingin bahkan kakinya serasa tak berpijak.


"Jika bapak setuju silahkan kebagian pendaftaran, untuk mendafarkan istri anda menjalani kuretasi" ujar dokter.


"Dok jika istri saya menjalani kuretasi apa kemungkinan ia bisa hamil lagi ?" tanya Bani.


"Kuretasi ini tujuannya hanya untuk membersihkan rahim, jadi bapak tidak usah khawatir istri anda akan tetap bisa hamil lagi nanti" jelas dokter seraya tersenyum.


Ternyata di ruangan bagaian kuretasi banyak juga orang - orang yang akan menjalankan kuretasi, membuat Syifa sadar ternyata bukan hanya dirinya saja yang akan menjalankan hal seperti ini, ternyata banyak orang - orang yang bernasib sama seperti dirinya namun dengan kasus yang berbeda - beda.


Syifa memasuki ruangan dengan bantuan para perawat, sedangkan Bani di perintahkan menunggu di luar. saat melihat jam sudah pukul setengah sebelas dan ia baru sadar telah melupakan sesuatu. dia mengambil ponselnya dari saku celananya, betapa banyak panggilan yang tak terjawab, salah satunya dari Umi. ia pun segera menghubungi orang tuanya.


"Bani kamu ke mana saja, kenapa Umi telepon gak di jawab, Kamu di mana nak ?" Umi menodongkan berbagai pertanyaan saat tau anaknya menghubunginya.


"Bani di rumah sakit Z, kandungan Syifa tak bisa di selamatkan, Syifa mengalami kehamilan kosong" jelas Bani dengan suara lirih.


"Umi segera kesana" ujar Umi langsung menutup panggilannya.


Setelah menghubungi keluarganya Bani langsung menghubungi keluarga Syifa, mereka pun sepakat akan datang ke rumah sakit Z, walaupun sebenarnya mereka juga sedang di rumah sakit karena Shela sudah mengalami pecah ketuban. dan untung saja keluarga Shela sudah stay di sana jadi tak membuat Ummah khawatir saat meninggalkan Shela.


kepanikan juga terjadi di resto Fariz, mereka kaget saat melihat Umi duduk dengan lemas saat setelah menerima panggilan dari Bani.

__ADS_1


"Ada apa Umi ?" tanya Abah melihat Umi dalam keadaan lemah.


"Syifa mengalami kehamilan kosong, mereka sedang di rumah sakit Z untuk menjalani kuretasi" Jelas Umi dengan terisak.


Fariz segera memberitahu Zidan bahwa dia harus pergi.Akhirnya Fariz berserta Abah dan Umi menuju rumah sakit Z. Bahkan Rara dan Tama pun ikut menyusul dengan kendaraan mereka.


Semua keluarga datang ke rumah sakit, bahkan Syifa juga sudah di pindahkan keruang perawatan. karena kondisi Syifa yang lemah akibat syok hingga akhirnya membuat Syifa harus mendapat penanganan serius, namun Syifa masih dalam keadaan tak sadarkan diri efek dari obat bius.


Bani menjelaskan pada semua keluarga, alasan Syifa harus menjalani semua ini, bahkan Bani menceritakan bahwa rumah sakit Z adalah rumah sakit ke tiga yang mereka datangi.


Semua keluarga memberi semangat dan kekuatan pada Bani, mereka paham dengan kondisi Bani saat ini, bahkan mereka tak ada yang berani menyinggung masalah kehamilan Syifa, semua itu demi menjaga perasaan Syifa dan Bani.


Perlahan Syifa membukakan matanya. matanya memonitor seluruh ruang perawatan, dan di lihat semua keluarganya pun berkumpul di sana. Dimana ia berada dan apa yang sudah terjadi. itu sebuah pertanyaan yang muncul saat Syifa membukakan matanya.


Anggota keluarga saling pandang memandang, tak ada yang berani memulai pembicaraan. membuat Syifa bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya itulah sebuah pertanyaan yang terlintas di pikiran Syifa. "Kenapa Syifa ada di sini ?" tanya Syifa dengan suara lirihnya.


"Anak Syifa Ummah" ucap Syifa lirih.


"Semuanya akan baik - baik saja" ucap Ummah lagi.


Bani mendekat ke arah istrinya, menggenggam tangan sang istri untuk memberikan sebuah kekuatan.


"Maaf, Syifa telah gagal menjaga anak kita" ucap Syifa lirih.


"Tak ada yang perlu di salah, ini semua kehendak Allah" ucap Bani, ia tak ingin istrinya berlarut dalam kesedihan. "Jangan berpikir yang aneh - aneh, lebih baik kita fokus agar kamu cepat pulih" sambung Bani.

__ADS_1


Syifa tak perlu rawat inap, ia sudah di perbolehkan pulang nanti jika cairan infusnya sudah habis. Karena ada kegiatan, Umi dan Abah harus pamit pulang terlebih dahulu, Umi dan Abah pulang di antar Fariz. Sifat Fariz yang dingin terhadap Rara membuat Tama keheranan. selain Umi dan Abah, Tama dan Rara juga izin pamit pulang.


"Ummah, Abi, titip Syifa, Bani akan menyelesaikan administrasi dan kepulangan Syifa, agar nanti tinggal pulang" ujar Bani.


"Iya nak Bank" jawab Umi.


...******...


Di sebuah ruangan icu seorang anak remaja sedang berjuang antara hidup dan matinya. sejak malam Ayla masih dalam keadaan koma, bahkan dokter tak mengizinkan selain perawat dan dokter untuk masuk ke dalam ruang perawatan Ayla. Sedangkan Aisha masih setia menunggu adiknya, rasa lapar dan ngantuk sudah tak di rasa lagi, yang ia harapkan adalah kesembuhan sang adik. sedangkan bayu sejak pagi izin pulang karena takut ketahuan keluarganya.


"Kenapa semua ini terjadi pada ku, kembalikan lah adikku, aku tak ingin hidup sebatang kara" gumam Aisha.


Aisha pergi ke mushola untuk melaksankan shalat ashar, di mushola rumah sakit ia mengadukan semua keluh kesahnya dalam balutan sebuah doa. tangisnya kembali pecah saat teringat sang adik yang terbaring lemah dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnnya.


"Ya allah kenapa harus adikku yang mengalami seperti ini, kenapa tidak aku saja, aku sudah lelah hidup di dunia, bahkan tak ada satu pun orang yang menyayangi ku di dunia ini, mereka mengganggap ku sebagai sampah dan juga benalu".


"Kenapa dunia ini tak pernah sekalipun berpihak pada ku, apa salah ku, aku juga manusia yang menginginkan sebuah kebahagiaan, ingin merasakan sebuah kasih sayang dari orang terkasih, kenapa kau malah memberiku sebuah kemalangan ?, apa aku tak pantas untuk bahagia dan juga merasakan artinya cinta dan kasih sayang".


Perut yang tak pernah terisi sejak kemaren siang membuat Aisha merasakan sakit di bagian perutnya yang luar biasa, hingga ia memutukan pergi kekantin rumah sakit untuk hanya sekedar mengisi perutnya, Aisha segera menghabiskan makanannya agar bisa cepat kembali ke ruang tunggu.


Di saat Aisha akan kembali, ia melihat sosok seseorang yang sangat di kenalnya. "Kamu sedang apa di sini ?" tegurnya pada seseorang.


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...


Mohon di maklum kalau ada salah kata dalam menceritakan tentang kehamilan kosong atau Bo dan juga penangannyaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Buat para reader mohon maaf jika cerita ini tak sesuai ke inginan kalian, Author hanya ingin membuat cerita ini senatural mungkin, ya memang author sengaja membuat alur masalah bertubi - tubi di awal cerita hanya untuk memperkuat cinta mereka yang tanpa adanya pacaran, karena dalam mempertahankan sebuah rumah tangga tidak cukup hanya modal cinta doang, semua butuh perjuangan dari keduanya.


__ADS_2