
Salwa di pindahkan ke ruangan perawatan. Robby sengaja memesan kamar vip untuk kenyamanan sang istri dan juga anak - anaknya.
Mamah Erni dan keluarga Salwa memasuki ruang perawatan Salwa. dengan derai air mata mamah Erni memberikan ucapan selamat atas kelahiran ketiga cucunya.
"Selamat Salwa, anak kalian sudah lahir" ujar Mamah Erni.
"Terima kasih mah".
Mamah Erni menggendong cucu yang perempuan, ibunya Salwa mengendong anak salwa yang pertama, sedangkan Ayah Salwa menggendong bayi yang lahir ke dua. mereka menimang cucu mereka tanpa harus berebutan.
"Mukanya mirip Robby semua" ujar Ayah Salwa.
"Iya, Salwa gak kebagian" sahut Ibunya Salwa.
"Kita gak perlu rebutan buat menggendongnya, kita sudah mendapat bagian masing - masing" ujar mamah Erni.
"Alhamdulilah, ini sebuah anugrah" sahut Ayah Salwa.
Tak berapa lama Abi Umar dan Umi pun datang. "Selamat ya nak atas kelahirannya, maaf Ummah dan Abi baru datang" ucap Ummah.
"Terima kasih Ummah, tidak apa - apa Ummah".
Kini ummah mengambil alih anak Salwa dari gendongan ayahnya Salwa. Ummah menimangnya dengan kasih sayang.
"Erni selamat cucu kamu langsung tiga sekaligus" ujar Ummah.
"Iya Fatimah, aku seneng banget, tapi sayang aku masih duduk di kursi roda".
"Kamu harus semangat untuk sembuh" ujar ummah menyemangati mamah Erni.
"Penantian kamu tidak sia - sia nak, allah langsung memberikan tiga sekaligus".
ujar Abi Umar pada Robby.
"iya Abi, Robby sangat bersyukur dengan anugrah yang indah ini. Robby juga merasa bahagia karena sekarang mamah sudah mau menerima Salwa, ini sebuah kebahagiaan yang bertubi - tubi" ujar Robby.
"Ini semua buah dari kesabaran kalian" ujar Abi Umar.
Menjelang siang, satu persatu keluarga dari kedua pihak silih bergantian datang untuk menjenguk, selain keluarga ada juga beberapa rekan kerja dari Robby yang datang.
Mamah Erni tak bisa jauh dari ketiga cucunya, ia terus berada di samping box ketiga cucunya.
__ADS_1
Salwa meminta mamah Erni untuk pulang, karena Salwa mengkhawatirkan kondisi sang mertua jika ia kelelahan dan tidak bisa istirahat dengan baik. namun mamah Erni menolak, ia tak ingin berjauhan dari ke tiga cucunya.
Sementara Syifa baru saja menerima kabar jika Salwa telah melahirkan tadi pagi.
"Abang, Salwa udah lahiran tadi pagi, kapan kita menjenguknya ?" tanya Syifa.
"Gimana kalau nanti sore saja, sekalian menginap di rumah Ummah dan Abi, besok abang ada meeting penting bareng Kak Abian" ujar Bani.
"Beneran nginap sayang ?" tanya Syifa.
"Iya sayang beneran sayang" sahut Bani.
Setelah ba'da Ashar Syifa dan Bani berangkat untuk menjenguk Salwa, perjalanan mereka sedikit terhambat karena jalanan yang padat merayap karena bersamaan dengan jam pulang kerja.
"Hufffhh macet lagi, macet lagi" gerutu Syifa saat mobil yang di tumpanginya harus berhenti karena macet.
"Sabar sayang" ujar Bani.
Sebelum ke rumah sakit, Syifa terlebih dahulu ke sebuah Mall untuk mencari kado untuk ketiga anak Salwa.
Sampai di rumah sakit Syifa dan Bani langsung menuju keruangan tempat di rawat. saat mereka melewati ruangan bayi, Syifa berhenti sebentar dan melihat bayi - bayi yang sedang tertidur pulas di boxnya masing - masing.
"Ya enggak sayang, mereka sudah di kasih identitas masing - masing" sahut Bani. "Ayo jalan lagi" sambung Bani.
Syifa mengetuk pelan pintu ruangan Salwa, dan Robby yang membukaan pintu tersebut.
"Asalamulaikum" ujar Bani dan Syifa.
"Walaikumsalam, Ayoa masuk" ucap Robby.
"Eh ada Syifa dan Bani !" seru mamah Erni.
"Iya tante, selamat ya tante atas kelahiran ke tiga cucunya" ujar Syifa.
"Iya makasih, tante masih nunggu cucu dari kamu".
"Doain ya tente, supaya nanti lahirannya lancar".
"Iya tante doain".
Syifa kini mendekat ke arah Salwa. "Selamat ya kak Salwa" ucap Syifa seraya menyerahkan sebuah bingkisan sebagai kado untuk ketiga anak Salwa.
__ADS_1
"Terima kasih Syifa" ucap Salwa. "Kamu kapan lahirannya ?" tanya Salwa.
"Ya perkiraan dokter dua puluh harian lagi, tapi gak tau kan itu hanya prediksi saja, kadang meleset dan kadang juga tepat. jujur aku ingin melahirkan normal, tapi menurut dokter hamil kembar lahiran normal itu beresiko".
"Semoga nanti lahirannya lancar ya, debay nya sehat dan calon ibunya juga sehat. Sama aku juga ingin normal, namun dokter bilang resikonya tinggi, tapi yang yang terpenting keselamatan bayi kita. urusan normal atau caesar jangan jadikan alasan".
"Bener kata kak Salwa, kita tak boleh mementingkan ego kita yang ingin melahirkan normal hingga kita mengabaikan keselamatan buah hati kita".
"Semangat yah".
Syifa memperhatikan satu persatu anak Salwa dan Robby. ah rasanya Syifa juga ingin segera melahirkan agar bisa mendengar suara tangis kedua buah hatinya dan juga bisa memeluknya dalam dekapannya, yang akan menghapus semua rasa sakit saat melahirkan nanti. tak terasa Syifa sampai menitikan air mata saat ia dapat menggenggap jari - jemari anak Salwa.
Tak terasa Syifa sudah hampir satu jam nerada di sana. dan kini Syifa pun pamit pulang karena sebentar lagi sudah mau memasuki adzan magrib.
"Aku pulang dulu ya". ujar Syifa.
"Gak mampir ke rumah Abi dan Ummah ?"tanya Robby.
"Kita pulang kerumah Abi dan Ummah, insya allah kami akan menginap di sana" jawab Bani.
"Ohh seperti itu, hati - hati ya di jalannya".
Syifa dan Bani pun berlalu meninggalkan rumah sakit, tapi kini perasaan Syifa sedang campur aduk antara senang dan takut. senang karena sebentar lagi akan melahirkan dan takut bagaimana jika dirinya gagal dalam berjuang melahirkan ke dua anaknya. entah dari mana pikiran itu datang yang pasti perasaan takut tersebut menghantui pikiran Syifa.
"Kamu kenapa kok diem saja sejak keluar dari ruangan Salwa ?" tanya Bani, iya merasa aneh dengan sikap sang istri yang seperti itu.
"Abang, Syifa kok takut ya".
"Takut kenapa ?".
"Syifa takut kalau Syifa nanti gagal dalam berjuang melahirkan buah hati kita".
"Astaghfirullah, kamu gak boleh berbicara seperti itu, jangan pernah mendahului rencana Allah" Bani tak menyangka jika istrinya membunyai pikiran sampai sana. selain Syifa Bani juga di landa rasa was - was menjelang persalinan Syifa, namun ia berusaha tenang, agar semuanya bisa baik - baik saja.
"Maaf jika salah bicara" ujar Syifa seraya tertunduk.
"Mulai sekarang jangan pernah perpikiran yang buruk - buruk, tapi pikirkanlah yang baik - baiknya saja. pikiran buruk hanya akan membuat mental kita down".
"Maaf". ucap Syifa lirih.
mereka tiba di rumah Abi Umar dan ummah tepat pas adzan magrib berkumandang.syifa dan Bani pun langsung ikut shalat berjamaah bersama yang lainnya karena ke betulan malam itu, Abian, Shela dan dua anak mereka juga akan menginap di rumah Abi dan Ummah.
__ADS_1