
Sore hari Syifa sudah rapih, siap untuk menyambut kedatangan sang suami pulang, Syifa menunggunya di ruang televisi seraya menonton siaran televisi, perutnya semakin membuncit, bahkan kini Syifa sudah bisa merasakan gerakan - gerakan halus dari calon buah hatinya.
"Asalamualaikum" ucap Bani saat memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam Abi" ujar Syifa seraya tersenyum.
"Hai anak Abi" setelah mencium kening sang istri kini Bani mengelus perut sang istri dan langsung mendapat tendangan dari dalam perut.
"Wah anak Abi lagi maen bola ya di dalam" Bani kembali mengelus perut istrinya dan kembali merasakan tendangan dari dalam perut sang istri "Nendang nya jangan kenceng - kenceng ya kasian Ummah" sambung Bani.
"Udah sana mandi dulu" titah Syifa pada Bani.
Bani bergegas menuju kamarnya dan di ikuti oleh Syifa yang membawa tas dan juga jas milik suaminya.
Menunggu adzan Magrib Syifa dan Bani duduk santai di ruang televisi. Syifa sedang bersandar di bahu sang suami.
"Aisha sudah bebas" ujar Bani memberi tahu.
"Alhamdulilah, aku ingin sekali bertemu dengannya".
" Tapi kini keberadaan Aisha menghilang entah di mana, bahkan Bayu saja tidak tahu keberadaanya".
"Apa dia kembali pada suaminya" tebak Syifa.
"Tapi menurut info dari Tama ia sudah bercerai dari suaminya".
"Mungkin mereka rujuk kembali, tapi Aisha tidak mau orang lain mengetahui hal itu".
"Bisa jadi sih".
Malam hari seperti biasa, Bani akan bersenandung melantunkan shalawat untuk calon buah hatinya, sedangkan sang istri menikmati lantunan merdu dari sang suami.
"Sayang, aku duluan ke bawah untuk menyiapkan makan malam" ujar Syifa sambil merapihkan alat shalatnya.
Walaupun sudah ada Bi Tuti Syifa selalu tetap membantu. walaupun kini gerak tubuhnya terbatas karena perutnya semakin membuncit seiring bertambahnya usia kehamilan Syifa.
Bahkan untuk berjalan jauh saja kini Syifa sudah ngos - ngosan tidak kuat, hingga membuat Bani membeli kursi roda khusus ibu hamil, untuk memudahkan saat mereka berpergian.
Syifa menyendokan nasi dan lauk pauk untuk suaminya terlebih dahulu, dan setelah itu barulah Syifa menyendok makanan untuk dirinya. tak ada obrolan, hanya ada suara sendok dan garpu yang saling beradu.
__ADS_1
Usai makan malam, Bani meminta Syifa membuatkan secangkir Kopi dan Syifa pun membuatkannya lalu mengantarkannya ke ruang kerja suaminya.
Bani sedang menatap layar komputer dengan serius, hingga tak menyadari ke datangan Syifa.
"Abang, kopinya" ujar Syifa, namun tak ada balasan dari sang suami. Syifa pun mendekat ke arah suaminya mencari tahu kenapa suaminya begitu fokus menatap layar komputer.
"Sayang kamu liatin apa sih, kenapa fokus sekali menatapnya ?" tanya Syifa namun tak menjawabnya. "Abang ?!"Kini Syifa menggoyangkan tubuh suaminya.
"Astaghfirullah, Sayang" Bani pun terkejut dengan kehadiran Syifa.
"Kamu kenapa sih ?" tanya Syifa penasaran.
"Abang cuma lihat rekaman cctv depan, tapi kp ada yang aneh ya".
"Aneh kenapa ?".
"di samping tembok sini tadi ada seseorang yang seperti sedang memperhatikan rumah kita". Bani menunjukan rekaman tersebut. "Coba kamu lihat" titah Bani.
"Ah itu mah mungkin hanya orang lewat" Syifa mencoba berpikir yang positif.
"Abang sempet mikir begitu, tapi Abang ngulang rekaman kemaren orang itu juga berdiri di situ" ujar Bani menjelaskan dan kembali memutar rekaman cctv hari kemaren.
"Iya, bener kamu. tunggu Abang mau bertemu pak yanto dulu".
"Syifa ikut".
"Ya sudah kamu tunggu di ruang tamu nanti kita ngobrol di sana".
Bani memanggil pak Yanto dan mengajaknya untuk berbicara di dalam rumah. sampai di ruang tamu Bani langsung menanyakan yang di lihatnya di rekaman cctv.
"Sudah dua hari orang itu selalu berlalu lalang di sekitar sini pak, setiap saya ingin menegurnya ia selalu langsung pergi, tapi dia tidak menggunakan motor, ia berjalan kaki". jelas pak Yanto.
"Apa ia komplotan orang jahat ?" tanya Bani.
"Kalau saya curiganya malah seperti orang yang kurang pak, kalau komplotan orang jahat pasti mereka menggunakan motor, bahkan akan melindungi mukanya agar tidak di kenali" ujar pak Yanto.
"Yang di katakan pak Yanto ada benernya juga sayang, mungkin ia orang yang kurang" timpal Syifa.
Walaupun Bani masih ragu, namun ia mencoba berpikir yang positif saja. Kemudian memerintahkan pak Yanto agar jika ada orang asing datang bertemu untuk menghubungi dirinya terlebih dahulu sebelum membukakan pagar. itu Bani lakukan untuk melindungi sang istri dari mara bahaya.
__ADS_1
keesokan harinya Bani tidak berangkat ke kantor, karena hari ini adalah jadwal Syifa untuk kontrol kehamilan Syifa. usia kandungan Syifa sudah hampir memasuki enam bulan dan tinggal nunggu tiga bulan lagi bayi kembar mereka akan lahir.
Syifa dan Bani mengante menunggu giliran, setelah menunggu hampir tiga puluh menit kini giliran dirinya yang memasuki ruangan dokter.
"Silahkan duduk pak Bani dan Ibu Syifa". sahut dokter tersebut.
Di sana Syifa menjelaskan keluhan yang kini sering di rasakannya setelah itu baru ia di perintahkan untuk berbaring di bangsal rumah sakit.
"Janinnya sehat dan aktif sekali" jelas Dokter tersebut.
"Dok apa jenis kelaminnya sudah bisa di ketahui ?" tanya Bani.
"Bentar ya pak" ujar dokter tersebut ramah.
Dokter kembali fokus pada layar monitor di depannya. memperhatikan jenis kelaminnya satu persatu.
"Sepertinya satu cewek dan satu cowok, ini hanya prediski saja, kadang tepat dan kadang juga meleset, lihat saja posisi janinnya mereka sama - sama menutupi kelaminnya seperti malu - malu" terang sang dokter. Bani dam Syifa kompak menganggu tanda bahwa mereka mengerti dengan penjelasan dokter.
Bani langsung mengantar Syifa kembali pulang, karena ia juga haru segera berangkat ke kantornya.
"Sayang, Syifa gak mau pulang" rengek Syifa.
"Lalu mau ke mana dulu ?" tanya Bani, ia telah menduga jika istrinya ingin pergi ke tempat belanja untuk melihat - lihat koleksi perlengkapan Bayi.
"Mau ikut Abang ke kantor" ujar Syifa.
"Untuk apa ?" tanya Bani bingung, karena jarang - jarang mau datang ke kantornya.
"Mau lihat abang kerjalah, boleh ya abang" Syifa memohon agar di izinkan ikut ke kantornya.
"Iya boleh sayang" ujar Bani seraya melirik sang istri lalu tersenyum manis ke arahnya.
Tiba di kantor, Bani langsung menggandeng istrinya menuju keruangannya.banyak pasang mata yang memeprhatikan Bani dan Syifa tak lupa mereka memberikan rasa hormat pada atasnya.
"Wah ada Syifa nih, tumben ngikut ?" tanya Tio yang berpapasan di depan ruangan Bani.
"Lagi pengen ikut saja" sahut Syifa ramah.
Syifa masuk keruangan kerja Suaminya, ia duduk di Sofa yang ada di ruang tersebut. karena badannya terasa lelah tanpa sadar Syifa pun terlelap tidur di Sofa.
__ADS_1
Melihat istrinya tertidur pulas ada rasa tidak tega namun apalah daya, jika tidak di turuti kemauan istrinya bisa - bisa Syifa terus merengek seperti anak kecil yang minta jajan es krim.