Bertemu Jodoh Di Pesantren

Bertemu Jodoh Di Pesantren
Bab 89


__ADS_3

Keadaan Rumah semakin ramai dengan keberadaan anak dari Zahwa. Syifa merasa sedikit terhibur dengan keberadaan mereka.


Kebahagiaan bukan selalu tentang soal harta yang berlimpah, tapi kebahagiaan juga bisa tentang kesehatan, kerukunan dalam keluarga dan juga sebagainya.


Setelah Selesai Shalat tarawih keluarga Kyai Hasan berkumpul di ruang keluarga, menikmati kebersamaan yang kini jarang terjadi karena punya kesibukan masing - masing.


"Bani bagaimana dengan kantor mu ?"tanya Tommy.


"Alhamdulilah mas sudah kembali normal" jelas Bani.


"Pelakunya bagaimana ?" tanya Tommy lagi.


"Soal itu Bani tak ingin membahasnya lagi, Bani anggap semua ini sebagai musibah" jelas Bani.


Bani sudah mewanti - wanti kepada keluarganya agar tidak membahas masalah tentang kebakaran kantornya lagi, menurutnya pelaku sudah mendapatkan yang setimpal tanpa harus dirinya repot - repot membuat laporan ke pihak yang berwajib.


"Semoga usaha kamu semakin lancar ya" doa Tommy dan langsung di aminin oleh semuanya.


Selesai sahur Bani dan Syifa menunggu adzan subuh dengan membaca al_quran secara bersama - sama, Walaupun bacaan Syifa belum sempurna namun selalu ada suaminya yang setia mengajarkannya. selain mengaji Syifa juga sering bertanya tentang keagamaan yang lainya, hal itu membuat Bani senang karena istrinya tak malu untuk bertanya yang artinya selalu ada kemauan dalam diri istrinya untuk belajar.


Hari sabtu memang hari libur bagi sebagian para pekerja, sana halnya seperti Bani dan Tommy, mereka berdua dapat bersantai - santai karena mereka libur bekerja, tapi beda halnya dengan Fariz yang memiliki usaha dalam bidang makanan atau kuliner, yang harus berkerja setiap hari, kecuali kalau dirinya meliburkan diri, tapi untuk para karyawannya mereka akan pendapat jatah libur satu hari secara bergantian.


"Om mau ke ana ?" tanya Zayn dengan suara khas anak - anak.


"Om mau berangkat kerja sayang" ucap Fariz sambil memposisikan dirinya agar sejajar dengan keponakannya itu.


"Icut ya om" rengek Zayn.


"Hmm, gak boleh sayang, kan om mau kerja" jelas Fariz. namun Zayn belum mengerti tentang arti kerja yang sebenarnya. Mata Zayn berkaca - kaca, mukanya sudah memerah.


"Icut om" rengek Zayn dengan air mata yang sudah bercucuran.


"Hmm, kan sekarang om kerja dulu, nah nanti sore om janji bakal ajak Zayn untuk ngabuburut, Zayn mau kan". Rayu Fariz agar ponakannya tak menangis lagi.


"Fariz, Zayn kenapa nangis ?" tanya Zahwa saat melihat anak bungsunya nangis dalam gendongan sang paman.


"Icut om" rengek Zayn.


Zahwa mengambil Zayn dari gendongan Fariz.


"Om nya mau kerja dulu, gimana kalau kita jalan - jalanya bareng papa" Rayu Zahwa.

__ADS_1


"Mau mau mau mau" ujar Zayn kegirangan.


"Fariz berangkat sana, Zayn sudah aman" ujar Zahwa.


Akhirnya Fariz berangkat ke restonya, sampai di sana Zidan sudah menunggu keadatanganya.


"Kenapa wajah mu panik seperti itu ?" tanya Fariz.


"Dua Karyawan yang bertugas membagikan takjil hari ini mereka izin gak masuk karena sakit, lalu siapa yang akan menggantikannya" jelas Zidan.


"Kenapa kamu gak nyari gantinya saja" ujar Fariz.


"Sudah tapi semuanya gak bisa mereka semua sudah punya kegiatan masing - masing" jelas Zidan lagi.


"Ya sudah kalau gitu, yang bagi - bagi takjil untuk hari ini aku dan kamu saja" ucap Fariz.


"Apa kamu yakin ?" tanya Zidan.


"Yakinlah, sekali - kali mah gak papa kali, dan aku tidak menerima penolakan dari kamu" ucap Fariz dan berlalu meninggalkan Zidan.


Fariz kini menuju kebagian dapur untuk mengecek bahan masakan hari ini. Fariz setiap hari selalu melakukan itu untuk menjaga kualitas bahan baku yang di gunakan benar - benar yang paling baik.


"Ada apa kamu menghubungiku ?" tanya Fariz.


"Aku mau mengajak kamu nanti sore kita ngabuburit bareng yuk, sekalian buka ouasa bareng, selama bulan puasa kita gak pernah loh ngebuburit bareng ataupun buka puasa bersama" ujar Rara.


"Tapi maaf kalau hari ini aku gak bisa, bagaimana kalau besok" ujar Fariz.


"Apa kamu sudah punya janji ?" tanya Rara.


"Tidak, tapi hari ini aku harus membagikan takjil di pinggir jalan, untuk menggantikan pegawaiku yang sakit" jelas Fariz.


"Kaya seru ya bagi - bagi takjil, apa aku boleh ikut gabung ?" tanya Rara.


"Jika tidak keberatan boleh - boleh saja, aku akan merasa senang jika ada yang membantu" ujar Fariz.


"Baiklah, nanti sore aku akan membantu mu, tapi tempatnya di mana ?" tanya Rara.


"Di depan restoku, datang saja ke resto ku" jelas Fariz.


"Baiklah" ujar Rara senang, lalu ia mengakhiri panggilannya. dan Fariz pun melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


...*****...


Setelah shalat dzuhur Syifa dan Bani sudah siap untuk berangkat ke rumah Abi dan Ummah. tak banyak barang yang mereka bawa karena mereka hanya akan menginap hanya satu malam saja. Syifa dan Bani tak membawa baju ganti karena di rumah Abi Umar juga sudah ada beberapa potong pakaian Syifa dan Bani yang sengaja mereka tinggal, agar jika mereka berkunjung ke sana tak perlu repot - repot bawa baju ganti.


"Kalian mau ke mana, ko sudah rapih" tegur Zahwa.


"Kami mau menginap ke rumah Abi dan Ummah, kalau gitu kami berangkat dulu ya" ujar Syifa seraya pamit pada anggota rumah.


Cuaca siang ini begitu terik, sangat menggoda iman setiap muslim yang sedang melaksankan ibadah puasa.


"Kayanya enak panas begini makan rujak, seger bang" ujar Syifa sambil membayangkan betapa nikmatnya makan rujak di cuaca yang sangat terik. membuat Syifa menelan ludahnya membayangkan kenikmatan tersebut.


"Nyari rujak dimana, inikan bulan puasa, mana ada yang jualan" sahut Bani.


"Tapi Syifa pengen" rengek Syifa.


"Gimana kalau kita beli bahanya saja, nanti untuk bumbunya buat sendiri" usul Bani, karena menurutnya tak mungkin bisa menemukan tukang rujak di siang bolong ketika bulan suci ramadhan.


"Ya sudah terserah abang saja" ucap Syifa.


Bani kembali fokus dalam mengendarai mobilnya sambil sesekali matanya menatao kearah kiri kanan mencari tukang buah - buahan yang menjual bahan baku untuk membuat rujak. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya Bani menemukan penjual yang menjula berbagai buah - buahan segar dan juga bahan baku untuk membuat rujak, Bani pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


"Ayo turun, sekalian beli buah - buahan sebagai buah tangan, masa datang dengan tangan yang kosong" ujar Bani.


Akhirnya Syifa dan Bani pun turun dari mobil, dan memilih - milih buah - buahan yang akan jadi buah tanganya. Syifa memilih buah melon, apel, anggur dan juga timun suri sebagai buah tangan karena menurutnya itu sangat cocok dan bisa di jadikan sop buah juga, dan untuk bahan baku rujak Syifa memilih mangga muda, jambu air dan juga bengkuang, setelag selsai Bani pun membayar belanjaannya.


Saat Bani akan memasukan buah - buah ke dalam mobil tiba - tiba ada seseorang wanita abg yang menanggil namanya.


"Kak Bani".


Bani menoleh kearah sumber suara. "Kak ayo ikut aku, aku akan tunjukan sesuatu pada kak Bani" pinta wanita Abg itu sambil menarik tangan Bani.


Melihat tangan suaminya ada yang menarik - narik Syifa pun langsung menghampiri suaminya. "Ade ini siapa, kenapa menarik tangan suami kakak" tegur Syifa lembut, tak mungkin Syifa membentak anak yang baru beranjak remaja, beda lagi jika yang menarik tangannya seorang wanita yang sudah dewasa mungkin Syifa sudah memasang tanduknya.


"Kak Bani kenal dengan kakak ini ?" tanya wanita abg itu sambil menunjuk ke arah Syifa.


"Iya, beliau ada istriku" jawab Bani.


seketika anak itu langsung melepaskan tangan Bani, tubuhnya merasa lemas perjuangannya terasa sia - sia.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2