
"Bang bangun shalat dzuhur dulu" Syifa membangunkan suaminya yang tengah tertidur.
"Hmmm" Bani menggerakan tubuhnya mencoba membuka matanya yang terasa lengket.
"Udah adzan dzuhur, Shalat dulu nanti tidur lagi" ucap Syifa lembut.
"Kamu udah Shalat ?" tanya Bani.
"Belumlah kan nungguin abang" ucap Syifa.
Bani pun segera ke kamar mandi membersihkan dirinya lalu melaksanakan shalat berjamaah bersama istrinya tercinta.
"Menurut kamu, Abang harus lapor apa jangan ?" tanya Bani meminta pendapat pada istrinya.
"Apapun keputusan abang, Syifa dukung ko, pasti Abang sudah memikirkan baik buruknya" ucap Syifa.
"Abang bimbang, Abang kasian dengan anak istri mereka" ucap Bani dengan raut wajah yang iba.
"Kita tunggu keputusan pengadilan, hukuman apa yang mereka dapatkan dari kasus pertamanya" ucap Syifa memberi ketenangan untuk istrinya.
Syifa dan Bani menghabiskan waktu siang hari dengan duduk di taman belakang rumah, Bani sudah menghubungi Tama untuk datang ke rumahnya untuk membahas kasus pembakaran kantornya.
...*****...
Pengunjung Resto setiap harinya bertambah kadang juga ada beberapa dari pengunjung harus menunggu meja yang kosong untuk bisa makan di resto tersebut.
"Pengunjung semakin banyak dari berbagai daerah, bagaimana kalau kita buka cabang " usul Zidan.
"Ide kamu bagus juga, Kamu cari lokasi yang cocok buat cabang baru, nanti aku akan bicarakan ini dengan kak Bani" ujar Fariz dengan penuh semangat.
Fariz mencoba keliling restonya memperhatikan setiap pemgunjung yang datang dan pergi, "Terima kasih ya allah, kau mudahkan jalan usaha ku" doa Fariz dalam hatinya. Fariz kini berdiri dekat pintu utama memperhatikan setia pengunjung yang hilir mudik. Fariz pun melemparkan senyuman termanisnya saat menyambut pengunjung yang datang dan mengucapkan terimakasih pada pengunjung yang baru keluar.
"Haii" suara seseorang menyampa Fariz.
"Hai Juga" sahut Fariz ramah.
"Kamu kan yang waktu itu bernyanyi di pernikahan kak Bani " ucap seseorang tersebut merasa senang bisa bertemu kembali dengan si suara merdu tersebut. "Suara kamu bagus sekali, kenapa apa kamu seorang penyanyi ?" tanya seseorang tersebut.
Fariz merasa bingung karena ia bener - bener tak mengenal siapa wanita tersebut, bahkan di pernikahan kakaknya saja dia tak pernah bertemu dengan wanita tersebut.
__ADS_1
"Perkenalkan nama ku Rara" ucap wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Nama ku Fariz" jawab Fariz dan menyambut uluran tangan tersebut.
"Suatu kebetulan yah kita bisa bertemu di sini, kami sendirian ?.
"Iya aku sendirian" jawab Fariz.
"Bagaimana kalau kita makan bareng, kata orang - orang resto ini makanannya enak - enak loh, kamu sudah pernah nyoba makan di sini ?" ujar wanita yang mengaku namanya Rara.
Karena tak ada jawaban, Rara pun terpaksa menarik tangan Fariz agar mau ikut dengannya masuk ke dalam Resto, kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan, pelayan yang datang merasa bingung karena bos mereka sedang berada di meja pengunjung. saat ingin menyapa bosnya namun Fariz terlebih dahulu untuk memberi kode untuk diam pada pelayan tersebut.
"Kamu mau pesen apa ?" tanya Rara.
"Aku minum cappucino saja" jawab Fariz.
Rara memesan beberapa menu makanan, karena ia bener - bener penasaran dengan cita rasa makanan di resto tersebut.
"Coba deh ini, enak banget loh" Rara mencoba ingin menyuapi Fariz namun Fariz menolaknya secara halus.
"Kamu sering ke sini ?" tanya Rara di sela - sela makannya.
Rara pun menghabiskan makanannya, tiba - tiba ponsel Rara berdering. "Sebentar ya, aku angkat telepon dulu" ucap Rara, setelah selesai mengangkat telepon, Rara kembali.
"Maaf aku harus segera pergi" ucap Rara. "Boleh aku minta nomor ponselnya" Sambung Rara.
Entah kenapa Fariz langsung memberikan nomor ponselnya tanpa banyak tanya, Sebelum pergi Rara ingin membayar makanannya namun di larang oleh Fariz "Biar aku saja yang bayar" ucap Fariz.
"Terimakasih" ucap Rara senang.
Setelah Rara meninggalkan resto, Fariz pun kembali ke ruangannya, dan tanpa sengaja bertemu dengan Zidan.
"Cewek baru bos ?" tanya Zidan.
"Apaan Sih, orang baru kenal juga" ucap Fariz kesal karena di ledek oleh Zidan.
Zidan hanya bisa tertawa melihat ekspresi dari Fariz, "Bos kapan kita survei buat buka cabang ?" tanya Zidan.
"Nanti setelah aku membicarakan ini dengan kak Bani" jawan Fariz berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
"Apa kak Bani kenal dengan Rara ya, kan dia juga hadir di pernikahan kak Bani" ucap Fariz dalam hatinya.
...****...
Orang yang di tunggu telah datang, Bani mengajak Tama ke taman belakang, agar pembicaraan mereka agak santai dan tak terlihat kaku. Bani menceritakan apa yang terjadi selama ini antara dirinya dan Malik.
"Gue gak nyangka Malik akan senekad ini " ucap Tama seakan tak percaya.
"Gue juga bingung sama jalan pikiran dia" jawab Bani yang ikutan Bingung. "Dalam kasus pertama berapa lama dia di penjara ?" tanya Bani.
"Kalau menurut undang - undang negara kita, dia begai pengedar atau bandar dengan barang bukti yang begitu banyak bisa sampai hukuman mati atau penjara seumur hidup" jelas Tama.
"Hah ??" Bani kaget dengan penjelasan Tama. "Masa selama itu ?".
"Iya, banyak ko bandar yang sudah di eksekusi" jelas Tama, Bani bener - bener gak nyangka bahwa Malik akan menghadapi kasus sebesar ini, yang dalam pikirannya bagaimana nasib anak, istri dan juga orang tuanya.
"Kalau hukumannya segitu, lebih baik aku gak bikin laporan tentang dia" ucap Bani penuh keyakinan.
"Kenapa ?" tanya Tama heran.
"Aku kasian dengan keluarganya" ucap Bani lirih.
"Apa keluargamu setuju ?".
"Keluarga menyerahkan semuanya pada aku, Tapi aku bilang ke mereka aku akan membuat laporan jika hukuman kasus pertama terlalu ringan" jelas Bani.
"Kita tunggu hasil ke putusan sidang" ujar Tama.
"Aku ingin bertemu dengan Malik, apa kita bisa menenuinya ?" tanya Bani.
"Bisa tapi tidak hari ini, biasanya jam kunjungan di batasi hingga pukul lima sore. lebih baik besok saja" jawab Tama.
Setelah semua persoalan selesai, Tama pun izin pamit untuk pulang, Syifa pun menghampiri suaminya yang masih duduk di taman belakang, "Kenapa ko malah bengong ?" tegur Syifa.
"Menurut Tama, Malik akan mendapat hukuman mati atau kurungan penjara seumur hidup" jelas Bani.
"Astaghfirullah" ucap Syifa kaget. "Kita berdoa saja, semoga mereka mendapatkan hukuman yang lebih ringan" doa Syifa seraya menenangkan Bani.
Bani memang kesal akan kelakuan Malik, namun di hati kecilnya Bani menganggap Malik adalah sahabatnya, ia memaafkan Malik agar sadar bahwa tindakannya salah, namun kebagian Bani di salah artikan oleh Malik, sehingga ia tega membakar tempat usaha milik temenya, dari awal Bani sudah curiga namun ia tak ingin berburuk sangka terlebih dahulu, ketika tau pelakunya adalah Malik, Bani ingin memberi pelajaran yang akan membuat Malik sadar, namun saat mendengar hukuman yang akan Malik terima hati kecil Bani merasa Iba, bagaimana tidak jika Malik benar - benar mendapat hukuman mati atau seumur hidup di penjara, lalu bagaimana nasib istrinya, nasib Anaknya yang masih membutuhkan perhatian sosok pigur seorang ayah. hal itu lah membuat Bani bimbang dalam mengambil keputusan, tetap melaporkan atau jangan.
__ADS_1